Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Jumat, 16 Juni 2017

Dharmashanti Nasional Tahun Saka 1939 Presiden Jokowi: Masyarakat Indonesia Tidak Harus Diseragamkan

Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo (Jokowi) hadir pada acara Dharmasanti Nasional Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 di GOR Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, pada Sabtu, 22 April 2017.

Dharmasanti Nasional di awali dengan acara ritual yang berisi hiburan untuk umat Hindu yang hadir. Selain itu, pada acara ritual diisi juga dengan Dharmawacana yang disampaikan Prof. Dr. Ida Bagus Yudha Triguna, MS dengan tema “Nyepi, Kerja, dan Kemuliaan Hidup”.
Ketua Umum Panitia Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939, Irjen Pol. Drs. Ketut Untung Yoga, SH., MM dalam laporannya menyampaikan tema yang usung dalam perayaan Nyepi dan Tahun Baru Saka  1939 adalah “Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI.”
“Pemilihan tema ini didasari rasa keprihatinan atas fenomena berkurangnya sikap toleransi dan menipisnya kesadaran akan keniscayaan keberagaman dan kebinekaan yang sesungguhnya merupakan potensi kekuatan bangsa Indonesia,” jelas Ketut Untung Yoga.
Ketut Untung Yoga mengatakan, agama Hindu memiliki ajaran yang sangat luas dan bersifat universal.  Ajaran itu antara lain vasudhaiva kutumbakam yang secara harfiah berarti kita semua adalah bersaudara. “Menyadari hakekat dari persaudaraan sesungguhnya bersama-sama kita bisa membangun kekuatan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujarnya.
Ketut Untung Yoga menambahkan bahwa panitia dan segenap umat Hindu di seluruh tanah air telah menyelenggarakan berbagai kegiatan di antaranya bhakti sosial, donor darah, penanaman pohon, yoga massal, serta penyuluhan narkoba, upacara ritual melasti, dan tawur agung kesanga nasional di Candi Prambanan.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya dalam sambutannya menyampaikan kepada umat Hindu agar tetap mempertahankan kebenaran dalam bekerja melalui bhakti, karma, dan jnana.
“Kita harus bhakti kepada bangsa dan Negara. Bekerja secara tulus dan ikhlas. Seperti yang sudah disampaikan Bapak Presiden yaitu kerja, kerja, kerja. Kerja tulus, kerja ikhlas, kerja keras, dan kerja yang cerdas,” ujar Wisnu Bawa Tenaya yang disamput tepuk tangan oleh umat yang hadir.
Wisnu Bawa Tenaya juga menyampaikan bahwa umat Hindu bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) telah melakukan memorandum of understanding (MoU) untuk stop narkoba. “Bapak Presiden kami telah melakukan MoU untuk stop narkoba. Hal ini yang terus kami sampaikan kepada umat Hindu di seluruh Nusantara. Untuk membangun Indonesia Raya, Indonesia Jaya, dan Indonesia Adidaya,” ujarnya.
Presiden Jokowi dalam sambutannya menyampaikan rasa angayubagya karena bisa bersimakrama dengan umat Hindu dalam acara Dharmasanti untuk merayakan hari nyepi dan menyambut tahun baru 1939.
“Teriring salam saya kepada seluruh umat Hindu di seluruh pelosok tanah air disertai dengan ucapan selamat Hari Nyepi dan juga selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan. Semoga perayaan Nyepi yang waktunya berdekatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan bisa memberikan keheningan jiwa, rasa shanti atau kedamaian, dan juga jagadhita atau kesejahteraan bagi kita semua,” ujar Presiden.
Jokowi mengatakan, hari raya Nyepi memiliki makna mendalam bagi umat Hindu. Melalui momen Nyepi tersebut, umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian sebagai bagian dari upaya pembersiahan diri (bhuana alit) dan juga alam semesta (bhuana agung).
“Dengan menjalankan catur bratha penyepian, umat Hindu menyambut tahun baru Saka dengan semangat yang baru, dengan jiwa yang damai, yang lebih harmonis sesuai dengan nilai-nilai Tri Hita Karana,” tuturnya.
Jokowi melanjutkan, dalam Tri Hita Karana umat Hindu diajarkan bahwa sraddha bhakti kepada Tuhan harus diwujudkan dengan menjaga keharmonisan dengan sesama serta menjaga hubungan harmonis dengan alam yang semuanya diciptahan oleh Brahman penguasa jagat raya.
“Kita telah banyak mengambil dari alam untuk dimanfaatkan menjadi sumber kehidupan kita. Sudah saatnya kita juga membayarnya kembali dengan cara menjaga dan melestarikan alam. Hanya dengan cara itu kita semua akan mendapatkan kehidupan yang harmonis, santhi dan jagadhita,” jelas Presiden.
Jokowi menegaskan, perbedaan latar belakang suku, latar belakang agama, dan latar belakang budaya jangan dijadikan penghalang untuk hidup dalam keharmonisan dan membangun solidaritas sosial yang kokoh.
“Sebagai bangsa yang majemuk, yang beragam, kita punya 714 suku. Bahkan data BPS menyebutkan ada sekitar 1.340 suku. Kita juga punya berbagai bermacam ras dan beranekaragam bahasa dan juga berbeda-beda budayanya. Perbedaan latar belakang suku, agama, budaya, bukan penghalang bagi kita untuk bersatu. Bukan penghalang bagi kita untuk hidup dalam keharmonisan. Sekali lagi, bukan penghalang bagi kita untuk hidup dalam keharmonisan,” ujar Presiden.
Jokowi menegaskan bahwa perbedaan masyarakat Indonesia tidak harus diseragamkan. Tidak juga untuk ditiadakan. Oleh karenanya, Indonesia patut bersyukur memiliki Pancasila dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika.
“Semua perbedaan dan keragaman itu justru harus diikat oleh tali-tali persaudaraan. Tali-tali kebersamaan dan tali-tali persatuan Indonesia. Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan pemersatu kita semua. Kita juga mempunyai Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pilar kebangsaan untuk menjaga Indonesia yang majemuk ini,” katanya.
Di penghujung acara dilakukan doa kebangsaan yang dipandu Ida Pedanda Gde Panji Sogata. Setelah itu, Panitia menampilkan oratorium “Mulat Sarira (intropeksi diri)” dari Yayasan Kesenian Bali Saraswati Jakarta serta tarian yang menggambarkan keberagaman di Nusantara.
Acara Dharmasanti juga dihadiri, Menko Polhukam Wiranto, Mensesneg Pratikno, Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Staf  TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono, Dharma Adhyaksa Ida Pedanda Gede Nabe  Bang Buruan Manuaba, jajaran Pengurus Harian PHDI Pusat, PHDI se-Indonesia dan PHDI DKI Jakarta, Organisasi Hindu nasional, dan sesepuh umat Hindu.
 (Komang Sukra Adnyana).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar