Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 20 Mei 2013

Mengelola Pikiran dalam Bingkai Budaya Konsumerisme

Dra. Luh Asli, M. Ag.

Di era postmodern ini, pikiran manusia sudah terbiasa merekam bujuk rayu iklan di berbagai media cetak maupun TV yang dikemas dengan bahasa unik, menggelitik hati supaya para konsumen tergugah. Promosi berlabel nomor satu, lebih enak, paling nyaman dan lebih praktis, menggiring kecenderungan masyarakat menuju pola hidup konsumerisme. Hal ini berimplikasi pada masuknya secara perlahan ideologi konsumerisme.

Tanpa disadari, promosi dari iklan-iklan ini menjadikan sebagian dari kita semakin kehilangan daya inisiatif dan kreatifitas, kemudian cenderung menjadi malas dan hanya ingin menikmati enaknya dari pada bersusah payah untuk mengerjakannya sendiri, toh hampir semua sudah tersedia secara instant. Kita tinggal menunggu strok belanja dan bayar. Kekuatan utama dalam pola hidup konsumerisme adalah uang. Hal ini berkonskuensi pada upaya keinginan menempuh jalan pintas, menghalalkan segala cara untuk menghasilkan uang demi memenuhi hasrat menikmati sesuatu dengan cara gampang. Misalnya, beberapa orang/pengusaha dengan tega menjual produk palsu sebagaimana seringnya ditayangkan dalam beberapa acara ditelevisi hanya untuk memburu uang, tidak lagi mempertimbangkan hati nurani. Menjual produk dengan biaya produksi murah, namun dijual mahal sehingga untungnya besar. Semuanya berkat promosi gencar melalui iklan.

Bersamaan bergulirnya dominasi pola hidup konsumerisme, dalam kehidupan di masyarakat juga marak terjadi berbagai penyimpangan. Kekerasan dan kejahatan, kenakalan remaja, pelecehan seksual, korupsi juga sudah terbiasa direkam oleh pikiran. Berbagai fenomena sosial tersebut oleh beberapa ahli menyebutnya sebagai manivestasi tergerusnya nilai-nilai kehidupan karena distorsi moral.

Manusia sebenarnya adalah makhluk yang paling utama dan mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya di muka bumi ini, karena ia memiliki kelebihan pikiran sebagai rajanya indria dalam mengendalikan kehidupannya. Mulia karena dia bisa mengubah dan memperbaiki kwalitas hidupnya melalui prilaku, pelayanan untuk menjadi lebih baik dengan berpedoman pada nilai-nilai perenialnya. Alat yang disebut “Pikiran” telah menjadi hadiah tertinggi dari Tuhan. Pikiran, harus dipahami dengan baik, bagaimana sifat-sifatnya, kecenderungan-kecenderungannya, kelebihannya dan memelihara agar alat ini bisa berdayaguna maksimal.

Kekuatan pikiran sangat luar biasa sebagaimana tersirat dalam Kidung Sucita Subudi bahwa “semua berawal dari pikiran”. Selain itu selaku manusia kita hendaknya selalu berpikir positif (positif thinking). Dalam slogan itu terkandung makna yang sangat luar biasa, karena jika pikiran sebagai rajanya indria bisa dikendalikan, dan kuat maka indra-indra yang lain sebagai bawahannya akan menurut apa maunya pikiran (raja). Jika pikiran lemah dan tidak kuat, maka dia akan hanyut mengikuti arus kecenderungan indra-indra yang cenderung doyan material, termasuk mudah termakan buju rayu iklan. Agar pikiran tumbuh kuat bisa berfungsi dengan baik, maka sejak awal hendaknya dipelihara dengan baik.

Salah satu teknik cara memelihara pikiran, terdapat pada perspektif ajaran Yoga. Diantara beberapa cara dalam yoga adalah dengan cara mengendalikannya, menjinakkannya sebagaimana juga dikatakan oleh Sri Swami Sivananda, “Pikiran itu bagai monyet yang loncat sana-sini, gelisah serta tidak tetap”. Mengetahui sifat pikiran seperti ini, cara terbaik adalah dengan menjinakkannya melalui kebiasaan-kebiasaan setiap hari dan kontinyu. Latihan konsentrasi, meditasi termasuk di dalamnya membiasakannya merekam hal-hal yang positif melalui indra-indra, adalah cara yang sangat efektif.

Panca Budindrya, seperti mata pasti suka melihat yang indah, cantik, ganteng, merangsang saja, telinga suka mendengar yang indah, merdu merayu. Hidung suka dengan bau yang harum, kulit suka merasakan sentuhan yang halus serta lidah suka makan yang enak-enak meskipun sebatas di mulut (makanan, minuman siap saji dengan pewarna, penyedap, bahan pengawet dalam kemasan sangat menarik dalam bujuk rayu iklan). Apa yang dimakan akan menghidupi sel-sel dalam tubuh sehingga jika dikonsumsi terus menerus, maka tanpa terasa sejumlah organ tubuh akan terkontaminasi bahkan rusak oleh pola yang salah. Lebih-lebih makanan yang diperoleh dari hasil yang tidak baik dan benar (menipu, membohongi publik), maka justru akan menjadi racun bagi pertumbuhan dan ketenangan pikiran.

Oleh karena itu belum tentu semua tayangan televisi berpengaruh positif bagi semua kalangan. Filterisasi terhadap semua yang berkembang dalam pola hidup konsumerisme akan berpengaruh terhadap pertumbuhan pikiran. Lebih parah kalau ada ibu-ibu yang meninabobokkan anaknya dengan televisi. Ketika tayangan iklan, tayangan kekerasan, adegan seksual/porno direkam oleh otak anak-anak yang masih sangat polos, bersih bagai kertas putih, maka apa yang sering dilihat, di dengar dan dirasakan, maka itulah yang tertulis pada memori otaknya. Selanjutnya kesan tersebut tersimpan di bawah ambang sadar otak anak. Jika otak anak selalu diwarnai dengan rekaman kekerasan, maka cenderung prilakunya di masa depan akan diwarnai dengan kekerasan pula. Sebaliknya Jika anak-anak terbiasa merekam tayangan fenomena kasih sayang, ketulusan hati, suka menolong, maka anak itu akan belajar untuk mengasihi. Jadi benak anak akan dipenuhi dengan kasih, pikirannya pun akan penuh dengan cinta kasih.

Jum Sai, seorang pakar pendidikan karakter dari Thailand dalam bukunya yang berjudul “Human Values Integrated Intructional Model”, dimana model pendidikan ini telah diadopsi oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mengatakan, bahwa apa pun pengalaman-pengalaman yang sempat direkam oleh pikiran kalau sering dinikmati oleh indra-indra, maka seperti itulah yang tersimpan di bawah ambang sadar otak manusia. Demikian pula ketika indra-indra sering merekam tayangan kekerasan, misalnya orang tua di rumah sering ribut, cekcok, berbicara kasar, maka prilaku anak cenderung mengarah pada corak kekerasan. Mereka menjadi broken home, karena di rumahnya tidak ditemukan kasih. Transformasi nilai kasih, kebajikan menjadi mandul dan anak tersebut menjadi generasi yang dibesarkan oleh hiburan dan cara serba instant. Kebiasaan-kebiasaan pikiran merekam hal-hal yang kurang bermanfaat namun nikmat sebatas indra sebagian juga melenakan masyarakat yang sudah berusia tua. Sekecil apa pun kelalaian manusia dalam menjaga miliknya yang amat berharga ini (pikiran), amat berpengaruh di sepanjang jalan hidupnya.

Kini konsumerisme semakin mendesak dan terus mengekspansi pikiran manusia. Jika menginginkan yang baik terjadi dalam hidup di kemudian hari, maka sebaiknya segera mengubah haluan pikiran dengan setting baik. Ada baiknya menginstal pikiran dengan slogan ”Awalilah hari-harimu dengan kasih (bangun pagi dengan doa), Isilah hari-harimu dengan kasih (dalam satu hari penuh mengumpulkan kebajikan), dan akhirilah hari-harimu dengan kasih (evaluasi malam hari dengan bersyukur’terima kasih Tuhan).”

Hidup manusia bagai buku tempat mencatat semua aktivitas setiap hari dan tak pernah berhenti menulisinya selama hidup. Ada catatan yang enak dan menarik serta bermanfaat untuk dibaca, ada juga catatan yang kurang menarik atau membuat jengkel. Tetapi demikian hebatnya anugrah Tuhan (Saracamuscaya, sloka 4) yang masih memberi kesempatan pada lembar baru untuk menuliskan yang lebih baik pada halaman berikutnya sebagai evaluasi/introspeksi halaman sebelumnya. Kesempatan baik di halaman baru untuk memperbaikinya dengan setting kekuatan pikiran baru yang positif setiap hari, sehingga belum terlambat untuk berbenah menjadi lebih baik. Yang lalu biarlah berlalu, mulailah dari sekarang.

(Penulis: dosen STKIP Agama Hindu Singaraja)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar