Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 20 Mei 2013

Kemenangan itu Hanya Sesaat

I Wayan Suja (Brahma Acharya Murti)

Hidup merupakan perjalanan spiritual dari keterikatan ragawi menuju kebebasan dan kebahagiaan abadi. Langkah awal dalam perjalanan panjang tersebut adalah menanamkan kesadaran bahwa kita bukan badan. Dengan menyadari hakekat sang diri adalah atman, tentu kita tidak mau hanyut dalam kenikmatan duniawi yang bersifat sangat sementara, sebaliknya ada kerinduan untuk selalu berusaha mendekatkan diri dengan Brahman. Dan, hidup dengan Tuhan sesungguhnya adalah proses pendidikan sejati karena akan membangkitkan sifat dan karakter keilahian di dalam diri.

Makna itulah yang diajarkan kepada umat Hindu, khususnya di Bali, dengan rerahinan Tumpek (berasal dari kata tampek), termasuk di antaranya Tumpek Wariga, yang dalam Lontar Sundari Bungkah, dimaknai sebagai wewarah ring raga. Lebih lanjut, langkah pertama dan utama tersebut juga dipandang sebagai tahap awal menuju kemenangan (Galungan).

Tidak akan pernah ada kemenangan tanpa perjuangan, dan perjuangan dalam konteks spiritual adalah ‘peperangan’ untuk mengalahkan diri sendiri (nafsu). Agar bisa mengendalikan nafsu kebinatangan yang ada di dalam diri, faktor lingkungan perlu diperhatikan. Lingkungan alam perlu ditata dan dilestarikan, pergaulan sosial perlu disucikan (Sugihan Jawa), diikuti –dan ini yang terpenting – penyucian tri kaya (Sugihan Bali). Penyucian diri untuk menuju kemenangan dilakukan dengan membiasakan diri melakukan tapa (penapean) dan itu mesti dilaksanakan dengan kesungguhan hati (penyajaan). Hanya dengan demikianlah manusia akan mampu menyembelih nafsu-nafsu kebinatangan yang ada di dalam dirinya (penampahan), dan baru secara spiritual berhak merayakan kemenangan Dharma atas adharma. Tanpa perjuangan, hanya ada kebanggaan ritualitas-simbolik, yang tidak memiliki dampak langsung terhadap perkembangan jiwa, bahkan bisa melahirkan kemunafikan religius.

Mengenai kekuatan tapa untuk mentransformasi diri secara alami dan ilmiah dapat kita lihat pada proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu melalui pembentukan kepompong. Seekor ulat berpenampilan menjijikkan dan bulu-bulunya menyebabkan gatal pada kulit siapa saja yang menyentuhnya. Kejelekan ulat tersebut menjadi sempurna dengan perilakunya merusak dedaunan. Namun, berkat “kesadaran” akan kelemahannya, ulat melakukan pengendalian diri, dan lewat tapanya dia telah berubah menjadi seekor kupu-kupu. Penampilannya pun berubah, menjadi cantik dan menarik, perilakunya juga sangat-sangat berubah. Kini dia telah menjadi dewa penolong bagi para petani. Dialah yang membantu penyerbukan bunga sehingga dapat berkembang menjadi buah, sebagai sumber makanan bagi kehidupan di muka bumi ini. Bercermin dari kesadaran sang ulat, leluhur masyarakat Bali mengenang proses metamorfosis tersebut pada saat “mengkafani” mayat dengan mengikatnya menggunakan tali katekung (kepompong). Kearifan lokal tersebut merupakan pelajaran bagi yang masih hidup, sementara mayat yang dikafani hanya menunggu waktu dimakan ulat.

Demikianlah, tanpa perjuangan kemenangan hanya harapan; dan perayaannya bisa mewujud menjadi prosesi ritual yang kehilangan makna spiritualnya. Perjuangan berat tersebut menuntut disiplin ketat dan tepat (brata), agar tidak hanya hilir mudik pada keriuhan ritual, atau hanya keluar masuk dalam kegaduhan tradisi tanpa tepi. Tanpa kemauan untuk mengkritisi perilaku sendiri, layaknya kerbau dicocok hidung, kita hanya bisa berjalan, hingga lutut dan kaki terasa letih. Namun, setelah dicermati dengan lebih jelas, perjalanan yang sedemikian lama dan melelahkan itu, sesungguhnya hanya perjalanan berputar-putar. Sepanjang waktu kita telah berjalan berputar mengelilingi patok budaya dimana tali tradisi itu ditambatkan. Akibatnya, kesenangan yang kita peroleh hanya kenikmatan ragawi yang bersifat sementara karena bersumber dari kemenangan semu, dimana sesungguhnya kita hanyalah pecundang dari kama, kroda, dan loba yang bersembunyi di dalam lubuk hati kita.

Sebuah sloka dalam Srīmad Bhāgavatam I. 17. 38 menyatakan, “Dyutam panaṁ striyah suna, yatradharmas catur vidah. Artinya, berjudi, minum minuman keras (termasuk juga madat), berzinah (selingkuh), dan membunuh binatang (makan daging) merupakan empat kaki adharma. Sayangnya, keempat patologi sosial tersebut justru tumbuh subur, terang benderang, di tanah Bali. Bahkan, pada hari-hari raya, termasuk pada saat merayakan kemenangan Dharma, judian tajen dilakukan di tempat-tempat terbuka, sementara cekian dan domino di rumah-rumah dengan lebih tersembunyi. Ini memang aneh, ternyata banyak krama Bali dan oknum penegak hukum “berselingkuh” melanggar hukum formal dan ajaran Veda, justru pada saat pemerintah memberikan ruang dan waktu agar umat Hindu bisa kusuk melaksanakan hari raya. Pelanggaran terhadap hukum dan norma sosial juga dilakukan dengan menyulap fasilitas umum, seperti pos kamling, balai banjar, atau trotoar jalan menjadi tempat “bergembira” minum minuman keras sambil berjoged, diiringi musik keras tanpa memperhitungkan, atau tidak mau tahu akan kebisingan yang ditimbulkannya. Kegaduhan akan semakin terakumulasi manakala dibumbui dengan cewek-cewek cafe yang kini menjamur di Bali, dan konon juga di-back up oleh para preman. Permasalahannya, kapan kesadaran akan bahaya laten tersebut terjadi di kalangan krama Bali?

Jika krama Bali hanyut dalam gelombang hedonistik, maka citra Bali sebelum datangnya penjajah Belanda akan kembali muncul. Bali saat itu dikenal sebagai pulau angker yang dihuni oleh para dedemit, tempat judian serta madat dan budak diperjualbelikan secara bebas. Setelah Belanda datang, lewat kegiatan promosi pariwisatanya, image Bali pun bisa diubah menjadi pulau Sorga. Namun sekarang, citra Bali justru sering dirusak oleh krama Bali sendiri. Masyarakat Bali mabuk dengan sanjungan dan menjadi pengagum masa lalunya sendiri. Disadari atau tidak, perilaku krama Bali telah banyak mengarahkan pulau sorga terakhir ini (the last paradise) menuju sorga yang hilang (the lost paradise). Jika tidak segera dibenahi, Bali akan mengalami kehancuran.

Kehancuran Bali mencakup kerusakan fisik, psikis, budaya, dan keimanan yang bisa disebabkan oleh beberapa hal berikut. Pertama, sikap cuek masyarakat dan aparat terhadap berbagai kemaksiatan yang terjadi di Bali, seperti judian serta cafe miras plus-plus. Kondisi itu bisa menyebabkan Bali di-Poso-kan atau di-Ambon-kan dengan dalih untuk menegakkan kemaslahatan dan melenyapkan kemunkaran. Kedua, ketidak-cerdasan seksualitas krama Bali yang rela mati demi kenikmatan nafsu ragawi. Kondisi itu didukung semakin menjamurnya warung dan cafe remang-remang yang aktif mentransmisikan HIV/AIDS lewat hubungan seksualitas. Akibatnya, penghuni tanah Bali ini sedang menuju kepunahan akibat nikmat sesaat. Ketiga, ketidakpenguasaan aspek produksi dan investasi di tanah Bali menyebabkan krama Bali menjadi jongos di kampung halaman sendiri atau hanya kena imbas dan penikmat sampah. Kondisi itu, secara perlahan namun pasti akan membuat krama Bali terpinggirkan, yang secara ekonomis ada dalam proses menuju kematian. Keempat, berkurangnya habitat akibat pengalihan hak milik tanah Bali kepada orang luar, sehingga krama Bali akan terasing di tanah kelahirannya sendiri dan susah mengekspresikan jati dirinya sebagai orang Bali lengkap dengan ke-Hinduan-nya. Kelima, kemunafikan sosial akibat krama Bali secara psikologis menganut paham ganda. Pada tataran pemikiran dan wacana mengikuti filsafat idealisme yang bersumber dari Pustaka Suci Veda (Agama Hindu), tetapi prakteknya justru lebih mendekati pragmatisme-liberal (Agama Pasar). Ketidaksatuan semangat trikaya tersebut hanya akan berakhir pada stress sosial, sebagai awal kehancuran suatu komunitas. Semoga semua ini tidak menjadi alternatif skenario kehancuran Bali dan semoga kita tidak hanya menang sesaat. Om Tat Sat.
(I Wayan Suja (Brahma Acharya Murti), pengasuh Ashram Yowana Widya Singaraja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar