Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 24 Mei 2011

Perayaan Nyepi di Jayapura Melasti, Tawur Agung dan Catur Brata Berjalan Khidmat

El. Musrini

Hari Raya Nyepi adalah salah satu Hari Raya Agama Hindu yang diperingati setiap satu tahun sekali, hari raya yang datangnya sasih melalui perhitungan Solar lunar sistem, yaitu sesuai peredaran bulan dan matahari setiap tanggal 1 bulan Waisaka. Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933 yang untuk tahun 2011 ini jatuh pada hari Sabtu, tanggal 5 Maret 2011. Dalam merayakan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1933 di Kota Jayapura khususnya dan Provinsi Papua umumnya diawali dengan berbagai kegiatan, baik sekala maupun niskala. Secara sekala umat Hindu membersihkan tempat ibadah serta peralatan peribadatan yang digunakan dalam persembahyangan dalam setiap saat, dan bila di rumah membersihkan rumah dan lain-lain. Namun membersihkan secara niskala dengan cara melasti, mekiyis atau melis. Pembersihan sekala maupun Pembersihan niskala tujuannya adalah agar dapat melaksanakan Perayaan Nyepi dengan hati yang bersih.

Tema hari Nyepi tahun Saka 1933 adalah ”Dengan Melaksanakan Catur Brata Nyepi Kita Wujudkan Kehidupan Yang Harmonis, Damai dan Sejahtera.” Tema tersebut tidak bisa lepas dari keadaan yang ada di wilayah kita, di mana kondisi bangsa kita saat ini di daerah tertentu terjadi ketidakharmonisan di antara pemeluk agama, ketidak percayaan dengan anggota kelompok yang lain, dan juga adanya bencana alam Merapi dan Bromo.

Dalam Perayaan Nyepi kali ini, hendaknya kita jadikan momentum agar kita selalu menjalin dan meningkatkan hubungan, yaitu pertama meningkatkan hubungan manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dengan meningkatkan sradha dan bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, meningkatkan hubungan antara manusia dengan manusia dengan menjaga dan meningkatkan hubungan yang harmonis, menjalin komunikasi yang baik dengan sesama kita. Ketiga, hubungan antara manusia dengan alam dengan tetap menjaga dan memelihara dan menjaga lingkungan alam disekitar kita dan dialam ini.

Kegiatan menyambut Hari Raya Nyepi tahun Saka 1933 di Kota Jayapura yang diputuskan oleh Panitia Hari-Hari Besar Agama Hindu Kota Jayapura yang diketuai oleh I Wayan Suka dan umat Hindu adalah, kegiatan donor darah yang dilaksanakan tanggal 20 Februari 2011 oleh umat Hindu Kota Jayapura dan menghasilkan 74 kantong darah yang disumbangkan pada PMI Jayapura. Selanjutnya, anjangsana dengan memberikan sumbangan (tali kasih) berupa perlengkapan mandi, gula dan mie instan di Panti Werdha di Sentani.

Pada Tanggal 4 Maret 2011 dilaksanakan melasti bertempat di Tanjung Ria Base G, Jayapura. Tujuan dari pada melasti adalah menghaturkan puja bhakti ke hadapan Sang Hyang Baruna dengan menghaturkan banten. Berikutnya, nunas dan mohon tirtha amrtha saking telenging samudra mohon Anugerah serta menyucikan bhuwana agung (Alam semesta) dan bhuwana alit (Badan manusia). Kekotoran dan kepapaan bhuwana Alit dilebur dengan menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan dengan memercikan tirta panglukatan dan tirta wangsuhpada. Sedangkan penyucian bhuwana agung diwujudkan dengan penyucian arca, pratima-pratima, nyasa atau pralingga sebagai sthana dari Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Kuasa.

Acara berikutnya, tanggal 4 Maret 2011, juga tepat pukul 12.00 WIT dilanjutkan dengan melaksanakan Tawur Agung Kesanga di Jaba Pura dan di Jaba Tengah Pura. Makna Tawur Agung adalah menyucikan dan menyeimbangkan alam semesta dengan menetralisir kekuatan-kekuatan alam dan mengembalikan apa-apa yang pernah diambil dari alam, dengan menghaturkan dan menaburkan bija dan tirtha tawur ke alam.

Kemudian dilanjutkan dengan Persembahyangan Piodalan Alit bersama, dan keesokan harinya, yaitu tanggal 5 Maret pukul 06.00 hingga tanggal 6 Maret 2011 pukul 06.00 melaksanakan Catur Brata Penyepian. Sudah kita ketahui bersama bahwasanya Hari Raya Nyepi adalah Hari Raya yang dirayakan tidak dengan suatu kemewahan, namun Hari Raya Nyepi dirayakan dengan suatu keadaan yang sepi dan sunyi, sebab dengan kesunyian itu, maka seseorang akan mencapai kesatuan atman dengan Paramaatman, jiwa pribadi akan bersatu dengan jiwa alam semesta.

Setelah perayaan Nyepi selanjutnya diadakan Dharmashanti pada tanggal 19 Maret 2011. Dalam Dharmashanti Hari Raya Nyepi tahun Baru Saka 1933 diisi Hikmah Nyepi oleh Pinandita Gusti Made Sunartha, S.Ag.MM. Dalam kesempatan Dharmashanti, Ketua PHDI Kota Jayapura, I Komang Alit Wardhana, SE.MM menyerahkan sumbangan kepada umat Hindu yang berada di Benyom Jaya Kabupaten Jayapura berupa beras, gula dan mie yang diterima oleh Ketua PHDI Kabupaten Jayapura, Bapak Rahmat.

Tema Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1933, mengajak kepada umat manusia khususnya umat Hindu hendaknya senantiasa menjaga kerukunan, baik kerukunan intern umat Hindu sendiri maupun kerukunan dengan Saudara yang lain, agar tercipta suasana yang damai. Kedamaian tersebut akan tercipta bila masing-masing menyadari akan dirinya. Manusia yang adalah merupakan makhluk yang paling sempurna di antara makhluk hidup yang lain yang dikaruniai wiweka, dapat berpikir dan dapat membedakan yang benar dan yang salah. Manusia dapat menentukan dirinya sendiri apa dan bagaima dalam hidup dan kehidupannya.

Dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian tanggal 5 Maret 2011 yang lalu diharapkan umat Hindu dapat instropeksi diri apa dan bagaimana dalam hidup dan kehidupanditahun lalu, yaitu dalam tahun Saka 1932. Kalau di tahun Saka 1932 yang lalu telah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan dharma di tahun 1933 Saka ini kita perbaiki diri kita dengan bekerja di jalan dharma, dengan lebih meningkatkan sradha dan bhakti kita.

Dengan dharma, manusia dapat mencapai kebahagiaan sejati, sebab dharma adalah penuntun umat manusia, dharma adalah penyangga alam ini , dan dengan dharma akan dapat melebur dosa dan nestapa. Manfaatkan kesempatan menjadi manusia dengan berjalan diatas dharma, dan jangan disia-siakan kesempatan lahir menjadi manusia ini sebab ini sangat sulit dicapai, laksana meniti tangga menuju sorga, hidup ini hanya sebentar, tidak berbeda dengan kilatnya petir. Gunakan hidup melakukan dharma sadhana, memusnahkan penderitaan , sorga pahalanya, demikian sloka yang tertulis dalam kitab Sarasamuscaya.

Pelaksanaan Catur Brata Penyepian tersebut tujuan utamanya adalah untuk menyepikan keinginan yang sifatnya material, dan berupaya untuk meningkatkan spiritual dengan jalan bhakti ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Catur Brata Penyepian tersebut dengan berupaya untuk meningkatkan kesadaran diri bahwa, sang diri yang terdiri dari badan jasmani dan Atma.

Karena ada sebagian kecil Percikan Tuhan dalam diri ini, maka hendaknya manusia senantiasa tetap menjaga kesucian dalam hidup. Atman yang ada didalam diri manusia yang individual dapat diibaratkan sebagai penumpang kereta, kereta dimaksud adalah badan jasmani, dan kecerdasan adalah kusirnya, pikiran adalah alat (tali kemudi) untuk mengemudikan, indra-indra adalah kuda. Seperti itulah Sang Roh menikmati atau menderita berhubungan dengan pikiran dan indera-indera. Atma/Roh yang digelapkan oleh maya dengan sifat-sifat alamnya yang disebut Triguna, yaitu satwam, rajas dan tamas.

Triguna terdapat pada setiap diri manusia hanya saja dalam intensitas yang berbeda. Dalam kitab Tattwajanan sloka 7, 8, dan 9 dikatakan, bila satwam yang dominan dalam diri manusia, maka sifat kedewataan yang ada, ia akan menjadi orang yang bijaksana, tahu akan apa yang disebut patut dan apa yang disebut tidak patut. Seperti, tahu caranya bertingkah laku, meskipun ia bertenaga, tiadalah ia kasar, tidak berkata asal berkata, bersikap hormat, kelihatan lurus hati. Ia menaruh kasih sayang kepada yang menderita, menghibur orang yang hina dina, jarang bersedih hati, setia dan bhakti, lembut kata-katanya, luhur budinya, tidak serakah, manis wajahnya, dengan penuh kasih sayang pada sesama, menghindari permusuhan dan hal-hal yang baik yang melingkupi hidupnya.

Dan bila sifat rajas yang dominan, maka hidupnya cenderung mengikuti keinginan yang sifatnya negatif. Suka memfitnah, suka iri pada orang lain pikirannya bergerak cepat, goncang, tergesa-gesa, panas hati, congkak, cepat tersinggung. Bersifat keras, usil, cepat timbul kekerasannya, kurang menaruh kasih sayang, sering mengagungkan diri pandai, angkuh amat pemarah, egois, loba, tamak, suka membuat jengkel hati orang lain dan memiliki cita-cita yang tinggi.

Sedangkan bila dalam diri manusia sifat tamas yang dominan, maka manusia tersebut pemalas, bodoh dan acuh takacuh terhadap lingkungan sekitar. Tak puas-puasnya makan, bersifat dingin, mengantuk, kuat tidur, amat iri hati, berkeinginan keras dan masih banyak yang tidak terpuji yang suka dilakukannya.

Dan dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian kita berusaha untuk menyemayamkan sifat satwam dalam diri kita, agar pikiran senantiasa mengarah ke-kedewataan, senantiasa bhakti terhadap Sang Hyang Widhi Wasa. Akan tetapi karena manusia telah ditutupi oleh maya yang menyebabkan ia selalu berpikir dalam prinsip ”aku” dan ”milikku” (keakuan), maka manusia selalu mengalami penderitaan, kesedihan bila dalam hidupnya menemui hal-hal yang tidak disenangi. Namun sebaliknya kalau menemui hal yang menyenangkan maka dia akan merasa bahagia. Hal ini terjadi silih berganti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar