Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 14 April 2010

Nyepi di Desa Kembang Mertha, Sulawesi Utara

Laporan I Dewa Ayu Made Indrayani

Perayaan Nyepi di Desa Kembang Mertha, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara kali ini terasa berbeda dari sebelumnya.
Ini dikarenakan oleh antusiasme dari para siswa-siswi SMA Budi Luhur yang didirikan sejak 2 tahun yang lalu, yang mengusulkan kepada Ketua PHDI Kembang Mertha untuk membuat suatu kegiatan seni. Hal inilah yang menjadi nuansa baru dalam rangka memeriahkan hari raya Nyepi tahun saka 1932. Selain itu, pagelaran seni juga bertujuan untuk membangkitkan dan melestarikan budaya Hindu yang merupakan warisan dari nenek moyang kita.

Kegiatan ini dipelopori oleh siswa-siswi SMA Budi luhur Kembang Mertha sebagai panitia pelaksana, dengan I Wayan Sucipto sebagai Ketua Panitia dan PHDI sebagai fasilitatornya. Kegiatan ini berlangsung dari 12 Maret hingga 17 Maret 2010. Adapun kegiatan yang di lakukan dalam rengaka nyejer Ida Bhatara, yaitu, pada 12 Maret dilaksanakan lomba darma wacana untuk tingkat SD hingga Remaja. Ada pun jumlah pesertanya 12 orang. Selanjutnya pada tanggal 13 Maret dilaksanakan lomba puisi keagaman dengan jumlah peserta 11 orang. Berikutnya, pada 14 Maret dilaksanakan Lomba Tari Panyembrahme tingkat SD dan Remaja, selain itu juga di isi dengan atraksi yoga, tari panji semerang, joged gila, topeng dan lawak.

Dengan kebaya dan kamben yang membalut tubuh para penari (anak-anak SMA Budi Luhur) mereka terlihat sangat cantik nan anggun, meski mereka tidak menggunakan pakaian menari yang semestinya digunakan, seperti halnya peserta lain. Dan walaupun mereka merasa minder, tapi dengan tekad yang kuat dan semangat yang membara mereka terus maju melangkah untuk pentas dan menghibur seluruh umat Hindu yang menyaksikan penampilan mereka. Karena, bagi mereka yang terpenting adalah melestarikan budaya Hindu yang selama ini hampir saja pudar dan mereka yakin suatu hari nanti mereka pasti akan memiliki pakaian menari yang semestinya. “Sungguh jiwa yang mulia.”
Begitu sorak sorai umat Hindu dalam menyaksikan alotnya perjalanan lomba dengan wajah yang berseri-seri. Hal ini membuktikan, bahwa dengan seni budaya mampu membuat hati yang gundah menjadi tenang tanpa beban. Bahkan salah satu umat ada yang mengatakan, “Yening sai-sai ade pagelaran seni, jeg liang hatine sebilang wai.”

Rangkaian Hari Raya Nyepi

Tujuan utama hari raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Hyang Widhi Wasa untuk menyucikan buana alit dan buana agung serta untuk introspeksi diri bagi umat Hindu.
Sebelum menjelang hari raya Nyepi, terdapat rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di Kembang Mertha. Salah satunya adalah melasti yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 Maret 2010. Umat Hindu setempat melakukan penyucian buana agung dan buana alit dengan melaksanakan upacara melasti di Pura Giri Amertha (Pura Tirta) yang letaknya sekitar 3 kilometer dari desa. Semua sarana dan prasarana persembahyangan diarak ke Pura Giri Amertha untuk disucikan. Walupun perjalanan menuju pura lumayan jauh, tapi dengan semangat yang membara umat Hindu terus menempuh perjalanan untuk ngiring Ida Bhatara.

Upacara Bhuta Yadnya

Kegiatan lain yang digelar sehari sebelum Nyepi adalah, yaitu pada tilem sasih Kasange umat Hindu melaksanakan upacara mecaru di perempatan agung, masing -masing banjar, pura dadia dan lain sebagainya. Mecaru diikuti oleh upacara ngerupuk, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobor-obori sekitar rumah dan seluruh pekarangan, menyembur rumah dan pekarangan dengan jangu, serta memukul benda-benda (kentongan), sehingga terdengar suara gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir para bhuta kala dari lingkungan rumah dan pekarangan.

Pada sore harinya diadakan pawai ogoh-ogoh, yang diikuti oleh seluruh banjar dan juga oleh anak-anak ogoh-ogoh, di mana SMA Budi Luhur selaku pengusul. Sebelum mengelilingi kampung seluruh ogoh-ogoh diperciki tirta dan setelah itu masing-masing ogoh-ogoh diberikan kesempatan untuk beratraksi selama tiga menit mengelilingi perempatan agung. Setelah itu barulah ogoh-ogoh diarak mengelilingi kampung dengan tujuan mengusir bhuta kala dari kampong, supaya pada saat Nyepi tiba tidak ada hal-hal negatif yang terjadi. Selesai mengelilingi kampong, ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol untuk memusnahkan seluruh kejahatan yang ada di muka bumi.

Puncak Acara Nyepi

Pada tanggal 16 Maret 2010 tibalah puncak dari hari raya Nyepi. Pada hari ini suasana seperti mati tanpa aktifitas apa pun dan umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian, yang terdiri dari: amati geni (tidak menyalakan api/lampu), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak mendengar hiburan), yang ada hanyalah introspeksi diri untuk membuka suatu lembaran baru yang putih bersih tanpa noda dan didasarkan pada dharma. Sehingga dalam mengawali tahun baru saka 1932 dilandasi pada kesucian lahir dan batin. Sang wruhing tatwajnana (tiap orang berilmu), mengekang hawa nafsu, menghubungkan jiwa dengan paramatman, tapa (latihan ketahanan), dan smadhi (merenenung kepada Hyang Widhi. Semua itu dilakukan oleh umat Hindu untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun baru saka dan dengan jiwa yang baru nan suci senantiasa berada di jalan dharma (kebenaran).

Upacara Ngembak Geni

Rangkaian terakhir dari hari raya Nyepi adalah Ngembak Geni yang jatuh pada tanggal kedua sasih Kadasa. Pada hari ini dilaksanakan persembahyangan di Pura Puseh Kembang Mertha dan sekaligus juga pengumuman pemenang lomba dharma wacana, puisi keagamaan dan tari panyembrama dan penyerahan hadiah untuk para pemenang. Yang menjadi pemenang adalah anak-anak terbaik dari yang terbaik. Tapi yang terpenting bagi mereka bukanlah menang ataupun kalah melainkan bagaimana apresiasi mereka dalam memaknai suatu hari raya dengan mengikuti lomba seni budaya Hindu dengan tujuan melestarikan budaya Hindu agar tidak punah. Meski Desa kembang Mertha jauh dari Pulau Bali tapi budaya akan selalu melekat pada masyarakat Kembang Mertha.

Dalam sambutannya Ketua PHDI mengutarakan mottonya, yaitu, “Sepi ing pamrih rame ing pengabdian." Yang artinya: jangan mengharapkan imbalan tapi perbanyaklah mengabdi, sedikit bicara tapi banyak bekerja." Dan Ketua PHDI, I Dewa Rai Sastrawan menjelaskan latar belakang dari kegiatan seni adalah untuk mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan. Selain itu juga untuk mengantisipasi tekanan dari daerah ini yang dari tahun ke tahun tidak menutup kemungkinan dampaknya dapat mengusir nilai-nilai seni dan budaya Hindu yang adi luhur. Karena itulah ajang ini bertujuan untuk menggali, memelihara dan melestarikan kesenian Hindu yang merupakan warisan dari leluhur. Selain untuk menyalurkan minat dan bakat seni para generasi muda secara berkesinambungan dan bisa tampil untuk menghibur masyarakat pencinta dan penikmat kesenian, khususnya di bidang pariwisata. Sehingga ini tentunya menjadi motivasi bagi masyarakat Hindu yang ada di Desa Kembang Mertha untuk selalu ikhlas dalam bekerja dan senantiasa bersama-sama melestarikan budaya Hindu.

Ketua PHDI juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada siswa-siswi SMA Budi Luhur yang telah mengusulkan kegiatan pentas seni.

Berikut kutipan puisi yang menjadi pemenang dalam lomba puisi keagamaan tingkat remaja putri yang dibawakan oleh NiLuh Sukriani, siswi kelas XI SMA Budi Luhur Kembang Mertha.

Sekuncup Bunga Teratai Bunga Ilmu yang Suci

Di saat fajar menyingsing, diselimuti embun pagi
Langit yang biru dengan awan putih dihiasi sinar sang mentari
Suara burung berkicau seakan menghibur seisi alam ini
Dan saat itulah ilmu pengetahuan diturunkan dari sang Dewi yang amat cantik
nan bijaksana.

Lewat para guru yang berhati mulia
Ilmu pengetahuan yang suci diberikan kepada para siswanya
Yang ingin merasakan indahnya ilmu pengetahuan l
Lewat kata-katanya yang lembut
Serta langkah yang bijaksana
Membuat hati tersentuh
Dengan sikap yang tegas dan penuh kasih sayang
Membawa kami ke masa depan yang cemerlang dan hidup yang abadi Ilmuku yang aku sucikan
Engkau seperti mekarnya kuncup bunga teratai
Yang wanginya kian semerbak
Ketika terbukanya setiap kelopak bungamu secara periahan-lahan dan pasti Hingga ia mekar dengan sempurnanya nan indahnya
Dengan bunganya yang wangi
Rasanya yang manis dan bentuknya yang indah
Membuat semua kumbang ingin mengisap madunya Demikian juga setiap insan ciptaan yang kuasa
Yan ingin memiliki dan menuntut ilmu tanpa ada hentinya Bagaikan air yang mengalir benih dan bersih
Tanpa ada batasannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar