Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 17 Juni 2013

Mengenal Ajaran Suci Buddha-Sumedha

Gede Agus Budi Adnyana.

Sebuah agama Timur yang mengajarkan pengikutnya untuk masuk dalam sebuah wilayah kesadaran diri sejati, kesadaran yang tentu saja diawali oleh sebuah pencerahan (buddhi) lewat kecerdasan dan kualifikasi spiritual yang mumpuni, agama ini disebut dengan Buddha. Dengan guru besar yang agung, Yang Mulia Siddharta Gautama, mengajarkan cinta kasih dan kesadaran yang kekal, bagaikan mutiara murni tak termakan jaman dan usia.

Meskipun secara kuantitas pemeluk agama ini di Indonesia dapat dikatakan sebagai agama minoritas yang sebanding dengan Hindu, tetapi kedalam spiritual Buddha sangat dalam. Sebuah hal yang lebih mementingkan kualifikasi dan kualitas dari pada jumlah (kuantitas), adalah jauh lebih mulia mengertikan kebijaksanaan itu secara mendalam, dari pada berjumlah banyak namun kering akan kesadaran.

Orang-orang jaman sekarang kebanyakan masih bingung dan cemas akan hal-hal yang semestinya tidak membelenggu mereka. Mereka terlalu cemas akan dunia yang sejatinya memang tidak perlu dirisaukan. Kecemasan, ketakutan dan juga kesengsaraan adalah disebabkan karena diri kita sendiri, dan pikiran itu menjadi faktor utama segalanya.

Pengendalian akan perintis sebuah keadaan yang kita sebut sebagai pikiran inilah yang tidak diketahui oleh banyak orang. Bagaimana cara memandang segala sesuatu dengan tanpa keinginan yang terlalu kuat, adalah sebuah hal yang pertama yang harus dilakukan seseorang, agar tidak terikat akan belenggu. Orang yang terikat akan belenggu adalah orang yang dengan pasti masuk dalam wilayah kecemasan.

Bagaimana mungkin orang yang cemas akan menemukan kebahagiaan? Oleh sebab itulah, mengapa meniadakan keinginan yang mengikat diri adalah sebuah hal yang perlu dikembangkan untuk kesadaran spiritual. Mereka yang terikat adalah mereka yang terbelenggu, dan setiap yang terikat pasti menderita, entah dengan cara apa.
Bisa saja kita berkata, bahwa kekayaan dan kenikmatan dunia adalah perlu dan semua orientasi akan kebehagiaan adalah dari kekayaan. Sayangnya paradigma itu adalah keliru, kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan harta dunia, dan malah dengan memiliki kekayaan yang besar seseorang akan merasa cemas dalam hidupnya. Cemas dalam banyak hal, dan kekayaan itu juga tidak akan kekal.

Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak kekal dapat membawa kita pada kebahagiaan sejati dan kekal? Dalam risalah Buddha, seorang pemuda tampan dan terpelajar dalam sastra, hidup mengetahui kebenaran ini. Dia bernama Sumedha, dan terlahir sebagai seorang anak muda dengan mewarisi kekayaan berlimpah ruah banyaknya, yang semua itu dikumpulkan oleh ayah, ibu dan kakek serta neneknya terdahulu.

Semestinya dengan kekayaan yang begitu besar dia dapat berbuat sesuka hatinya dan menikmati apa yang menjadi keinginannya. Sumedha sadar bahwa dengan memanjakan dan memenuhi hasrat, semuanya tidak akan membawa apa-apa. Malah dengan membiarkan diri kita memenuhi semua unsur duniawi itu, kita semakin menderita. Sebab keinginan dunia tidak pernah dapat dipuaskan, dan memang tidak akan pernah berakhir, seperti sebuah samudera yang tanpa tepi.

Memuaskan tubuh hanyalah mendatangkan keinginan yang lain lagi bahkan yang lebih besar. Sumedha berpikir, bahwa ayah dan ibunya serta kakek dan neneknya dulu dapat menimbun harta kekayaan besar ini, tetapi ketika mereka semua mati, tidak satu pun harta kekayaan yang dikumpulkan dengan susah payah ini dapat mereka bawa mati.

Sumedha berpikir, bahwa suatu ketika nanti dirinya juga akan mengalami hal yang serupa. Yakni masuk dalam usia tua, kemudian jatuh sakit dan pada akhirnya akan mati menyusul seperti yang lain. Sebab apapun yang pernah dilahirkan, suatu ketika nanti pasti mati.

Di antara hidup dan kematian adalah usia. Kemudian diantara usia itu ada penyakit, dan penyakit ini sebagian besar disebabkan karena pikiran kita. Pikiran yang sakit adalah pikiran yang tidak dapat memenuhi kehendaknya, ketika seseorang memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu, dia akan terikat akan hal itu, dan keterikatan inilah yang membawa pada penderitaan.

Sadar akan hal itu, Sumedha kemudian menyumbangkan seluruh harta kekayaannya kepada masyarakat miskin dan yang memerlukan. Setelah itu, dia pergi ke pegunungan Himalaya dan menjadi seorang pertapa di sana. Masuk dalam samadhi yang dalam, Sumedha kemudian menjalani hidup layaknya pertapa, dia menggunakan jubah serat kulit kayu sebagai pakaian, dan tetap melakukan tapa.

Dia menyepi di sebuah kaki gunung Dhammika dan berteduh di sana pada sebuah gubuk yang sudah usang. Dari pertapaan yang dia lakukan, Sumedha mengetahui bahwa ada tiga jenis pemikiran yang buruk: (1) Kama Vitakka, yaitu pemikiran yang berasal dari nafsu-nafsu duniawi; (2) Vyapada Vitakka, yaitu pemikiran yang berdasarkan niat buruk, pembunuhan, penghancuran, perusakan dan juga kekejaman; (3) Vihimsa Vitakka, pikiran yang merugikan pihak yang lainnya.

Ketika menghilangkan pikiran-pikiran inilah, seluruh kebijaksanaan akan mulai menampakkan diri di dalam diri seseorang. Bagaimanapun juga pikiran adalah pelopor segalanya. Dengan demikian apapun yang dipikirkan itulah yang akan terjadi kelak.

Oleh sebab itulah, satu rahasia besar sejatinya adalah bagaimana mengolah pikiran kita agar tetap senantiasa semimbang dalam segala hal. Keseimbangan tidaklah didapat dengan instant dan mudah, perlu sebuah latihan dan disiplin (sadhana) yang baik untuk mencapai hal tersebut.

Maka pusatkanlah pada sepuluh kesempurnaan yang telah diselidiki dengan seksama oleh Sumedha. Sepuluh kesempurnaan itu disebut Dasa Parami, yakni: (1) Dana, atau kedermawanan; (2) Sila, yakni moralitas; (3) Nekkhamma, pelepasan belenggu duniawi; (4) Panna, kebijaksanaan; (5) Viriya, Daya atau usaha yang baik; (6) Khanti, atau kesabaran dan ketabahan diri; (7) Sacca, kejujuran dan kebenaran; (8) Adhittana, atau keteguhan hati; (9) Metta, cinta kasih dan welas asih; (10) Upekkha, atau ketenangan dan keseimbangan.

Untuk mencapai kesempurnaan itu, maka seseorang harus dapat mengendalikan dirinya sendiri, dalam ketabahan, kedisiplinan, dan kemauan yang keras untuk menemukan kebenaran. Hakikat ini, sama saja dengan pertapa, bahwa ketika seseorang hendak menjadi vairagya, maka dia harusnya tidak terikat, sebab orang yang terikat pasti menderita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar