Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 16 Maret 2010

Membangun Vasudaiva Kutumbakam Pada diri Anak dengan Agniotra

Laporan Nyoman Tika


Udara senja hari berdesir sejuk menjadi bagian yang tak terpisahkan ketika memasuki asrama SMP Guru Kula Bangli, yang letaknya dikaki bukit di Desa Kubu Bangli. Sebuah sekolah yang dibangun dengan nafas Hindu oleh Bupati Bangli I Nengah Arnawa itu, seakan bercerita banyak hal tentang sebuah pendidikan Hindu yang sering dilupakan oleh pejabat Hindu di Indonesia ini. Kesan bahwa sekolah ini sebagai penyangga kebudayaan Hindu modern sungguh nampak dalam tatanan pola sederhana para penguninya, yang kebanyakan para tunas-tunas bagsa yang didik dengan budaya sradha dan bakti.

Disuatu senja dilaksanakan upacara agnihotra, Nampak anak-anak asram dengn sigap melakukan persiapan. Mereka membawa beberapa peralatan upacara, mereka tampak dengan sigap melayani para tamu, yang sengaja diundang oleh Bupati Bangli. Mereka melayani dengan tulus dan bakti. Di koridor itu, penulis yang diundang secara khusus teringat pesan guru, “Rahmat Tuhan tidak akan mudah dicapai ketika perasaan “Aku” atau Ahamkara berada dalam dirimu. Setiap orang, baik yang berpendidikan atau tidak, seharusnya merasakan keinginan yang mendalam untuk mengetahui Tuhan. Tuhan memberi perhatian yang sama pada semua anak-anaknya, karena menerangi adalah sifat alami dari cahaya”. Anak-anak SMP guru kula itu sedang menunjukkan pelayanannya, mereka sama dengan penulis, dan juga sama dengan Bupati, identik juga dengan kepala sekolah mereka Arsada, yakni sama-sama mencari cahaya dengan belajar melepaskan sang “aku” dalam diri personal. Untuk menggapai cahaya semesta, lalu akhirnya ingin menjadi cahaya bagi banyak kehidupan di sekitarnya.

Agniotra adalah sebuah wahana untuk mencari cahaya, diri personal mencari cahaya alam yang maha tak bertepi, literleknya dengan cahaya ini, seseorang dapat melakukan banyak hal untuk mengarungi jeram kehidupan yang tak pernah terduga, lalu dengan cahaya kita bisa membaca buku-buku yang baik atau melakukan perbuatan yang terpuji. Cahaya adalah rahmat Tuhan. Kita tidak boleh menggunakan Cahaya ini (Rahmat Tuhan) untuk tujuan yang salah. Kita harus menchantingkan Nama Tuhan untuk kemajuan spiritual kita di jalan Tuhan. Itulah yang saya amati dapat dilakukan dalam setiap nafas pelaksanaan agniotra bersama anak-anak, yang tumbuh dan berkembang sebagai muiara tunas masyarakat. Dalam agniotra , pembakaran terjadi, dan bukan hanya untuk kayu bakar, gee, ataupun susu, namun yang terpenting adalah pembakaran ego, nafsu, ketamakan, dan keakuan yang berurat dan berkar dalam jejaring kisi –kisa hati kita yang terdalam. Sebab bila Aku itu muncul maka segala sesuatu yang diperbuat ibarat mempersembahkan buah berulat di atar suci Tuhan.

Bupati Bangli, I Nengah Arnawa, sesuai dengan namanya, arnawa sama air, sebagai air berfungsi untuk menyejukkan masyarakat luas, sekaligus dapat menyemaikan bibit generasi untuk tumbuh menjadi tiang penyangga masyarakat, khususnya untuk Bangli dan umat manusia pada umumnya.

Penulis sangat terpana memandang cara–cara yang dikembangkan oleh Arnawa, apa lagi melibatkan anak-anak didik SMP yang siap menjadi generasi penuh bakti. Mereka sangat bahagia dan sangat senang dapat terlibat langsung mulai dari persiapan sampai upacara ini berlangsung. Salah satu dari mereka dengan polos mengungkapkan kepuasannya dapat diberi kesempatan untuk belajar di Gurukula ini. “kami sangat senang belajar disini, ada banyak hal yang dapat ditemui di sini, tentang Bali, tentang kesenian, dan juga tentang budaya Weda”, katanya dengan polos.

Perpaduan antara budaya India (Weda) dengan budaya Bali terdapat dalam acara ini. Terdengar beberapa siswa melantunkan palawakia, menari dengan penuh bakti, melayani tamu untuk makanan, minum kopi, sungguh luar biasa. Konsep Vasudaiva kutumbakam, seakan menjelma menjadi kenyataan di SMP Gurukula lebih-lebih saat pelaksanaan agniotra.

Di sanalah didapatkan pengejahwantahan tentang sikap, dan tata laku nilai budi pakerti, yang harus anak-anak lakukan maupun harus dihindari. Sekan-akan kata bijak ini muncul dalam diri anak-anak itu, “Tiada penyakit yang lebih fatal daripada ketamakan. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kemarahan. Tiada kesedihan yang lebih menyiksa daripada kemiskinan. Tiada sukacita yang lebih besar daripada kebijaksanaan” adalah selalu menjadi harapan dalam setiap gerak I Nengah Arnawa sebagai suluh dan perilaku sebagai Bupati Bangli sampai saat ini, dan sering beberkan perihal itu, dan betapa beliau ingin membangun generasi Bangli yang ajeg terhadap nilai-nilai luhur Weda.

Apa yang membuat konsep vasudaiva kutumbakam menyatu dengan jiwa anak lewat agniotra, ada banyak mutiara sikap yang dapat dipetik. Sebagai pelaku pendidikan dan peminat kehidupan spiritual ditemuan mutiara di SMP Gurukula, betapa upacara agniotra dapat menjadi wahana implementasi konsep vasudaiva kutumbakam. Yaitu melalui pelayanan, hormat dan juga bakti, dengan tiga konsep itu maka barulah bisa menganggap bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga atau global village, meminjam konsep yang dikemukakan Marshall McLuhan, benar-benar terjadi.

Konsep global village dengan agniotra menjadi semacam inisiasi jiwa dengan udara semesta dari api pemujaan, disanalah kesadaran diri yang muncul dari roh jiwatman mendesir melantunkan ayat suci yang tak pernah lekang, “Tvameva maataa cha pitaa tvameva. Tvameva bhandushcha sakhaa tvameva. Tvameva vidyaa dravinam tvameva. Tvameva sarvam mamadeva deva.”(‘Oh Tuhan, Engkau ibuku, Engkau ayahku, Engkau kerabatku, Engkau sahabatku, Engkau kecerdasan-Ku, Engkau hartaku, Engkau segala-galanya bagiku)’.

Kesadaran energi kosmis yang membuncah dalam diri, akan memudahkan kita mendulang mutiara kebajikan dalam mengasah batu yang mengandung intan yang berserak di ladang masyarakat yang luas dan universal. Seberkas cahaya mutiarayang menggambarkan vasudiva Kutumbakam itu dapat digapai melalui beberapa kaidah dan adagium , mendengarkan dan mengamati sikap, prilaku tunas penerus generasi kita. Saya rangkup untaian muatiara itu dalam beberapa butir, yaitu.: Pertama, menggunakan nama panggilan yang baik. Nama panggilan yang kurang baik akan menyebabkan anak kita malu dan merasa rendah diri. Di SMP Guru Kula tidak ada istilah nama jelek (wada-wadaan), mereka dipanggil dengan nama yang utuh dan hormat. (Dalam Hindu berilah nama-nama anakmu dengan nama yang menyebabkan kita teringat dengan nama Tuhan, dengan demikian, dengan menyebut nama anak kita, sekaligus kita juga melaksanakan namasmaranam.

Kedua, anak anak dipanggil dan setelah mendekat diberi sentuhan pada pundaknya, dan juga diberikan pelukan dengan penuh kasih sayang. (Kajian menunjukkan anak yang dipeluk setiap hari akan mempunyai kekuatan IQ yg lebih kuat daripada anak yang jarang dipeluk). Ketiga,sebagai seorang guru, saya melihat para guru di SMP Gurukula, terutama kepala sekolah (I Wayan Arsada) memandang anak-anak guru kula dengan pandangan kasih sayang (Pandangan ini akan membuatkan anak –anak lebih yakin akan kekuatan pada diri sendiri apabila berhadapan dengan dunia sekitarnya ). Keempat, Saya melihat bila anak-anak berbuat baik , para guru memberikan peneguhan , artinya peneguhan setiap kali anak –anak berbuat kebaikan. Nampaknya itu semua sesuai dengan pesan, berilah pujian, pelukan, ciuman, hadiah ataupun sekurang-kurangnya senyuman untuk setiap kebaikan yang dilakukannya).

Kelima, saya memperhatikan, apapun yang dilakukan oleh anak-anak tidak harus sempurna, dan Janganlah mengharapkan anak anda yang belum matang itu melakukan sesuatu perbuatan baik secara maksimal dan kontinyu, mereka hanya kanak-kanak yang sedang berkembang. Perkembangan mereka membuatkan mereka ingin mengalami setiap perkara termasuk dalam mengubah sikap.

Keenam, dalam pengamatan saya di SMP Guru kula, ada semacam pesan yang agung yang saya tangkap sebagai orang tua dan guru, yaitu apabila anda berhadapan dengan masalah kerja dan keluarga, pilihlah keluarga. hal ini senada dengan sebuah tesa bahwa anak-anak terus membesar. Masa itu terus berlalu dan tak akan kembali, oleh karena itu berikan contoh yang baik bagimana semua haluk adalah bersaudara, lahir menjadi keluarga besar dunia” vasudaiva Kutumbakam.

Khabar indahnya dalah sebagai orang tua diharapkan kita berpegang teguh pada keyakinan bahwa orang yang sedang tenggelam, bahkan sebatang buluh pun bisa dipakai untuk menolongnya. Demikian juga, bagi orang yang sedang berjuang di lautan samsara (kehidupan duniawi), sedikit kata-kata bijak dari seseorang bisa menjadi pertolongan yang luar biasa.

Lalu, di dimensi itu , tidak ada satu pun perbuatan baik yang tidak berguna. Demikian halnya, setiap perbuatan buruk pasti ada akibatnya. Jadi, berusahalah sekuat tenaga untuk menghindari jejak keburukan sekecil apapun dalam segala perbuatan kita, karena itulah rekam jejak yang sedang diamati orleh anak-anak kita.
Saya kutipkan pesan guru saya untuk menutup tulisan ini, “ Jagalah selalu agar penglihatanmu selalu suci, isilah telingamu dengan kata-kata Tuhan dan jangan biarkan ia mendengarkan segala macam fitnahan. Pergunakanlah lidahmu untuk mengucapkan kata-kata yang menyenangkan, baik dan benar. Ingatlah selalu pada Tuhan. Usaha yang demikian secara terus-menerus pasti akan memberimu kemenangan besar. Semoga pikiran baik datang dari segala segala arah. Om Nama siwaya. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar