Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 14 April 2010

Bali Pulau Sorga bagi Pendatang

Wayan Miasa

Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat Bali, bahwa mereka ini tinggal di pulau sorga.
Anggapan itu mungkin benar saat pulau ini penduduknya masih homogen. Seiring perkembangan zaman, maka percampuran atau pembauran penduduk tak bisa dihindari. Menengok ke sejarah masa silam, memang Bali memiliki daya tarik tersendiri dalam segala hal. Seperti pada zaman Majapahit, mahapatih Gajah Mada terus berusaha untuk menaklukkan Bali dan patih Bedahulu, Kebo Iwa yang perkasa ditaklukkan dengan siasat tersendiri, di mana kejadian seperti itu masih berlangsung sampai saat ini.
Pengalaman masa lalu itu sebenarnya terus terulang dari masa ke masa, baik dalam politik, kebudayaan, tradisi dan lainnya. Bahkan sampai saat ini pun dalam dunia politik, kita masih memilih pemimpin dedngan terlebih dahulu meminta restu dari “bos” yang tinggal di tanah Jawa (Jakarta-red). Hal ini mungkin terjadi, karena faktor sejarah masa lalu.

Disadari atau tidak, bahwa sebagian dari warga Hindu Bali memang berasal dari Jawa. Mereka datang ke Bali dan menetap di Bali dengan mempertahankan agama Hindunya, dan selanjutnya mereka kita beri cap sebagai orang Bali. Kenyataannya akan berbeda bila orang tersebut datang ke Bali dengan kepercayaan berbeda, maka kita akan tetap menyebut suku asal mereka itu. Hal ini bisa dilihat di Pulau Serangan, di Cupel (Negara), Kecicang (Karangasem), Pegayaman (Buleleng), dan lain-lain. Walau mereka itu sudah tinggal di Bali begitu lama, bahkan dari beberapa generasi, tapi kita tetap menyebut mereka dengan suku asalnya. Pertanyaan akan muncul bilamana ada warga kita yang dulunya Hindu, tetapi sekarang sudah pindah agama, tapi mereka tetap mempertahankan adat kebiasaan masa lalunya dalam kehidupan beragamanya.
Hal ini bisa kita lihat di Abianbase daerah Kapal, Badung dan di Palasari, Jembrana. Mereka adalah orang Bali yang sudah beralih kepercayaan, tetapi mereka tetap memenjor, membuat gebogan saat ada perayaan hari besar keagamaannya, tetapi kita tetap menyebut mereka orang Bali.

Terlepas dari sebutan, entah Bugis Bali, Selam Bali, Kristen Bali dan lain sebagainya, maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membuat pendukungnya, agar Pulau Bali bisa tetap bertahan. Tidak dipungkiri lagi, bahwa Bali memang sorga bagi pendatang, entah mereka itu wisatawan, pencari kerja, misionaris dan lain-lain. Mereka akan merasa nyaman di Bali. Hal ini dipengaruhi oleh karakter penduduk Bali yang masih percaya dengan karmaphala. Jadi setiap aktifitasnya akan dihubungkan dengan karmaphala. Begitu juga akibat dari karakter kita yang masih dipengaruhi buaian pujian, maka kita lupa akan tantangan zaman. Sehingga menjadi wajar, bila Pulau Bali semakin berat dengan berbagai serbuan.

Terlebih lagi di zaman ini pariwisata menjanjikan banyak lapangan kerja, sehingga menarik para pencari kerja untuk datang kembali. Mereka datang, baik dengan keahlian atau tidak, pokonya Bali adalah sorga. Hal ini bisa terjadi, karena faktor internal di Bali itu sendiri terutama pada lingkungan masyarakat Bali Hindu. Walau mereka memiliki skill, tetapi karena aturan tradisi yang ketat, maka peraasaan was-was akan sanksi sosial lebih dipentingkan, sehingga mereka terpaksa bergumul dengan tradisinya, sehingga kesempatan kerjanya diambil oleh pendatang. Apalagi sekarang ada kecenderungan masyarakat kita untuk memilih-milih pekerjaan, sehingga pekerjaan kasar itu lebih diisi kaum pendatang. Cobalah tengok di berbagai lapangan pekerjaan, seperti tukang batu, tukang gali jalan, tukang got, tukang panen padi dan seterusnya. Mereka itu ulet dan kreatif memanfaatkan peluang kerja, sementara kita masih gengsi-gengsian. Bila toh orang Bali yang jualan canang, dagang nasi, dagang klontong dan lainnya, maka bila saudara kita itu sukses, maka akan ada oknum-oknum orang lokal juga yang berusaha menjatuhkannya. Hal inijauh berbeda dengan para pendatang dari luar daerah, di mana mereka memiliki solidaritas yang tinggi antarsesamanya. Mereka saling tolong menolong, bahu membahu antarmereka, sehingga bisa kuat bertahan. Dan hal ini memungkinkan mereka bisa terus berkembang dan maju di Bali. Hal ini semakin didukung oleh karakter sebagian warga kita, di mana kita saling bertengkar atau bermusuhan antarsesama, tetapi begitu bersikap baik terhadap pendatang. Konyolnya lagi dengan membuat aturan yang begitu ketat antarwarga sendiri, tetapi longgar terhadap kaum pendatang.

Bukanlah hal yang mengherankan jadinya dalam segala hal kita harus mengimpor dari luar. Konsekuensinya, pertambahan penduduk migran melebihi pertambahan penduduk yang disebabkan oleh proses kelahiran. Bila ini terjadi, maka bukan hal yang mustahil dalam kehidupan masyarakat kita bila suatu saat kita akan tersingkir dari Pulau Bali. Hal ini bisa terjadi seandainya dalam percaturan politik jumlah penduduk pendatang akhirnya melebihi jumlah penduduk Bali, maka hal ini sangat menentukan dalam kebijakan politik. Lihat saja menjelang Pilkada, para kandidat tentu mencari dukungan ke kantung-kantung penduduk pendatang. Kenyataan ini menjadikan Bali bagai sorga bagi para warga pendatang yang sudah menetap di Bali.

Agar Bali tak kelebihan beban dari segala permasalahan, maka perlu rasanya kita beradaptasi dengan keadaan serta perkembangan zaman. Faktor-faktor penghambat atau rintangan yang selama ini menjadi momok warga kita seharusnya diadaptasikan sesuai kebutuhan. Selama ini kita di Bali terus berkonflik internal, bertradisi dengan ruwet, gengsi gede-gedean, tidak meningkatkan sumber daya manusia warga, maka jangan heran semua kesempatan akan disisi oleh pendatang, penjajahan dalam bentuk baru akan terjadi, seperti prolog N. Putrawan dalam buku, “Babad Bali Baru.”

Sebagai warga Bali yang bertanggung jawab atas kelangsungan keajegan Hindu, maka marilah kita membangun tatanan kemasyarakatan yang modern sesuai keadaan perkembangan zaman. Begitu pula praktik-praktik keagamaan yang terlalu menjelimet disesuaikan dengan keadaan ekonomi masyarakat, agar Bali benar-benar menjadi pulau sorga bagi warganya sendiri, bukan sebaliknya menjadikan Bali sebagai sorga kaum pendatang tapi menjadikannya neraka bagi warga tuan rumah. Bila sudah demikian, maka barulah akan muncul penyesalan. Seperti sesonggan orang Bali, “tain belek tain blenget-mara jelek mara inget.”

Suatu harapan bagi pemuka agama dan pemimpin-peminpin Bali yang masih peduli akan kelangsungan kehidupan masyarakat Bali, marilah kita sadarkan masyarakat Bali dari keterlenaannya, agar terbangun dari tidurnya di pulau sorga. Mari bangun SDM warga Bali, sehingga kita tidak menjadi penonton atau budak di tanah sendiri.


1 komentar:

  1. betul banget bli... jangan terlalu gengsi klo menurut saya

    BalasHapus