Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 16 Maret 2011

Melasti dan Mencari Berkah Laut

Setahun sekali, umat Hindu di Bali dan sejumlah daerah lain di Indonesia mengadakan upacara melasti. Upacara pergi ke tepi air (laut, danau, sumber mata air lain) untuk menghanyutkan kekotoran batin dan mengambil amrtha, yaitu inspirasi baru untuk menghadapi hidup ke depan.
Apakah makna melasti sedangkal itu, sementara dalamnya samudra yang dikunjungi saban tahun dalam ajang ritual itu sungguh tak terkira? Meskipun dalam budaya Bali sangat akrab dengan konsep sekala-niskala di dalam memahami sesuatu, tetapi dalam rutinitas tahunan yang diperagakan dalam ritual melasti nampaknya bolehlah kita katakan, kalau peristiwa itu masih hanya diapresiasi sebatas pemaknaan niskala saja. Lalu apakah pesan sekala dari ritual itu, apakah umat Hindu alpa akan prinsip keseimbangan sekala-niskala ini?

Dalam lontar Sundarigama dan Swamandala disebutkan, “.........melasti ngarania ngiring prewatek dewata anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana, amet sarining amertha ring telenging segara.” Artinya: “............melasti adalah membawa semua pratima dewata untuk menghanyutkan kekotoran, penderitaan, dan unsur-unsur dunia yang tidak baik serta mengambil tirta amrta di tengah laut.

Dalam petikan lontar tersebut jelas-jelas disebutkan “mengambil amrtha di tengah laut” yang tentunya bermakna, dalam prosesi melasti ini ada amanat sekala (perintah nyata-empiris duniawi), supaya umat Hindu mengakrabi lautan. Amrtha di tengah laut itu berarti sumber penghidupan yang terkandung di dalamnya dan umat Hindu dimotivasi untuk menumbuhkan kemampuan untuk memiliki kemampuan membawa amrtha itu kembali ke rumah masing-masing. Jika amrtha secara niskala itu adalah disimbolikkan dalam wujud tirtha, maka amrtha dalam makna sekala tentulah berbagai hasil laut, seperti ikan, mutiara, rumput laut, dan lain-lain yang bisa dimanfaatkan sebagai penopang hidup.

Bali adalah pulau kecil, jadi sungguh mengherankan juga jika penduduknya secara tradisional berebut di sektor agraris dan kurang memaksimalkan lautan sebagai lahan yang bisa diolah untuk kesejahteraan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan daerah Sulawesi misalnya, di mana daratannya luas, hutannya melimpah (dulu) tetapi secara tradisi justru masyarakatnya lebih mengandalkan lautan sebagai penopang kehidupannya. Sebutlah suku Bugis yang terkenal sebagai pelaut dan pembuat kapal kayu. Kebudayaan maritim mereka jauh lebih maju daripada kebudayaan agrarisnya. Dengan demikian, Bali dan Sulawesi adalah sama-sama menunjukkan keunikan, yang pulaunya besar malahan meninggalkan pulaunya untuk pergi ke laut, sementara Bali yang wilayahnya kecil justru berjubel di daratan dan membiarkan sumberdaya lautnya tak tergarap.

Apakah Bali tidak memiliki budaya bahari sama sekali? Memang di sejumlah pantai di Bali secara turun-temurun ada kantong-kantong nelayan tradisional, seperti di Kusamba, Kedonganan, Seseh, Kuta (dulu), Serangan, dan tempat-tempat lain di Bali. Beberapa penduduk juga menjadi peladang garam seperti di daerah Suwung Denpasar, namun keberadaannya sungguh-sungguh marginal.
Pada era belakangan budidaya rumput laut sempat menjadi primadona di kawasan Nusa Lembongan dan tempat lain, demikian juga tambak ikan bandeng mulai diminati di daerah Jembrana. Tapi semua itu rupanya masih jauh kurang menggiurkan dibandingkan pesona pariwisata yang dianggap lebih cepat menghasilkan uang yang banyak, meskipun ekses dari industri pariwisata besar-besaran dan menggila itu membuat lautan malah tercemari.

Pada zaman Sri Watur Enggong menjadi raja di Gelgel, kerajaannya memiliki armada laut bernama Dulang Mangap yang salah satunya berlayar menuju Blambangan untuk menaklukkan negeri itu. Ini artinya, soal kemampuan melaut orang-orang Bali memiliki kemampuan untuk itu, tetapi mungkin kemudian yang tidak mentradisi adalah budaya teknologi kelautan yang tidak berkembang, sehingga penghasilan nelayan tidak kunjung meningkat yang menyebabkan sektor ini akhirnya menjadi pilihan terakhir.

Di jaman dulu di Bali, orang mengagung-agungkan Tabanan sebagai daerah subur yang menghasilkan padi melimpah, bahkan hingga kini pun masih saja ada orang yang terjebak mitos itu. Kenyataannya tidak ada orang yang mengagung-agungkan daerah Kusamba misalnya, sebagai tempat panen ikan laut yang melimpah, sehingga nelayannya kaya-kaya. Tak ada cerita seperti itu di masa lampau hingga masa sekarang. Ini semua pertanda tidak adanya kemampuan dari orang-orang Bali menikmati kekayaan hasil lautnya, karena terkendala oleh berbagai hal. Berbeda dengan Jepang misalnya yang penduduknya bangga menjadi nelayan, karena teknologi yang mereka pelajari dan kembangkan memungkinkannya untuk mengeksplorasi hasil lautnya untuk kesejahteraan hidup mereka di daratan.

Narasi di atas sekadar untuk menunjukkan, bahwa butuh perjuangan keras (Karma Yoga) di dalam kehidupan beragama, supaya konsep-konsep keagamaan, seperti melasti, sekala-niskala, tirtha amrtha, pemuteran Mandara Giri dan lain-lain akhirnya memiliki korelasi dengan kehidupan empiris (duniawi). Jika agama melulu dimaknai dari sisi mitis-mitologis, maka semua aksi dan reaksi ritual akan menjadi pertunjukan monoton sekadar menjadi dekorasi sebuah zaman, dan manakala zaman telah berubah sungguh dekorasi tersebut akhirnya kelihatan tampil lucu dan asing bagi zamannya.

Semangat pemaknaan aktifitas keagamaan ke ranah empiris praktis ini perlu diketengahkan di tengah pesatnya pertumbuhan penduduk yang menuntut pertambahan sumber makanan. Agama tidaklah bisa dijadikan sarana untuk sekadar melamunkan hal-hal normatif tanpa memiliki akarnya di bumi. Jika cara beragama seperti ini terus digalakkan, maka akan terulanglah tragedi Rsi Drona, seorang Rsi dengan kaliber pengetahuan keagamaan, tetapi sekadar untuk membelikan Aswatama kecil susu saja tidak sanggup, sehingga untuk sekadar gengsi supaya para tetangganya mengira Aswatama kecil sudah minum susu, maka ibunya mengolesi bibir anaknya dengan air beras. Pun, karena ketidakberadayaan ekonomi brahmana hebat ini, trauma kemiskinan membuatnya memutuskan untuk memerintahkan Pandawa menyerang Drupada sebagai guru daksina dari Pandawa. Begitulah kisah bercerita, Raja Drupada kalah dan setengah kerajaannya menjadi hak Rsi Drona, dan menjadilah ia Rsi kaya raya seketika.

Berbeda dengan Rsi Wasistha yang memelihara lembu Kamadhuk. Lembu Kamadhuk dapat menyediakan apa saja yang diminta tuannya. Ibarat zaman sekarang, Rsi Wasistha memiliki rekening tak terbatas (non limited). Dengan lembu Kamadhuk inilah Rsi Wasistha dapat melakukan berbagai kebaikan, membantu umat, dan kepentingan duniawi lainnya. Demikianlah idealnya, ahli agama harus dapat memberdayakan dirinya supaya bermanfaat bagi dunia. Hal yang sama berlaku bagi penganut Hindu, ajaran-ajaran keagamaan idealnya tidak berhenti pada tataran mitis-mitologis, tetapi harus mampu menunjukkan korelasinya pada tataran praktis.

Melasti memberikan umat Hindu pesan, terutama Bali sebagai pulau kecil yang minim sumberdaya sepatutnya semakin menambah sumber-sumber penghidupan bagi penduduknya. Meskipun industri pariwisata di masa kini dapat dijadikan banyak tumpuan masyarakat, tetapi tak ada jaminan industri ini akan bertahan selamanya atau setidak-tidaknya tentu sangat berat, jika sektor itu harus menanggung beban Bali yang penduduknya terus bertambah. Untuk itu, Bali perlu mengembangkan kebijakan yang terukur untuk mulai menggarap potensi lautnya dengan serius bukan sekadar menjadikannya sektor pelengkap (penderita) seperti selama ini berlaku.

N. Putrawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar