Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Sabtu, 18 Februari 2017

Berpikir Kreatif dalam Mempertahankan Keragaman

Wacana oleh I Nyoman Tika
Tidak bisa dipungkiri bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan harga mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Negara Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman mulai agama, etnis, dan budayanya dalam bentuk persatuan. Dalam tataran lebih kecil, interaksi yang terjadi microsytem, meminjam teori Ekologi Bronfebrener merupakan sistem teman sebaya, sekolah, lingkungan  dan keseharian  yang ditemui anak-anak bangsa telah menyatu dalam komunitas yang harmoni dalam keberagaman.

Orang Hindu, Islam, Kristen dan  Katolik, Budha dan lainnya, tidak berbeda, karena agama bersifat vertikal dan sangat pribadi. Fondasi itulah kekuatan Negara Indonesia dan untuk melemahkan kekuatan egara Indonesia maka fondasi itulah yang akan diserang. Upaya-upaya melemahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui penyerangan keberagaman itulah yang seharusnya kita waspadai. Lalu, bagaimana seharusnya umat Hindu memaknai, dan bersikap berkaitan dengan fenomena ini?
Paling tidak ada tiga jawaban teoritis yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan itu, yaitu (1) Umat Hindu, diam tidak melakukan apapun yang bersifat internal, maupun eksternal. Alasannya kalau ikut bersuara, atau bertindak bisa jadi ikut menyumbangkan  ketidakstabilan sehingga suasana bertambah gaduh. (2) ikut bergerak secara individu melalui berbagai upaya, seperti tulisan yang menyejukkan dan tidak  terkesan memprovokasi, di berbagai media,  (3) lewat kelompok orgnisasi bersama ikut memperkuat gagagasan kebinekataan dan ikut dalam gerakan untuk  menyuarakan kelompok yang pro kebinekaan. Formulasi di atas memungkinkan dilakukan agar tidak menimbulkan gaduh dan kontra produktif dengan inti sari Weda. Weda pada prinsipnya, mengakomodir perbedaan, berbagai jalan yang dilakukan sepanjang menimbulkan harmonisasi kehidupan.


Dalam bingkai itu, yang harus dilakukan adalah, pertama,  selalu meng-up-grade diri, dan memegang  kestabilan jiwa dalam koridor  sradha dan bhakti pada Tuhan, sesuai dengan  ajaran Wedha. Menarik  melihat kembali ajaran Mahatma Gandhi  pernah berkata, “Tanpa kekerasan adalah senjata milik orang yang perkasa. Orang lemah tidak pernah bisa memaafkan. Memaafkan adalah sifat orang perkasa. Tidak ada kesia-siaan yang menguras tubuh kecuali kekhawatiran, dan orang yang punya keyakinan pada Tuhan seharusnya merasa malu kalau masih mengkhawatirkan sesuatu.
Kedua, mengkontruksi ulang pisau analisis lewat critical thinking bagi umat Hindu perlu dilakukan. Mengapa dimensi ini penting dilakukan? Jawabnnya sederhana, berpikir kritis  merupakan soko guru rasionalitas. Sebab keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) didefinisikan sebagai aktivitas disiplin mental untuk berpikir reflektif dan masuk akal untuk mengevaluasi argumen atau proposisi untuk mengambil keputusan apa yang harus dipercaya atau dilakukan. Saat ini berbagai berita abal-abal dengan mudah bisa ditemui, oleh karena itu kekritisan  itu sangat penting.  Oleh karena itu, berpikir kritis  untuk menyikapi semua fenomena yang mencoba menebar permusuhan yang menghancam persatuan.
Ketiga, kreatif dan inovatif, harus dimiliki oleh umat Hindu. Pengertian inovasi dan pengertian kreatif berbeda, namun memiliki kesamaan. Secara umum, Pengertian inovasi adalah melakukan proses pembaharuan/pemanfaatan (pengembangan) dengan menciptakan hal baru yang berbeda dengan sebelumnya. Sedangkan secara umum, pengertian kreatif adalah kemampuan mengembangkan (menciptakan) ide dan cara baru yang berbeda dari sebelumnya. Jika dilihat pengertian keduanya sama saja, namun jika diamati terdapat perbedaan diantaranya. Berikut pembahasan mengenai inovasi dan kreatif. Pengetahuan adalah sebuah petualangan tak berujung di tepi ketidakpastian.
Selain itu, inovasi adalah proses pembaharuan (pemanfaatan-pengembangan) dengan menciptakan hal baru yang berbeda dengan sebelumnya. Inovasi juga dapat diartikan penemuan baru dalam teknologi atau kemampuan dalam memperkenalkan temuan baru yang berbeda dari yang telah ada sebelumnya. Orang yang melakukan inovasi disebut dengan inovator. Inovasi haruslah bermanfaat bagi sang inovator atau orang lain. Inovasi dibedakan menjadi dua macam antara lain sebagai berikut (1) Inovasi yang terjadi karena sengaja (invention): Inovasi invention adalah proses munculnya suatu hal baru dari kombinasi hal-hal lama yang telah ada. (2) Inovasi yang terjadi tanpa sengaja  (discovery): Inovasi discovery adalah penemuan hal baru, baik berupa alat ataupun gagasan. Discovery dapat menjadi invention, ketika masyarakat mengakui dan dapat memanfaatkan hasil inovasi tersebut.
Dari pengertian inovasi yang terdapat di atas, sesuatu yang dapat dikatakan inovatif ketika memenuhi beberapa syarat, antara lain sebagai berikut. (1) Baru, (2) Berbeda dari sebelumnya atau yang telah ada, (3) Memberikan manfaat bagi inovator dan orang lain. Kemudian terdapat empat ciri-ciri inovasi antara lain sebagai berikut. (1)Memiliki ciri khusus (2) Memiliki unsur pembaharuan, (3) Program inovasi melalui program yang terencana, (4) Memiliki tujuan.
Keempat, kumukikator. Komunikator adalah pihak yang mengirim pesan kepada khalayak. Dalam khazanah ilmu komunikasi, komunikator (communicator) bisa juga bertukar peran sebagai komunikan atau penerima pesan sehingga komunikator yang baik juga harus berusaha menjadi komunikan yang baik. Seorang sumber bisa menjadi komunikator (pembicara). Sebaliknya komunikator (pembicara) tidak selalu sebagai sumber. Bisa jadi ia menjadi pelaksana (eksekutor) dari seorang sumber untuk menyampaikan  pesan kepada khalayak. Pengirim adalah orang yang menyuruh untuk menyampaikan. Komunikator dibagi dalam dua tipe utama:  Komunikator dengan Citra Diri Sendiri (The Communicator’s Self Image). Komunikator tipe ini lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Proses pengiriman pesan didasarkan atas keinginan sang komunikator. Mereka mengukur kesuksesan komunikasi dari segi kesuksesan mencapai target sasaran secara kuantitatif.
Kelima, selalu melakukan tindakan kolaboratif. Kolaborasi berasal dari bahasa Latin, sedangkan koperatif dari bahasa Inggris (Amerika). Kolaborasi  antar pemeluk agama untuk menciptakan harmonisasi. Dalam satu komunitas atau kelompok tidak terjadi persaingan, namun lebih kepada kerja sama demi tercapainya tujuan bersama. Dalam pembelajaran di kelas, ketika seorang pengajar melakukan hal ini, itulah yang disebut pembelajaran kolaboratif. Adapun macam-macam bentuk pembelajaran yang termasuk metode pembelajaran kolaboratif, sebagaiman yang telah dijelaskan dan diuji oleh para pakar pendidikan, diantaranya: AC (Academic-Constructive Controversy). Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
Itu sebabnya, jika seseorang melangkah maju dengan percaya diri ke arah mimpinya untuk menjalani kehidupan yang dibayangkannya, dia akan menemui keberhasilan secara tak terduga. Oleh karena itu, dalam menjaga kebinekaan maka kita harus menyadari bahwa pada dasarnya  manusia memiliki dua pandangan tentang kehidupan: yang satu menganggap kehidupan sebagai garis, kadang vertikal dan  kadang horisontal, dan berakhir pada titik lain.  Kita harus menyaari dan bisa menerima perbedaan sebagai bentuk ke indahan. Ibarat pembentukan senyawa baru NaCl (garam dapur), unsur  natrium mat eksplosif dengan air bisa terbakar, dan gas klor beracun, namun ketika digabung  bersenyawa membentuk NaCl yang bisa menjadi zat yang sangat dibutuhkan oleh kesehatan. Marilah kita bersenyawa menjadi bangsa Indonesia yang bersatu dan berjaya. Om Nama Siwa ya.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar