Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 05 April 2011

Siap Kerahkan Personel untuk Wujudkan Pura Jagadnatha sebagai Kawasan Hijau dan Seni

Laporan Niwayan Pariatni

Sebagai wujud rasa syukur atas telah dilaluinya perayaan Nyepi tahun Baru Saka 1933 dengan lancar dan aman, Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Kapolda Sulteng), Brigjen Pol. Drs. Dewa Parsana, M.Si menggelar open house bagi seluruh lapisan masyarakat di rumah dinasnya di Jalan Suprapto, kawasan Bumi Sagu. Acara ini diselenggarakan pada Senin, 7 Maret 2011, di mana sejak pukul 10 pagi tamu mulai berdatangan, baik masyarakat umum, unsur pemerintah daerah, para pewarta, baik media cetak maupun elektronik. Juga hadir masyarakat dan banyak tamu lainnya turut mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1933.

Keluarga besar Polda Sulteng datang secara bergantian per unit satuan kerja diantar jemput dengan menggunakan kendaraan Bus Polda Sulteng. Di ruang terbuka dengan dekorasi bernuansa khas Bali, para tamu disuguhi aneka hidangan dan alunan musik Bali sesekali diperdengarkan, sehingga menambah suasana kekeluargaan. Dengan senyum ramah, Dewa Parsana didampingi anak-anak dan istri tercinta, Kompol Nyoman Hendriati Parsana menyempatkan diri menyapa dan menemani tamu yang hadir. Bahkan secara khusus ia berbincang-bincang santai bersama Raditya.

Parsana yang belum lama dilantik sebagai Kapolda dari jabatan sebelumnya sebagai Wakapolda Sulteng, hari itu didampingi oleh Wakapolda Sulteng. Pada kesempatan tersebut ia berucap, bahwa sebentar lagi rakyat Sulteng akan menjalani pesta demokrasi, yaitu Pemilukada untuk memilih pasangan gubernur dan wakil gubernur periode 2011-2016. “Kami berharap dalam perhelatan besar tersebut seluruh lapisan masyarakat bisa menahan diri dan turut menciptakan kondisi yang kodusif, sehingga memberi rasa aman dan nyaman terhadap masyarakat. Atas dasar itu juga, acara open house ini kami kondisikan agar para kandidat yang akan bertarung 6 April 2011 mendatang bisa duduk bersama di tempat ini,” sebutnya pada kata sambutan pembuka open house itu.

Ternyata benar, hari itu semua kandidat berkenan datang dalam suasana santai, bahkan ada yang turut bernyanyi menyumbangkan suara indahnya diiringi alunan musik. “Kebersamaan seperti inilah kami nantikan dan atas dukungan segenap potensi rakyat, aparat keamanan dan pemerintah kita dapat mewujudkan Pemilukada damai, “ tegas Dewa Parsana.

Dalam open house kali ini umat Hindu diundang khusus pada sore hari dengan pertimbangan waktu untuk masimakrama lebih panjang dan lebih santai. “Kami sengaja meminta kesediaan tokoh-tokoh umat, pemuda dan mahasiswa untuk duduk bersama berdiskusi masalah keumatan mengingat hampir satu tahun bertugas dan cukup sering bertatap muka dengan umat, tetapi belum pernah ada waktu secara khusus di mana tokoh umat diundang untuk membicarakan masalah serius tentang keumatan,” paparnya. Singkatnya, belum ada komunikasi yang efektif antara tokoh umat dengan dirinya, sehingga kontribusinya terhadap umat juga belum maksimal. Namun demikian, kata Parsana lagi, kita masih memiliki kesempatan dan melalui kesempatan itu para tokoh umat, pemuda dan elemen umat lainnya diajak untuk bersama-sama memikirkan skala prioritas apa yang harus dilakukan.

Dalam simakrama tersebut kembali disebutkan, bahwa dirinya telah berkali-kali diundang oleh Pemerintah Daerah untuk mempresentasikan master plan tata ruang kota Palu, khususnya. Konsep yang ditawarkan kepada Pemda mendapat sambutan baik, di antaranya pengembangan pariwisata bernuansa religius, konsep pengamanan terpadu mengadopsi model pengamanan tradisionil di Bali yang di Sulawesi Tengah diterjemahkan dengan program kembali ke desa/kelurahan.

Inilah kesempatan baik yang harus umat Hindu ambil dalam waktu sesegera mungkin, setidaknya bisa mulai dari lingkungan pura dan akses jalan menuju pura dari dua arah, yakni sepanjang Jalan Jabalnur di depan kampus Universitas Muhamaddiyah dan arah bundaran STQ, perlu penanganan tenaga terampil. Kapolda mengisyaratkan agar panitia kecil yang telah dibentuk bergerak cepat rumuskan dan sosialisasikan kepada umat, inventarisir segala kebutuhan sehingga bisa dipikirkan segala kebutuhan materialnya untuk mewujudkan Pura Jagadnatha sebagai kawasan hijau indah dan seni. “Satu hal yang perlu digaris bawahi, jangan pernah ada yang beranggapan ada proyek bernilai rupiah di sini. Semuanya akan dikerjakan secara ngayah alias proyek keikhlasan sebagai investasi menuju kebahagiaan tertinggi. Bahkan jika banjar yang dikerahkan tenaganya belum mencukupi, kami siap menerjunkan anggota kepolisian untuk membantu,” janji Parsana.

Suasana ruang masimakrama berubah menjadi acara rapat terbatas meski harus membagi waktu dengan tamu lainnya, hingga sore hari, Dewa Parsana senantiasa meluangkan waktunya memberi arahan kepada peserta diskusi. Sayangnya dari banyak tokoh umat di kota Palu yang diundang untuk membahas hal yang sangat penting, namun hanya sedikit yang bisa datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar