Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 18 Desember 2012

Mengatasi Trauma Pada Anak-Anak (Pasca Kasus Lampung)

I Gusti Ayu Tri Agustiana

Peristiwa Lampung Selatan, selain menghancurkan secara fisik, juga menimbulkan trauma, baik bagi warga penyerang maupun warga Balinuraga yang diserang. Trauma selalu hadir dalam sejarah kehidupan umat manusia di permukaan bumi ini, sebab keberagaman persoalan muncul silih berganti seolah tidak pernah habis-habisnya, seperti konflik, kekerasan, pertumpahan darah dan lain sebagainya. Belum lagi problematika alamiah seperti bencana alam, gempa bumi, tsunami, meletus gunung api, tanah longsor, banjir, badai topan, dan lain-lain. Keberagaman peristiwa dan pengalaman yang menakutkan tersebut, selain telah memporak-porandakan kondisi fisik lingkungan hidup, juga merusak ketahanan fungsi mental manusia yang mengalaminya, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam waktu yang singkat dan jangka panjang, sehingga terjadi trauma psikologis.

Trauma psikologis adalah jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, yang mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan. Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi akibat peristiwa yang dialami seseorang. Para Psikolog menyatakan, trauma dalam istilah psikologi berarti suatu benturan atau suatu kejadian yang dialami seseorang dan meninggalkan bekas. Biasanya bersifat negative, dalam istilah psikologi disebut post-traumatic syndrome disorder.

Berikut ada beberapa tahap dalam menangani trauma, yaitu, pertama, Planning, Konsep ini merupakan pemikiran dasar dalam rangka menjalankan tugas secara menyeluruh. Tanpa planning yang tepat, kesulitan akan segera menghadang. Dengan adanya planning, maka segala sesuatu yang dibutuhkan dalam aplikasi kerja akan berjalan dengan baik dan terfokus.

Kedua, action. Setelah perencanaan yang matang, maka langkah kerja selanjutnya adalah aksinya (perbuatan). Dalam aksi, segala hal/masalah yang hendak dianalisis atau dikaji akan menjadi terorganisasi, sistematis dan terintegrasi, sehingga memperjelas metode, pendekatan dan upaya problem solving (pemecahan masalah).

Ketiga, controlling: Konsep ini menjadi penting karena apabila terjadi kekeliruan metode, pendekatan dan konsep sebagaimana yang telah direncanakan dan diaplikasikan dilapangan maka dapat dikontrol, dan memungkinkan konselor untuk mengubah cara-cara lain yang sesuai dengan bobot masalah.

Keempat, evaluation: Kegunaan konsep evaluasi adalah untuk melihat sejauh mana proses perkembangan kesembuhan traumatik yang diderita oleh individu dalam upaya pemberian bantuan, apakah dilanjutkan atau dihentikan (bila dianggap sudah normal).

Tahap tehap tersebut akan memudahkan konselor, guru, dokter, dan sebagainya dalam upaya diagnosis awal (deteksi dini) dimulai bagi penderita traumatik. Kemudian baru dilanjutkan dengan tahap penyembuhan (penanganan). Pada tahap penanganan awal terhadap penderita traumatik, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh konselor, guru, dokter, ulama, tokoh agama Hindu, tokoh adat, diantaranya: Pertama, Direct Techniqe Aplication (a) Pemberian bantuan langsung; chek kesehatan, materi, dan lain-lain. (b) Di sini konselor, guru, dokter, tokoh agama, tokoh adat, dan sebagainya, diharapkan harus terlibat langsung mengadakan penanganan korban trauma. (c) Bagaimana proses penyesuaian diri, interaksi, komunikasi dan sikap para petugas akan sangat menentukan berhasil tidaknya pemberian bantuan penyembuhan. Pola kepribadian petugas adalah kunci utama dalam penanganan koran trauma. (d) dengan teknik langsung ini, metode self help group akan menjadi efektif, kohesif dan kreatif, dan sebagainya.

Kedua, FGD Techniqe Aplication: (a) Terapi model ini akan menghasilkan suasana kebersamaan, satu rasa dan satu tujuan kelompok. (b) Akan terbentuk persepsi diri dan persepsi sosial secara baik bagi penderita trauma (c) Akan terbentuk konsep diri secara baik bagi penderita trauma (d) Dengan teknik ini akan memungkinkan dilakukan usaha ke arah pengembangan dan pemberdayaan keterampilan dalam berbagai bentuk; karya wisata, kegiatan perlombaan, life skill, cerita cerita tentang penderitaan Pandawa lima ketika terbuang , sehingga dapat digunakan sebagai terapi terhadap trauma. Merujuk pada model penanganan tersebut, yang lebih para pemberi bantuan terhadap korban trauma mampu menjabarkan empati secara proporsional dan profesional, sehingga penanganan yang dilakukan dapat memberi hasil maksimal.

Kempat, berdialog (a) Tanya pada anak tokoh yang disenangi, kemudian ceritakan kehebatan sang tokoh tersebut. Misal : (si anak suka Bima, ceritakan bahwa Bima itu hebat, kuat dll). (3) Kemudian tanyakan kepada anak, misal: Made kan suka dengan kehebatan si Bima, apakah Made sama hebatnya Bima. Sampai anak menganggukan kepala (karena dalam teori pikiran dengan menganggukan kepala atau mengatakan “iya” maka bawah sadarnya membuka diri untuk kesembuhan). Kemudian lanjutnya, katakan pada anak, “Nah, kalau berani dan hebatnya, maka Made tidak perlu takut dengan kucing (contoh masalah) karena kucing kecil, Made besar, dan harus baik-baik dengan kucing”. Kalau perlu, dapat diberi boneka kucing dan berikan sugesti positif. (4) .Sugesti harus disesuaikan dengan bahasa anak yang singkat, jelas, dan mudah dimengerti/dipahami anak)” . Katakan berulang-ulang/berikan apresiasi atas keberanian, kemajuan/perubahan anak. Dicium dan dipeluk. (lakukan sampai 21 hari atau 40 hari secara konsisten)

Keempat, Teknik EFT (emotional freedom technique). Ketuk ringan dengan kedua jari di bawah tulang mata anak sambil memberikan sugesti kepada anak (diusahakan anak mengikuti perintahnya): ya Tuhan… saya adalah anak pemberani, anak hebat, dan anak pintar (3x). Saya berani dengan kucing, saya sayang dengan kucing… dan lain-lain. (lakukan sampai 21 hari atau 40 hari secara konsisten)

Kelima, memberikan Sugestif positif. Pada saat antara mengantuk dengan dengan tidur, berikan sugesti positif, seperti tentang keberanian, kehebatan, dan kasih sayang orang tua. Misal: Made sudah pintar, berani, kuat seperti Bima dan berani dengan kucing…dan baik dengan kucing… Ayah sayang dengan Made, Ibu juga juga sayang dengan Made …(sampai mengatakan iya ) (lakukan sampai 21 hari atau 40 hari secara konsisten).

Saran: gunakan semua kelima cara sampai dengan 21 hari atau 40 hari, dengan menyisipkan meditasi duduk hening, bernyanyi (bhajan), pelayanan dan berikan cerita tentang nilai-nilai Hindu, biasanya ada perubahan dalam waktu beberapa hari. Saran untuk orang tua, imajinasikan ketika melakukan Gayatri mantra, atau Om nama siwaya, biasakan mental imajinasi apa yang kita pikirkan dan kita rasakan bahwa anak kita cepat sembuh dalam trauma/phobia (dalam teori pikiran mengatakan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan adalah doa dan doa yang paling cepat terkabul adalah apa yang kita rasakan, kemudian apa yang kita pikirkan). Semoga pikiran baik datang dari segala arah.

(Penulis adalah Dosen Jurusan PGSD FIP Universitas Pendidikan Ganesha).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar