Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 04 Maret 2013

BERORIENTASI MENCAPAI MOKSHA

Dewi Inggita Manohara Duarsa (Jayapura – Papua)

Banyak orang mengabaikan akan poin ke lima dasar keyakinan kita sebagai umat Hindu (Panca Sradha). Ada pun lima poin Panca Sradha itu adalah, yakin dan percaya adanya Brahman, yakin dan percaya adanya Atma, yakin dan percaya adanya Reinkarnasi, yakin dan percaya adanya hukum Karma Phala dan yakin dan percaya adanya Moksha.

Karena moksha dianggap sebagai suatu yang eksklusif, sehingga jarang untuk dibahas dan apalagi untuk dijadikan suatu obsesi untuk mencapainya. Karena kalaupun dibahas dalam setiap percakapan akan sangat terkesan naif dan dianggap aneh (asing) bahkan akan dianggap sebagai sebuah ego spiritual, karena akan dianggap kok berani-beraninya berorientasi mencapai moksha.

Berorientasilah kepada Tuhan, hubungkan sikap hati ini selalu kepada-Nya sehingga sikap hati selalu mengarah dan terhubung kepada-Nya sehingga kita bisa hidup dalam kesadaran yang lebih tinggi, yaitu kesadaran Tuhan. Bhagawad Gita 9.34, menyebutkan: Berpikirlah tentang-Ku senantiasa, jadilah penyembah- Ku. Dengan berpikir tentang-Ku sepenuhnya secara khusuk, pasti engkau akan datang kepada-Ku.

Selanjutnya pada Bhagawad Gita 18.65 menyebutkan: Berpikir tentang-Ku senantiasa, jadilah penyembah-Ku dan bersujud kepada-Ku. Dengan demikian, pasti engkau akan datang kepada-Ku. aku berjanji demikian kepadamu karena engkau kawanku yang sangat Ku-cintai.

Demikian juga dalam Bhagawad Gita 18.66 disebutkan: Tinggalkan segala jenis dharma dan hanya menyerahkan diri kepada-Ku. Aku akan menyelamatkan engkau dari segala reaksi dosa. Jangan takut.

Demikian hiduplah dalam kesadaran Tuhan, sehingga hal yang utama adalah mengutamakan Tuhan dan kehendak-Nyalah sebagai pilihan utama satu-satunya setiap saat, setiap waktu terus menerus dan selamanya tidak pernah putus putus. Oleh karena apa yang kita lakukan tidak berarti apa-apa, tapi Tuhan sudah memberikan yang terindah. Kita tinggal menerima dan menjalankan apa yang Tuhan telah berikan, demikian pula hanyalah kasih sayang Tuhan-lah yang terbaik. Apa yang kita lakukan adalah hanya kesediaan untuk menerima apa yang telah sedang Tuhan berikan.

Demikian pula Tuhan tidak pernah manguji atau menghukum manusia, Tuhan Maha Pengasih. Tuhan tidak memerlukan pengalaman hidup manusia. Manusia yang perlu dengan pengalaman, agar manusia pada akhirnya hanya memilih kasih Tuhan, berorientasi kepada Tuhan. Tuhan bersama kita memiliki arti yang berbeda dengan kita bersama Tuhan (ada usaha), karena kita hanya memilih untuk bersedia dikasihi dan disayangi Tuhan (sikap hati).

Seperti analogi yang sederhana ketika kita menyantap makanan. Dalam menyantap makanan, kalau tanpa prinsip Brahman, tiada apa pun yang ada, entah itu eter, udara, api, air, tanah, tanaman, atau makanan. Tanpa makanan, manusia tidak dapat bertahan hidup. Atas dasar inilah Weda menyatakan, ”Annam Brahma” ’makanan adalah Tuhan’. Apakah makanan? Apakah hanya terdiri dari nasi dan sayuran yang kita makan? Tidak. Seluruh dunia ini terdiri dari makanan. Tubuh yang satu merupakan makanan bagi tubuh yang lain. Yang kita makan adalah makanan, dan yang makan pun adalah makanan. Segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah makanan. Karena itu, dikatakan makanan adalah Tuhan. Engkau mempersembahkan makanan kepada Tuhan dengan mengucapkan, ”Brahmarpanan brahma havirbrahma gnau brahmanahutam brahmaiva tewa gantavyam brahmakarma samadhina,” (Bhagawad Gita IV:24). Orang yang tekun sepenuhnya dalam kesadaran Krishna pasti akan mencapai kerajaan rohani karena dia sudah menyumbang sepenuhnya kepada kegiatan rohani. Dalam kegiatan rohani tersebut penyempurnaan bersifat mutlak dan apa yang dipersembahkan juga mempunyai sifat rohani yang sama. Akan tetapi dimanakah Tuhan? Tuhan ada didalam dirimu, ”Aham vaisvanaro bhutva praninam dehan asritaham pranapana samayuktaha pancamyannam caturvidham.,” (Bhagavad Gita XV:14) artinya ”Aku ada di dalam dirimu dalam bentuk vaisvanara ’api pencernaan’, mencerna makanan yang kau makan.”

Dengan demikian dalam segala hal kita selalu terhubung kepada Tuhan Sri Krishna dan Avatar pun Telah Mengucapkan Tiga Janji. Penjelmaan Tuhan (Krishna) telah mengucapkan tiga janji sebagai berikut: dari abad ke abad Beliau akan menjelma untuk menegaskan darma. (Paritranaya sadhunam, vinashaya ca dushkritam, dharma-samsthapanarthaya sambhavami yuge yuge) Bhagawad Gita 4:8. Seanjutnya, Tuhan akan memelihara, menjaga serta mengurus mereka yang selalu merenungkan Beliau (Ananyash cintayanto mam ye janah paryupasate, tesham nityabhiyuktanam yoga kshemam vahamy aham.) Bhagawad Gita 9:22. Dan ketiga, Tuhan akan menganugerahkan kebebasan kepada mereka yang pasrah sepenuhnya kepada Beliau. (Sarva-dharman parityajya mam ekam sharanam vraja, aham tvam sarva-papebhyo mokshayishyami ma shucah.) Bhagawad Gita 18:66

Demikian pula kita harus mengambil tiga ikrar, yaitu, kita harus percaya teguh akan adanya Tuhan, kita harus menghayati Tuhan, dan kita akan manunggal dengan Tuhan (Moksha). Berusahalah sekuat tenaga menemukan ikrar ini. Dengan cara menyerahkan diri seutuh-utuhnya kepada Tuhan, memohon berkat pengampunannya atas segala dosa-dosa, agar Tuhan membantu kita untuk memutus mata rantai kematian dan kelahiran (Samsara). Hanya berkat Tuhan-lah yang bisa memberikan anugerah untuk kita bisa manunggal dengan-Nya (Moksha).
(Penulis adalah Notaris dan PPAT Kota Jayapura).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar