Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 19 Maret 2013

FUNGSI GENDER WAYANG DALAM YADNYA

I Ketut Yasa

Bali adalah salah satu pulau di Indonesia yang sangat terkenal. Sebagai satu-satunya daerah di Nusantara, tempat sisa-sisa Kebudayaan Hindu tampak jelas, seperti balai-balai pemujaan telah banyak dipotret, upacara-upacara keagamaannya telah banyak dianalisa, cara berpikir rakyatnya telah banyak dikupas secara mendalam, kecantikan wanita-wanitanya telah banyak dipuji oleh para ahli etnografi (Clifford Geertz, 1984: 246).

Peryataan di atas menunjukkan, bahwa paling tidak ada dua unsur fokus kebudayaan yang menjadikan Bali sangat terkenal, yaitu kesenian dan upacara keagamaannya. Masyarakat Bali di dalam hidup kesehariannya, di samping mencari nafkah dengan berbagai profesi misalnya buruh tani, buruh bangunan, pedagang, penjahit, pengrajin, pegawai negeri sipil (PNS), polisi, tentara, karayawan swasta, pemandu wisata dan lain sebagainya, juga melakukan kegiatan upacara adat maupun keagamaan. Upacara keagamaan itu disebut Panca Yadnya, yaitu Dewa, Resi, Manusa, Pitra, dan Bhuta Yadnya. Hampir semua upacara tersebut melibatkan kesenian dalam berbagai bentuk cabang seni: rupa, tari, karawitan, pakeliran, dan sastra.

Cabang seni karawitan dalam penyajiannya didukung oleh kurang lebih 30 (tiga puluh) jenis barung (perangkat) gamelan Bali yang masing-masing memiliki fungsi, instrumen, tangga nada, repertoar maupun kharakter gending, warna suara, dan masyarakat pendukung yang berbeda-beda. Dari 30 jenis perangkat tersebut, satu diantaranya adalah gender wayang. Perangkat gamelan ini terdiri dari satu sampai dua pasang instrumen gender wayang, dengan menggunakan sepuluh bilah (juga disebut dengan istilah gender dasa), dan lima nada berlaras slendro. Masing-masing instrumen ditabuh (dimainkan) oleh seorang penabuh dengan mengunakan dua alat pukul yang disebut panggul. Dengan demikian para penabuh (pemain) menabuh (memukul) dan memitet (menutup) sekaligus.

Gender wayang oleh masyarakat (Hindu) di Bali digunakan dalam Yadnya antara lain: Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya. Dewa Yadnya adalah upacara yang ditujukan kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) beserta manifestasinya. Upacara-upacara yang tergolong dalam Dewa Yadnya di antaranya piodalan, memungkah (ngenteg linggih) di Pura-pura dan atau di Sanggah (Mrajan). Upacara ini biasanya dilakukan bertepatan dengan bulan purnama, dan tidak jarang pula dilaksanakan bertepatan hari-hari raya umat Hindu seperti Saraswati, Pagerwesi, Galungan, Pamacekan, Kuningan dan lain sebagainya.

Gender wayang dalam Dewa Yadnya digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang lemah yang diselenggarakan bertepatan dengan pendeta menghaturkan puja wali pada saat upacara berlangsung. Pertunjukan wayang lemah wajib dilakukan pada upacara tingkatan tertentu, misalnya memungkah atau ngenteg linggih. Hal ini diwajibkan karena pertunjukan wayang lemah bersifat seni wali, yaitu kesenian berfungsi sebagai sarana dalam upacara. Tanpa ada seni wali ini, maka upacara dianggap kurang lengkap, kurang sempurna. Oleh karena itu pertunjukan wayang lemah selalu hadir dalam piodalan tingkat tertentu.

Selanjutnya, Pitra Yadnya dikonsepsikan sebagai upacara yang ditujukan kepada roh leluhur yang belum disucikan. Dalam proses penyucian inilah diadakan upacara ngaben dan nyekah. Upacara ngaben yang dikenal dengan sebutan cremation, merupakan upacara pensucian roh leluhur pada tingkat awal (masih bersifat kasar), karena akan dilanjutkan dengan tingkatan yang lebih halus yang dikenal dengan nyekah atau memukur.

Kegunaan karawitan gender wayang dalam Pitra Yadnya biasanya pada upacara ngaben pada tingkat utama (besar-besaran). Seperti dimaklumi bahwa setiap pelaksanaan upacara di Bali selalu menggunakan tingkatan. Tingkatan tersebut secara garis besarnya dapat dibagi tiga, yaitu, (1) utama (besar/mewah), (2) madya (sedang) dan (3) nista (sederhana). Dikatakan secara garis besar, karena tingkatan-tingkatan tersebut di atas dapat dibagi lagi menjadi misalnya yang tingkat utama dapat dibagi lagi menjadi utaming utama, utaming madya dan utaming nista. Begitu pula tingkatan madya dapat dibagi lagi menjadi madyaning utama, madyaning madya dan madyaning nista dan seterusnya.

Pada upacara ngaben besar-besaran, biasanya menggunakan wadah/ bade sebagai tempat jenazah yang di bawahnya (pangkal wadah yang berhubungan dengan rangkaian bambu (Bali: sanan) sebagai penyangga atau sarana pengusung), diapit sepasang gender wayang lengkap dengan penabuhnya. Karawitan gender wayang ini disajikan sepanjang rute (prosesi) dari rumah duka menuju ke tempat pembakaran. Menyajikan gender wayang dalam acara ini menurut I Nyoman Sukerna (1989: 12) disebut dengan Masalonding.

Kemudian Manusa Yadnya merupakan korban suci untuk memelihara dan membersihkan lahir-bathin manusia, mulai dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia. Upacara yang tergolong dalam manusa yadnya adalah pagedong-gedongan, merupakan upacara bayi umur lima bulan Bali (enam bulan kalender) dalam kandungan. Selanjutnya upacara bayi lahir (kelahiran), kepus (lepas) tali puser, nglepas aon (awon), upacara bayi umur 12 hari; kambuhan yaitu upacara bayi berumur 42 hari (bulan pitung dina); upacara bayi umur tiga bulan (nyambutin); upacara bayi satu oton (enam bulan Bali); upacara tumbuh gigi; upacara meketus (tanggal gigi pertama); upacara menginjak dewasa (munggah deha/teruna; upacara potong gigi (mesangih); upacara mewinten, dan yang terakhir upacara perkawitan (Team Penyusun, 2007: 200-237).

Dari sejumlah upacara dalam Manusa Yadnya yang disebutkan di depan, gender wayang selalu digunakan dalam upacara mesangih. Mesangih berasal dari kata “sangih” yang artinya asah. Mendapat awalan “me” menjadi mesangih yang artinya mengasah, dalam hal ini meratakan gigi dengan kikir kecil yang sangat halus. I Wayan Griya dkk. (1984) menyatakan, bahwa selain mesangih ada juga sebutan mepandes (di kalangan bangsawan) dan mepapar bagi golongan Bali Age, yang kesemuanya berarti potong gigi.

Mengapa masyarakat (Hindu) Bali melaksanakan potong gigi? Dari konsep dualistik dalam budaya Bali merupakan pandangan adanya dua kekuatan yang bertentangan namun tetap dalam satu kesatuan. Dalam potong gigi konsepsi ini ditekankan pada sifat bersih (suci) dan leteh (kotor). Bagi mereka yang belum potong gigi dianggap masih kotor, sehingga setelah meninggal tidak bisa bertemu dengan Ibu Bapanya (Tuhan Yang Maha Esa). Hal ini diperkuat dengan adanya Kala Tattwa (I Gusti Agung Gd Putra, n d: 6-7).

Konsepsi dualistik juga mengandung pengertian sifat kemanusiaan dan sifat kebinatangan; kejahatan dan kebaikan. Maka tujuan dari potong gigi adalah untuk memersihkan yang kotor, mengurangi perilaku yang menjurus kepada kejahatan, yang pada ajaran agama Hindu tercakup dalam Sadripu (I Gusti Agung Gd Putra, n d: 18). Dengan mengasah (meratakan) enam buah gigi (dua taring dan empat gigi seri) bagian atas, diharapkan anak yang diupacarai kelak mampu mengendalikan Sadripu, (enam musuh utama dari kebaikan) yaitu, kama, kroda, lobha, moha, mada, dan matsarya.

Di depan disebutkan, bahwa gamelan yang digunakan dalam mesangih selalu gender wayang, bukan gamelan lain misalnya gong kebyar. Hal ini disebabkan gender wayang dianggap semi angklung. Dalam konteks ini angklung lekat dengan fungsinya yaitu untuk acara kematian, karena berpotensi sebagai pendukung suasana sedih. Gender wayang dalam potong gigi sesungguhnya juga berfungsi pendukung suasana sedih, karena upacara ini dimaknai sebagai “mematikan” Sadripu agar dapat dikendalikan. Maksudnya anak yang telah diupacarai kelak dalam kehidupan sehari-harinya mampu mengelola Sadripu secara proporsional dan profesional.

Dari pemaparan di depan dapat dikatakan, bahwa gender wayang memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat (Hindu) Bali dalam kaitannya dengan upacara adat maupun keagamaan. Dengan demikian kehidupan gender wayang akan tetap lestari. Mungkin hanya perubahan struktur masyarakat dan perubahan penghayatan ritus agama yang akan mampu mengubah posisi dari gender wayang. Semoga. (Penulis dosen ISI Surakarta).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar