Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 18 Desember 2012

Senandung Gayatri Tentramkan Pasar

Mula-mula dirasakan asing di telinga mereka. Namun seiring dengan bergeraknya waktu, alunan mantram itu semakin merasuk ke dalam hatinya. Sampai akhirnya mereka menerima dengan tentram. “Hati saya jadi tentram kala mendengarkan mantram itu,” kata Kadek Trisna Sarinadi.

Kadek Trisna adalah salah satu pedagang di kompleks Pasar Anyar Singaraja, Bali. Sejak tiga bulan lalu dia rutin mendengar alunan Gayatri Mantram yang diperdengarkan oleh pedagang di sebelahnya. “Ya, sejak September lalu kami mulai buka,” kata Kadek Eli Marheni (28), penjaga Toko Narayani. Toko itu menjual segala keperluan untuk sembahyang, seperti dupa, aksesoris, perhiasan, sok kasi, dulang, lukisan dewa, dan lain-lain. Sendirian Eli menjaga toko itu dari pagi sampai sore selama 12 jam. Dupa-dupa yang dijual umumnya bermerk atau berkualitas tinggi dan baunya sangat harum. Sejak buka hingga tutup dia biasanya memutar cakram padat Gayatri Mantram.

Jika lewat di dekat toko itu, maka yang mula-mula terangsang adalah indria telinga. Sebab Gayatri Mantram mengalun cukup nyaring mengalahkan suara-suara para pedagang yang kadang setengah berteriak menawarkan dagangannya. Mudah ditebak bahwa iramanya adalah irama India. Mengalun terus sepanjang siang selama toko itu buka. Kalaupun diganti dengan cakram lain, paling yang diputar adalah film kolosal Mahabarata. Sehingga pembeli yang lalu-lalang dapat menikmati gratis mantram tersebut. Mereka yang berjualan di dekatnya, tentu saja lebih lama bisa menikmati, seperti yang dialami Trisna Sarinadi, pedagang yang menjual aneka jajan untuk keperluan upacara.

Ketut Rentianing, seorang pedagang buah-buahan, yang menggelar dagangan persis di muka Toko Narayani juga mengakui ada rasa tenang dan damai tat kala mendengar alunan Gayatri Mantram. Pendek kata, hampir semua pedagang di sekitarnya memberikan komentar senada.

Pemilik toko itu, Gusti Bagus Ketut Latria, mengaku senang kalau ternyata dagangannya itu menimbulkan efek positif kepada lingkungan sekitarnya. Dia mengaku, usahanya itu bukan sekadar bisnis belaka, melainkan sebagai gabungan antara bisnis dan kegiatan spiritual. Latria mengatakan, toko sejenis itu ia bangun di lima tempat berbeda. Empat buah adanya di Singaraja serta sebuah lagi di Seririt, kota terbesar kedua di Buleleng. Gayatri Mantram memang mampu membiaskan ketenangan kepada siapa pun yang mau tunduk hati mendengarkannya. Apalagi bila mantram itu dipakai sebagai japa. Pasti bertambah-tambah bonus spiritual yang didapat. Cobalah mulai sekarang dan rasakan hasilnya setelah beberapa waktu. Selamat mencoba. (Made Mustika)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar