Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Minggu, 20 Agustus 2017

Niti Çastra Dapat Diterapkan Setiap Orang

Oleh I Gusti Ngurah Sudiana

Ilmu kepemimpinan identik dengan kata Nitisastra, kata Nitisastra berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata niti dan çastra. Niti berarti kemudi, pimpinan, politik dan sosial etika, pertimbangan, kebijakan. Sedangkan kata Sastra berarti perintah ajaran, nasihat, aturan, teori, tulisan ilmiah. Berdasarkan uraian etimologi, kata niti çastra berarti ajaran peminpin.

Berdasarkan uraian di atas pengertian kata Niti Çastra dapat diperluas lagi, antara lain: Niti Çastra berarti ilmu yang bertujuan untuk membangun suatu negara, baik dari segi tata negaranya, tata pemerintahan, maupun tata masyarakat. Sehubungan dengan pembangunan negara, pemerintahan dan mayarakat berdasarkan Niti Çastra, agama Hindu dapat memberikan nilai-nilai moril dari wujud pembangunan tersebut. Dalam hal ini Niti Çastra dapat berarti: suatu konsepsi penataan pemerintahan dan pembangunan negara secara umum yang bersifat universal dan teoritis, namun memiliki nilai-nilai praktis.
Ajaran Niti Castra mengandung ajaran-ajaran kepemimpinan yang bersifat umum dan universal. Oleh karena itu, Niti Castra sesungguhnya bukan hanya dapat digunakan (dieterapkan) oleh para peminpin negara dan pemerintah, namun dapat juga diamalkan oleh semua umat manusia yang ada pada setiap negara. Niti Castra memiliki peran dan fungsi yang sangat penting bagi umat manusia untuk memantapkan pengamalan hidup berbangsa dan bernegara, seperti Negara Indonesia yang berdasrkan Pancasila.
Niti Castra dapat mengajarkan kepatuhan warga negara pada hukum dan kebijaksanaan pemerintah negara yang bersangkutan, karena Niti Castra mengajarkan umatnya untuk selalu ikut serta dalam pembinaan negara. Strategi utama yang dimiliki Niti Çastra sebagai ilmu pemerintahan/ kepemimpinan yang berdasarkan ajaran agama Hindu, adalah ikut serta membina umat Hindu untuk menjadi warga negara yang patuh dan bertanggung jawab dalam mewujudkan keselamatan negara dan tujuan negara. Niti Çastra dapat juga digunakan untuk membuat rumusan kembali, mengakulturasikan atau konsep dengan konsep yang lainnya, sehingga memperoleh konsepsi baru dab mengantarkan untuk berpandangan jauh ke depan.


Berbuat dan berpikiran tentang keselamatan negara di masa lampau, sekarang dan yang akan datang merupakan bukti uamt Hindu peduli melaksanakan dharma negara. Mematuhi undang-uandang dasar dan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah (Guru Wisesa) merupakan wujud dari perilaku umat Hindu telah melaksanakan Dharma Negara. Negara adalah wadah bagi setiap pemimpin untuk melaksanakan kepemimpinannya. Sehubungan dengan negara, pemimpin dan kepemimpinan, kitab Dharma Sastra menyebutkan sebagai berikut:
Brahmampratena samskaram
Ksatriyena yatha widhi
Sarwasyasya yathanyanyam
Kartawyam pariraksanam
(Manawa Dharma Çastra VII.2)
Artinya:
Ksatria (pemimpin) yang telah menerima sakramen menurut veda berkewajiban melindungi seluruh dunia sebaik-baiknya.

Arajake hi Loke’smin
Sarwato widrute bhayat
Raksarthamasya sarwasya
Rajanamasrjat prabhuh.

Artinya :
Karena, kalau oarng-orang (masyarakat) ini tanpa raja akan terusir, tersebar ke seluruh penjuru oleh rasa takut. Tuhan telah menciptakan raja (pemimpin) untuk melindungi seluruh ciptaannya.

Berdasarkan sloka tersebut di atas dapat dipahami, bahwa negara dan pemerintah (pemimpin) memiliki peran kepada masyarakat yang dipimpinannya.

Agama Hindu Dan Kepemimpinan
Agama Hindu bertujuan untuk mencapai kesejahteraan hidup jasmani (jagadhita) dan kebahagiaan hidup rohani (moksa) seluruh umatnya. Hal ini tertuang dalam berbagai kitab-kitab agama Hindu dengan rumusan “Moksartham Jagadhita ya ca iti dharma” dan “Catur Purusartha”.
Untuk mewujudkan tujuan agama dan tujuan hidup ini, manusia menyadari dirinya tidak akan mampu mencapai secara sendiri-sendiri. Mengingat kemampuan manusia sangat terbatas, untuk itu manusia hendaknya mengadakan kerja sama di antara sesamanya. Tujuan agama dan tujuan hidup manusia hendaknya ditata dan dapat diwujudkan secara permanen dan berkesinambungan adanya.
Manusia dalam mewujudkan tujuan atau cita-citanya itu hendaknya memiliki bentuk kerja sama yang permanen juga. Bentuk kerja sama manusia yang bersifat permanen dan berkesinambungan disebut negara. Negara sebagai wadah umat manusia untuk mencapai tujuan dan cita-cita hidupnya, memiliki beberapa prinsip dasar, antara lain: (1) Machstaat adalah perinsip negara untuk menguasai segala potensi yang dimiliki oleh negaranya untuk diabadikan kembali pada tujuan masyarakat negara yang bersangkutan; (2) Rechstaat adalah prinsip negara yang bertujuan untuk mengatur kehidupan negara agar berbagai keadaan dan kepentingan yang berbeda-beda dapat diatur untuk mempercepat tercapainya tujuan negara; (3) Polistaat adalah suatu prinsip yang memandang segala seluk-beluk kehidupan bernegara harus dijaga agar jangan terjadi penyimpangan-penyimpangan demi tercapainya tujuan negara mencapai sasarannya; (4) Supervisorystaat adalah prinsip negara yang memandang bahwa fungsi negara adalah mendorong segala unsur negara untuk lebih cepat mencapai tujuan.
Ajaran agama Hindu berorientasi pada kehidupan Buana Alit dan Buana Agung, memandang kehidupan bernegara sebagai suatu masalah yang sangat penting dan sangat mendasar. Niti Çastra  merupakan cabang ilmu pengetahuan yang bersumber pada ajaran Hindu, adalah khusus membahas tentang kehidupan bernegara, baik mengenai bentuk negara, tujuan negara kedaulatan negara dan lain sebagainya tertera dalam kitab Niti Çastra.
Ring janmadhika meta citta reseping sarwa prajangenaka, ring stri-madhya manohara priya wuwus tangde manah kung lulut, yan ring madhyani sang pandita mucap tatwopadeca prihen, yang ring madhyanikang musuh mucapaken wak-cura singhakreti (Niti Çastra, I.4)
Artinya:     Orang yang terkemuka (pemimpin) harus bisa mengambil hati dan menyenangkan hati orang, jika berkumpul dengan wanita, harus dapat menggunakan perkataan-perkataan manis yang dapat menimbulkan rasa cinta, jika berkumpul dengan pendeta, harus dapat membicarakan pelajaran-pelajaran yang baik, jika berhadapan dengan musuh, harus dapat mengucapkan kata-kata yang menunjukkan keberanian seperti seekor singa.
Jajeta raja kratubhir wiwidhairapta daksinaih, dharmartham çaiwa wiprebhyo dadyad bhogandhananica (MD VII.79)
Artinya, Raja (Pemimpin) akan melakukan upaya srauta yajna, dengan daksina yang sepantasnya  agar memperoleh kebajikan, ia akan memberi para Brahmana kesenangan dan kekayaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar