Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Hp/WA 0819 9937 1441. Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni. Terbit bulanan. Eceran di Bali Rp 20.000,- Pelanggan Pos di Bali Rp 22.000,- Pelanggan Pos di Luar Bali Rp 26.000,- Tersedia versi PDF Rp 15.000/edisi WA ke 0819 3180 0228

Rabu, 14 April 2010

Ratusan Warga Hadiri Pagendu Wirasa Ida Bhujangga Rsi di Geriya Sangsit

Laporan Arjana

Gendu Wirasa Ida Bhujangga Rsi berawal dari kesepakatan dalam pertemuan di Bedugul yang dilangsungkan pada 11 dan 12 Maret 2006, yang waktu itu dihadiri oleh dua belas Ida Bhujangga Rsi dan keluarga Bhujangga Waisnawa Batan Getas.
Dalam pertemuan itu disadari adanya kebutuhan untuk mengadakan pertemuan secara teratur di antara Ida Bhujangga Rsi untuk mempererat hubungan kekeluargaan, temu wirasa, diskusi masalah yang dihadapi dan memberikan pencerahan.

Atas dasar tujuan itu, diputuskan waktu yang baik adalah di hari raya Saraswati, sebagai hari pengetahuan dan tempat megendu wirasa ketika itu direncanakan diadakan secara bergilir. Pemilihan tempat atas permintaan atau kesepakatan di antara Ida Bhujangga Rsi.

Grya yang telah pernah menjadi tempat megendu wirasa ini, yaitu, Grya Mas-Tumbakbayuh, Grya Batur Bhujangga Waisnawa-Tegalcangkring, Grya Sindhu Manik Mas-Kramas, Grya Anyar Sari-Sembung, Grya Taman Sunia- Karang Suwung dan bulan Februari ini dialngsungkan di Grya Sangsit, Buleleng.

Gendu Wirasa di Grya Sangsit, Kecamatan Sangsit, Buleleng, dilangsungkan pada 28 Februari 2010. Ida Bhujangga Istri Kertiyasa bertindak selaku tuan rumah dan dihadiri oleh sepuluh Ida Bhujangga Rsi: Ida Rsi Hari Dantam, Istri Buana Swari, Rsi Waisnawa Kemenuh, Ida Rsi Istri Wangining, Ida Rsi Istri Gandawati, Ida Rsi Istri Putri Laksmi, Ida Rsi Esti Guru, Ida Rsi Dwija Santa, Ida Rsi Dwija Santi, Ida Rsi Adi Guru. Selebihnya hadir pula (angga grya) keluarga grya dan walaka dari Buleleng sendiri, dan Batan Getas.

Seperti diketahui dalam setiap kesempatan, Ida Bhujangga Rsi bersama walaka selalu meluangkan waktu untuk diskusi. Pada waktu ada upacara potong gigi di Grya Taman Wangining, Temukus, 21 September 2009, terjadi diskusi menyangkut angga grya, agar tidak putung. Pembahasan ini berlangsung beberapa kali antara lain dalam kesempatan dharma yatra ke Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis, Gunung Wilis, Nganjuk, pada 25 Oktober 2009 lalu. Pembicaraa serupa juga dilakukan saat pertemuan di Grya Batur Sari, Batan Buah, Kesiman, pada 29 Oktober 2009, juga di Grya Anyar Sari, Sembung, pada 6 Desember 2009 dan terakhir, di rumah Guru Made Pugeg, Jl. Arjuna No. 14, Denpasar, pada 20 Februari 2010.

Sebagai hasil dari pembicaraan itu dicapai kesepakatan, yaitu, pertama, angga grya membentuk wadah “Suka_Duka Angga Grya.” Kedua, angga grya belajar untuk meneruskan jejak Ida Bhujangga Rsi. Ketiga, menempatkan sebelas Ida Bhujangga Rsi sebagai Guru Waktra. Keempat, pengangkatan dilaksanakan pada setiap acara Gendu Wirasa, yaitu saat hari Saraswati.

Sisya yang disiapkan untuk di-diksa pada kesempatari ini, yaitu, Guru I Nyoman Putra, Guru Agus Sari, Guru Gede Putra Suwetra, Guru Gede Putu Wirawan, Guru Nyoman Sunarya, Guru Gede Oka Adnyana, Guru Bagus Sandi, bersama dengan istri masing masing.
Dengan adanya rencana ini, maka acara Gendu Wirasa berubah menjadi: Temu Wirasa Ida Bhujangga Rsi, Pembukaan, Sembahyang bersama, Pelantikan sisya calon sulinggih, Istirahat, Wejangan Guru Waktra. Kemudian dilanjutkan dengan dharma wacana, diskusi, dan penutup. Mendahului acara tersebut, sisya calon sulinggih melaksanakan persembahyangan yang dipimpin oleh Ida Bhujangga Rsi Waisnawa Kemenuh.

Dalam acara Dharma Wacana, Ida Bhujangga Rsi memberikannya secara bergiliran. Ida Bhujangga Rsi Istri Kertiyasa selaku tuan rumah menekankan pentingnya makna dari merayakan Saraswati. Jangan mengabaikan pengetahuan kalau ingin maju serta bangkit dari keterpurukkan indria dan dapat menjadi manusia yang berbudi. Dan yang lain dengan penekanan keluarga Bhujangga Waisnawa sebagai penganut Wisnu hendaknya memelihara dengan lebih arif alam semesta, di mana sekarang ini disadari perubahan cuaca berkaitan dengan ulah manusia sendiri. Hal ini telah disadari oleh pemerintah kita sendiri maupun dunia, dan salah satu di antaranya adalah menerapkan “car free day” di kota kota besar.

Gendu Wirasa ini dirasakan sangat bermanfaat oleh keluarga, menambah wawasan, mempererat tali kekeluargaan. Pada kesempatan ini dihadiri cukup banyak keluarga. Sekitar 200 orang dari Sangsit, Temukus, Batan Getas, Kramas, Batan Buah, Tumbakbayuh, Bheda, Karang Suwung dan Sembung memadati Grya Sangsit hari itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar