Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 04 Maret 2013

Sadhana Harus Membawa Manusia Menuju Kepasrahan kepada Tuhan

A.A. Gede Raka

Banyak orang berbicara tentang sadhana, akan tetapi sadhana tidak semudah itu. Lebih mudah lagi untuk mengulang nama kesembilan jenis bhakti seperti: shravanam ‘mendengarkan dharmawacana atau pembacaan kitab-kitab suci’, kirtanam ‘menyanyikan nama Tuhan atau kidung suci’, dan seterusnya. Bilakah kita mencapai jenjang terakhir atmanivedanam ‘pasrah diri kepada Tuhan?’ Hanya setelah kita membina persahabatan (sneham) dengan Tuhan.


Ada beberapa orang yang tidak tahu apa sebenarnya persahabatan sejati. Mereka mengira bersahabat artinya saling menyapa,”Hallo,hallo.” Apakah artinya halo halo ini? Itu hanya sapaan biasa. Ini bukan persahabatan. Persahabatan merupakan pertalian yang tidak terpisahkan antara dua orang. Tubuh mereka mungkin berbeda, tetapi prinsip kehidupan mereka satu dan sama.

Jangan pernah meninggalkan jalan spiritual yang suci. Hanya dengan demikian hidup kita akan suci. Pasti kita akan dapat mencapai hal ini. Jangan membuang-buang waktu. Kini manusia membuang-buang banyak waktu untuk mengejar berbagai hal yang tidak berguna. Ada dikatakan, ”Kalaya namaha, kala kalaya namaha.” Waktu adalah segala-galanya. Bila kita melewatkan waktu yang demikian berharga untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna dan tidak suci, bagaimana kita dapat memperolehnya kembali? Hanya untuk menguduskan waktu, maka Tuhan telah menganugerahkan jangka hidup kepada kita.

Sebenarnya apakah tubuh manusia ini? Badan ini dapat diibaratkan dengan gelembung air yang setiap saat akan meletus. Pada suatu saat tubuh ini pasti akan binasa, entah hari ini, besok, atau lusa. Kita tidak perlu menyedihkan tubuh yang tidak langgeng ini karena yang telah datang pasti akan pergi, dan yang telah pergi pasti akan datang kembali. Karena itu, kita tidak perlu terlalu mementingkan kedatangan dan kepergian ini. Kita harus berusaha menyadari (atma) yang tidak lahir dan tidak mati, berusaha menyelidiki mana yang merupakan kebahagiaan dan mana yang merupakan kesedihan.

Apakah kesulitan itu? Kesulitan jauh lebih baik daripada kesenangan dan kemudahan. Tidak bijaksana bila kita berdoa memohon kebahagiaan dan kesenangan. Kebijaksanaan yang diperoleh pada saat-saat yang sulit, tidak didapat pada waktu kita menikmati kebahagiaan. Kini orang-orang ingin mencapai kaivalya ‘kebebasan dari lingkaran kelahiaran dan kematian’ tanpa menanggung kesulitan apa pun atau mengeluarkan uang sepeser pun. Bagaimana mungkin? Kita harus bekerja keras. Bila kita hanya duduk di suatu tempat dan bersenang-senang menikmati barbagai hal, maka kita akan mendapati bahwa aneka kesulitan itu menyakitkan. Kita baru menikmati kebahagiaan setelah mengalami berbagai kesulitan.

Suatu kali Krishna mengunjungi Kunti untuk menanyaknan apakah ia selamat dan sejahtera. Kunti bertanya kepada Krishna, ”Kapan Paduka datang? Bagaimana perang berlangsung?” Krishna menjawab, ”Ibu, kelahiran dan kematian, baik dan buruk, ini lazim bagi setiap orang. Ibu lupa tentang hal ini. Katakan kepada Saya apa yang Ibu kehendaki?” Kemudian Kunti mohon kepada Krishna, ”Nak, sampai saya meninggalkan raga dan menunggal dalam kaki suci Paduka, mohon terus berikan berbagai kesulitan kepada saya.” Krishna bertanya, ”Oh Ibu! Sejak Ibu menikah dengan Raja Pandu Ibu terus-menerus mengalami berbagai kesulitan. Apakah itu tidak cukup? Mengapa Ibu meminta kesulitan lagi?”

Kunti menjawab, ”Oh Krishna, Paduka tidak mengetahui bahagianya menanggung kesulitan. Hanya sayalah yang mengetahuinya. Karena saya telah mengalami berbagai kesulitan, saya terus-menerus menikmati kehadiran suci Paduka. Semua putra saya memperoleh rahmat Paduka. Putra-putra yang lahir dari rahim saya menerima karunia suci Paduka. Apa gunanya mempunyai sejumlah anak, jika mereka tidak memperoleh rahmat suci Paduka? Kebahagiaan apa yang saya dapatkan dari hal itu? Kunti melanjutkan, ”Mempunyai putra tidak membuat seseorang bahagia, tidak mempunyai putra tidak membuat seseorang rugi. Anak-anak yang lahir harus mendatangkan nama baik bagi keluarga. Mereka harus menempuh hidupnya dengan kelakuan yang baik. Mereka harus bergaul dengan teman-teman yang baik. Para putra saya berada dalam perlindungan Paduka. Dari pagi sampai malam mereka terus-menerus mengucapkan nama suci Paduka. Kebahagiaan apa lagi yang saya inginkan? Saya mohon agar saya terus menikmati kebahagiaan jiwa ini, oh Krishna.”

Apakah ibu-ibu zaman sekarang akan berdoa seperti itu? Apakah mereka memilih kesulitan dengan kemauannya sendiri? Mereka ingin mempunyai putra, tetapi mereka tidak ingin putra-putra mereka hidup dalam kehadiran suci Tuhan (Avatar). Mereka bahkan merasa takut pada kemungkinan semacam itu. Apa gunanya bila putra mereka duduk di suatu tempat tanpa mencapai kehadiran Tuhan? Manusia dilahirkan untuk mencapai kaki suci Tuhan.

Dalam kehidupan ini mungkin kita mengalami berbagai kesedihan, kehilangan, dan kesulitan. Hal itu jangan diindahkan. Kita harus selalu menganggap kehadiran Tuhan sebagai harta terhebat yang dapat kita cari. Kita harus meningkatkan bakti dan keyakinan yang mantap serta tak kunjung padam pada kebenaran abadi, yaitu Tuhan.

Orang-orang menghendaki bakti maupun segala hal lainnya di dunia objektif ini. Bagaimana mungkin? Kita hanya memiliki satu mulut dan ingin minum susu serta air bersamaan. Karena itu, kita harus menginginkan satu hal saja, yaitu Tuhan. Bila kita meningkatkan kerinduan kepada Tuhan, Beliau akan merahmati kita. Kehadiran Tuhan akan memberi kebahagiaan sejati. Hanya itulah kebahagiaan yang langgeng. Tidak ada penderitaan, kesedihan, dan kecemasan dalam kehadiran Tuhan. Tuhan adalah perwujudan kebahagiaan jiwa. Tuhan selalu memberikan kebahagiaan belaka. Mamaivamsho jivaloke, jivabhutah sanatanah ‘Atma yang abadi di dalam segala makhluk merupakan bagian dari diri-Ku’ (Bhagawad Gita,15 : 7).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar