Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 16 Maret 2010

Jika Tak Bertemu Tuhan di Hati, Dimanapun Tuhan Tak Akan Ditemukan

Laporan Made Mustika


Tuhan bersemayam di hati setiap makhluk. Lahir sebagai manusia hendaknya tidak disia-siakan. Jika manusia belum bisa berjumpa Tuhan di hatinya, maka kemana pun mencari Tuhan tidak akan ditemukan. Tuhan itu berada dekat sekali dengan kita. Tidak perlu dicari jauh-jauh. Sekiranya Tuhan belum ditemukan di hati, itu disebabkan karena jiwa manusia tertutup oleh nafsu, kesombongan, dan keserakahan. Banyak orang kehidupannya diabdikan untuk ketiga hal itu. Ketahuilah, nafsu, kesombongan, dan keserakahan adalah jebakan kehidupan. Akan sangat berbahaya kalau ketiga hal itu menguasai seseorang. Kehidupannya akan kering dan semakin menjauh dari kedamaian.

Demikian antara lain dikatakan Kordinator Wilayah VII Pengurus Pusat Sai Study Group (SSG) Gusti Ngurah Eka Yudhana ketika memberikan sambutan dalam acara peresmian atau launching Center SSG Singaraja pada hari Minggu, 14 February 2010 di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Center atau tempat bhajan secara umum boleh dikatakan sebagai tempat sembahyang para pengikut Sai Baba. Tapi berbeda kondisinya dengan pura. Jika pura bersifat terbuka, maka center bersifat tertutup dalam artian beratap sehingga dalam cuaca bagaimanapun bhajan tetap bisa dilaksanakan. Istilah center mungkin mengadopsi dari bahasa Inggris, sebutan resmi untuk kompleks gedung itu adalah ashram. Nama lengkapnya adalah Ashram Prasanthi Denbukit. Center atau ashram SSG yang berlantai dua itu berdiri di atas lahan 10,6 are. Sedangkan luas lahan yang dimanfaatkan untuk bangunan center sekitar 20 x 15 meter persegi, dibuat berlantai dua. Pembangunannya dimulai 2006. Untuk kegiatan bhajan menempati lantai dua, berlangsung setiap Kamis dan Sabtu malam. Acara peresmian center tersebut dilakukan di tempat bhajan.

Di lantai dua itu, setiap mereka bhajan akan duduk teratur dan rapi menghadap altar. Laki-laki dan perempuan terpisah duduknya. Laki-laki di sebelah kanan sementara perempuan di sebelah kiri. Tidak boleh bercampur. Bayangkanlah garis imajiner yang seolah membagi ruangan itu menjadi dua bagian sama. Itulah yang menjadi pembatas antara laki-laki dan perempuan. Walau hanya garis imajiner, lintasan pembagi itu tidak boleh diduduki sama sekali oleh bhakta (umat). Mengapa demikian? Mereka meyakini, Bhgawawan Sri Sathya Sai Baba ketika dipuja akan datang secara gaib dan melewati garis tersebut. Di sebelah kiri altar (atau sebelah kanan dari posisi umat duduk) dipasang kursi kosong yang tak boleh diduduki sama sekali. Malah harus dihormati. Pertanyaan yang sama mungkin akan diajukan, mengapa demikian? Kursi kosong yang bagus dan terawat baik itu akan menjadi tempat duduk Bhagawan Sai Baba. Sekadar diketahui, altar itu dibuat paling depan dengan posisi tengah. Di altar tersebut dipasang potret diri Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dalam ukuran besar. Bagi anggota SSG, tokoh yang dipajang itu adalah orang suci yang diyakini sebagai awatara. Karena itu mereka memujanya. Di rumah para bhakta gambar Bhagawan juga dipasang dan dipuja. Orang-orang non-SSG akan mengasosiasikan peribadatan mereka sebagai menyembah orang biasa.

Boleh jadi orang lain akan tersenyum atau bahkan tertawa menyaksikan pemandangan demikian. Karena secara kasat mata Sai Baba sama sekali tidak terlihat berjalan di ruangan itu. Juga tidak terlihat duduk di kursi yang telah disediakan. Tapi para penyembah Baba meyakini sepenuhnya bahwa Bhagawan hadir tiap kali dilakukan bhajan.

Bagi mereka yang bukan anggota SSG, sah-sah saja menyebut keyakinan para pengikut Sai Baba sebagai keyakinan menyimpang. Tapi syukurlah keyakinan seseorang atau kelompok orang tidak boleh diadili. Jika keyakinan mereka itu dianggap dangkal dan bodoh, namun faktanya para pengikut Sai Baba kebanyakan kaum pendidik dan kaum terpelajar lainnya. Ada sejumlah dosen baik yang bergelar S-2 dan S-3 lengkap dengan profesornya. Tidak terhitung kalau guru sekolah menengah dan dasar. Juga banyak bergabung para profesional seperti dokter dan dokter spesialis. “Saya pernah mendengar celetukan miring gara-gara ikut Sai Baba. Saya dikatakan profesor yang bodoh karena mau menyembah manusia. Tapi saya tidak marah. Kalau saya dikatakan menyembah manusia, lantas yang lain menyembah apa? Apa mereka menyembah Tuhan? Apa mereka pernah melihat Tuhan? Juga tidak. Yang terlihat kasat mata ada orang menyembah batu paras,” tutur Prof. Wayan Jendera, SU, sesepuh SSG dan juga pengurus PHDI Bali ketika memberikan dharma wacana. Semuanya akan absurd bila penilaian berdasarkan pnglihatan semata.

Raditya dalam beberapa kali ikut bhajan tetap saja tak pernah melihat Bhagawan Sathya Sai Baba melintas dan duduk di ruangan bhajan. Namun tak setitik pemikiran pun ingin menghakimi para bhakta tersebut. Sia-siakah keyakinan para bhakta itu? Sekali lagi tak mudah menilai keyakinan seseorang/kelompok hanya berdasarkan penglihatan sekilas. Apalagi penilaian yang didasarkan prasangka. Kesenjangan itulah yang menyebabkan kelompok-kelompok spiritual sampai kini masih “dimusuhi” oleh umat Hindu tradisional. Ketika SSG Singaraja berdiri pada awal tahun 1992, mereka harus melakukan bhajan secara sembunyi-sembunyi di rumah penduduk. Berpindah-pindah dari rumah bhakta yang satu ke rumah bhakta yang lainnya. Intel dari kejaksaan berkali-kali mendatangi mereka. Namun rupa-rupanya Bhagawan Sri Sathya Sai Baba memberkati dan melindungi umatnya yang teguh hati. Terbukti, delapan belas tahun kemudian mereka telah memiliki center yang sangat bagus.

Ketua SSG Singaraja Drs Nengah Suteja menjelaskan, pembelian lahan dan pembangunan center tersebut dimulai dari Rp 0. Jika saja mereka terus memikirkan soal biaya, mungkin sampai kapanpun mereka tak akan memiliki center. Dengan keyakinan penuh bahwa Baba berada di belakang rencana itu, akhirnya center yang bernilai Rp 2 milyar terwujud. Dengan selesainya center yang baru itu, Baba seakan menjawab keragu-raguan orang khususnya yang masih sanksi akan keawataraannya selama ini.

Serangkaian launching itu, SSG juga telah memperkenalkan upacara agnihotra kepada masyarakat dan tokoh-tokoh Desa Panji, yang digelar 12 Februari 2010. Ketua panitia Dr. Wayan Redana menjelaskan hal itu. Ia adalah bhakta Baba yang menjadi dosen kimia di Undiksha Singaraja. PHDI Buleleng Drs. Putu Wilasa secara terbuka mengaku kalah segalanya dengan SSG Sekretariat PHDI yang diberi pinjam oleh Pemkab Buleleng sangat tidak sebanding dengan center yang dimiliki SSG Singaraja. Kondisi itu tercipta karena masyarakat seolah tidak ikut memiliki PHDI. Sedangkan di SSG semua bhakta ikut bertanggungjawab dan berkontribusi. Padahal, “massa” PHDI adalah semua umat Hindu. Sedangkan SSG hanya bagian kecil dari keseluruhan umat. Toh SSG bisa membangun yang jauh lebih hebat dari yang bisa diusahakan oleh PHDI. Pernyataan Putu Wilasa tersebut kemudian disambung oleh Wayan Jendera. PHDI Bali memang punya sekretariat, namun relatif kecil dan kondisinya perlu direhab oleh karena atapnya sudah bocor di sana-sini.

Lantai dua center SSG Singaraja itu dipakai untuk kegiatan bhajan, sementara di lantai dasar akan digunakan untuk pendidikan taman kanak-kanak (TK), balai pengobatan, perpustakaan, dan usaha. Namun semua itu masih dalam rencana. Walaupun masih rencana, tapi bukanlah rencana di awang-awang. Rencana itu tampaknya segera akan direlaisir. SSG Singaraja ingin mengikuti SSG Denpasar. SSG Denpasar sudah lama bisa mewujudkan TK dan SD. Juga ada pelayanan medis bagi masyarakat umum yang diberikan secara gratis seminggu sekali. Ke depan SSG Denpasar berencana mendirikan SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Jika semua rencana itu terwujud, maka ketertinggalan PHDI akan semakin jauh.

Tuhan memungkinkan berwujud dalam bentuk apapun. Awatara Wisnu pertama adalah berwujud ikan (matsya awatara), apalagi kalau Tuhan berwujud manusia tentu sangat logis. Tuhan juga menghuni badan kita. Jadi Tuhan tak perlu dicari jauh-jauh. Beliau ada di hati kita. Hanya manusia yang dibutakan oleh nafsu yang tak bisa menemukannya.

1 komentar:

  1. aliran apapun yang dijalankan dan dipahami harus tetap mampu dan bisa mendamaikan diri sendiri sehingga meminimalisasi hal-hal yg bersifat negatif dan memunculkan konflik,,sy stju dg banyak aliran di bali,asal tujuannya sama,,jangan karna ini menjadi "bali petak" bukan peta bali,,shingga bali tidak terpecah-pecah,,emang benar dimanapun tuhan dicari tidak pernah ada jika didalam hati tidak disembah,,itulah pemahaman yang baik terhadap tuhan,,karna tuhan tidak berwujud hanya bs dirasakan dalam hati,,maka bersihkanlah hati kita,,maka tanpa kta harus jauh2 mencari tuhan ato berbakti kepadanya sudah bisa diterima,,tp lo hati kt tidak bersih,,sejauh manapun kita membawa bus besar,,dg sarana sembahyang yang banyak dan besar,,akan terbuang secara cuma2.Jadi besar kecilnya sarana, atau jauh dekatnya tempat sembahnya tidak berpengaruh terhadap hasil yang kita dapatkan,,maka saya menyarankan kepada masyarakat hindu khususnya dimanapun berada,,pahami dulu filsafat agama hindu, lakukan susilanya (tindakan), baru implementasikan ritualnya,,lo filsafat tidak dipahami,,sebesar apapun ritualnya tidak akan diterime itu akan menjadi kesenjangan pandangan pada sesama orang hindu,,hingga merusak batin orang yang melihatnya,,jadi beritual boleh asal tidak membesar2kan,,dimata tuhan semua ciptaan sama,,tidak terukur oleh besar kecilnya sarana,,jadi lo kita tidak punya jagan kecewa tidak bisa membuat sarana upacara yang menyaingi orang kaya,,cukup hati kita tulus thd tujuan kit, bawa dupa, bunga dan air,,itulah pembersihan yang menyeluruh..JAdi jangan sarana upacara upakara menjadi kita hanyut akan kehadiran tuhan yang dijanjikan dengan hal itu, akhirnya kita membesar2kan sarana itu,,padahal tidak demikian,,,Krisna berkata,,aku akan hadir dalam hatimu jika arjuna terus memikirkan aku(krisna),,hanya dg pikiran tanpa diucapkan beliau sudah hadir,,dg ketulusan yang suci beliau datang,,,tolong masyarakat hindu,,belajarlah dari sekarang,,sederhanakan sarana upacara kita untuk tidak berlebih2an,,tidak membuat gengsi sesama umat beragama, pelajari dulu pemahamannya baru melaksanakan ritualnya niscaya pemahaman ini akan menjadi hidup kita sungguh2 belajar agama..

    BalasHapus