Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 15 Januari 2018

Kanker Payudara dengan Aswaganda Resep Ayur Weda

Oleh DR I Nyoman Tika
Dalam perkuliahan sain masa depan mahasiswa saya membuat model deteksi  kanker payudara dengan biosensor  dengan menggunakan sistem  antibodi dan antigen. Anti bodi yang dia paparkan berasal dari pohon aswagandha, yaitu tanaman  yang tergurat  pada  kasanah Ayur weda. Aswaganda disebut juga sebagai ginseng India dengan nama ilmiah Withania somnifera.

Dasar argumentasinya adalah  kanker payudara adalah kanker yang paling mudah dijinakkan, namun bisa  berakibat fatal bila diabaikan pada stadium awal? Nampaknya deteksi dini  kondisi kanker payudara membuat kanker ini aman, namun  bila abai dia bisa sangat mematikan.  Itulah pemikiran awal,  sehingga diskusi itu menarik. Dalam kesempatan ini, saya ingin menyajikan titik kritis mengapa aswaganda dapat menimbulkan imun  dan menekan pertumbuhan  kanker payudara. Komponen apa yang terkandung, sehingga dapat aman dilakoni ribuan tahun silam hingga kini. Telaah itu menjadi menarik untuk mengilmiahkan pengobatan ayur weda.

Sebelum lanjut, perlu diketahui kanker dalam persefektif ayur weda. Ayurveda memandang kanker  sebagai penyakit yang melibatkan ketiga unsur jasad tubuh, yaitu Vata, Pitta, Kapha. Dari ketiga komponen itu  ada yang mendominasi satu dengan yang lainnya. Bila api pencernaan atau cadangan enzim seseorang rendah, memungkinkan terbentuknya zat beracun, ini bisa menciptakan lingkungan bagi kanker untuk tumbuh. Kanker ini mewakili energi kehidupan negatif. Kanker memiliki banyak penyebab termasuk lingkungan beracun, makanan olahan yang berlebihan, gaya hidup, dan kurangnya tujuan spiritual dalam hidup.Selain itu, emosi yang ditekan atau stagnasi emosional yang menyebabkan akumulasi bahan beracun. Sederhananya adalah timbulnya sel kanker karena kekuarang oksigen (prana), dan hidup di luar  aturan  gaya hidup. “Cancer cells, lacking oxygen (prana), represent a growth in the body outside the rule of the life-force.”


Kanker payudara umumnya terbagi dalam dua kategori, yaitu non-invasif dan invasif. Kanker payudara invasif adalah bentuk paling umum dari kanker payudara invasif adalah kanker payudara duktal invasif yang berkembang pada sel-sel pembentuk saluran payudara. Kata invasif berarti kanker ini dapat menyebar di luar payudara. Sekitar 80 persen dari semua kasus kanker payudara invasif merupakan jenis semacam ini. Kedua kanker payudara  non-invasif biasanya ditemukan melalui mamografi karena jarang menimbulkan benjolan. Jenis ini juga sering disebut pra kanker. Tipe yang paling umum dari kanker ini adalah duktal karsinoma in situ. Jenis kanker payudara ini bersifat jinak dan ditemukan dalam saluran (duktus) payudara, serta belum menyebar.

Kanker payudara menjadi penyebab utama kematian terkait  dengan  kanker pada wanita di seluruh dunia, meskipun kemajuan  teknik skrining lewat  deteksi dini penyakit ini sudah sangat maju, namun tingkat kematian wanita masih sangat tinggi

Ada beberapa faktor risiko kanker payudara, yaitu riwayat keluarga, sindrom Li-Fraumeni, hiperplasia atipikal pada payudara, kehamilan pertama pada usia lanjut, demam menarke awal, dan menopause. Karena beberapa faktor risiko ini tidak mudah dimodifikasi (misalnya, predisposisi genetik), strategi lain untuk mengurangi risiko kanker payudara harus dipertimbangkan. Meskipun modulator selektif estrogen reseptor (ER) (misalnya tamoxifen) tampak menjanjikan untuk pencegahan kanker payudara, strategi ini sebagian besar tidak efektif melawan kanker payudara ER-negatif. Selain itu, modulator ER selektif memiliki efek samping yang serius termasuk peningkatan risiko kanker rahim, tromboemboli, katarak, dan gejala perimenopause  Oleh karena itu, agen baru untuk pencegahan dan pengobatan kanker payudara manusia, terutama kanker payudara hormon-independen sangat diinginkan. Produk alami telah mendapat perhatian yang meningkat beberapa tahun terakhir dan telah menemukan agen pencegahan kanker  sebagai terapi baru. Salah satu kandungan produk alami itu  adalah Withaferin A.

Menurut kajian Silvia D.Stan dkk (2008) , dari Department of Pharmacology and Chemical Biology, and University of Pittsburgh Cancer Institute, University of Pittsburgh School of Medicine, Pittsburgh, Pennsylvania,   Withaferin A(WA) adalah senyawa bioaktif yang berasal dari tanaman obat Withania somnifera (umumnya dikenal sebagai ashwagandha atau ceri musim dingin India atau ginseng India), yang telah digunakan dengan aman selama berabad-abad dalam praktik pengobatan Ayur weda di India untuk pengobatan berbagai penyakit. Withaferin A. (WA) dari  Ashwagandha juga direkomendasikan sebagai tonik untuk kesehatan dan ekstrak Withania somnifera L. sebagai suplemen makanan di AS. Efek farmakologis yang diketahui dari ekstrak Withania somnifera meliputi modulasi fungsi kekebalan tubuh, kardioproteksi dari iskemia dan cedera reperfusi, perlindungan Parkinsonisme yang diinduksi 6-hydroxydopamine pada tikus  efek antibakteri, dan anti- efek inflamasi.

Ekstrak etanol  dari Withania somnifera menekan produksi sitokin inflamasi yang diinduksi lipopolisakarida, termasuk faktor nekrosis tumor-α, interleukin-1β, dan interleukin-12 pada sel mononuklear darah perifer. Ekstrak Withania somnifera dan juga WA berpotensi menghambat aktivasi faktor-κB nuklir . WA ditunjukkan sebagai radiosensitizer dan supresor tikus Ehrlich  menekan  pertumbuhan karsinoma. Studi yang lebih baru telah menunjukkan bahwa WA menekan pertumbuhan sel kanker manusia dengan menyebabkan apoptosis, namun mekanisme respons proapoptosis terhadap WA kurang dipahami. Penekanan angiogenesis, perubahan arsitektur sitoskeletal, dan penghambatan aktivitas proteasomal oleh WA juga telah didokumentasikan, namun WA ini dapat digunakan sebagai  antibodi, sehingga dalam tubuh manusia dapat menimbulkan antigen.

Alasannya adalah Withaferin A (WA) dari Withania somnifera, menunjukkan aktivitas signifikan terhadap sel kanker payudara manusia pada  kultur  dan in vivo. Perlakuan WA menurunkan viabilitas sel kanker payudara manusia MCF-7 (estrogen-responsif) dan MDA-MB-231 (estrogen-independen) bergantung pada konsentrasi. Penekanan WA terhadap kelangsungan hidup sel kanker payudara berkorelasi dengan induksi apoptosis yang ditandai dengan kondensasi DNA, fragmen DNA terkait sitoplasma histone, dan pembelahan polimendutan poli (ADP-ribosa). Tumor dari tikus yang diobati dengan WA menunjukkan proliferasi sel yang berkurang dan peningkatan apoptosis dibandingkan dengan tumor dari tikus kontrol.

Oleh karena itu, sejumlah penelitian telah menunjukkan tanda-tanda positif bahwa ashwagandha dapat membantu mencegah atau menghentikan pertumbuhan kanker. Ini karena Ashwagandha tinggi antioksidan dan anti-kanker.  Komponen-komponen dari Ashwagandha dapat bermanfaat dalam mencegah pertumbuhan berbagai jenis kanker seperti payudara, usus besar, leukemia, paru-paru, melanoma, prostat dan sarkoma. Ashwagandha juga dapat meningkatkan efek kemoterapi dan radiasi terhadap sel-sel kanker serta melindungi sel-sel sehat terhadap kerusakan dari terapi kanker konvensional. Om Nama Siwaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar