Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 18 Desember 2012

Bagus Sudibya: Dengan Sedikit Kreatifitas, Orang Bali Bisa Berkecukupan

Selama ini sering dikeluhkan mengenai tidak meratanya distribusi pertumbuhan ekonomi di Bali. Sektor Pariwisata sering menjadi pusat kecemburuan sektor-sektor lain, terutama pertanian yang dianggap diabaikan oleh pemerintah. Akibatnya, konon sebagian besar masyarakat Bali masih hidup dalam keterbatasan, sebab investasi di bidang kepariwisataan modalnya sebagian besar dikuasai pihak luar. Tetapi di mata pelaku Pariwisata, Bagus Sudibya, anggapan tersebut sebenarnya bisa diruntuhkan, asalkan masyarakat mau sedikit kreatif memanfaatkan peluang dan mau inovatif dalam berusaha.

Bagus Sudibya yang kelahiran Karangasem, 22 Agustus 1952 silam ini lantas memberi contoh real. Ia menyebutkan, hasil-hasil produk pertanian sebenarnya bisa sesuaikan dengan kebutuhan pasar, supaya dapat men-suply kebutuhan pariwisata. Misalnya dengan bertanam bunga mawar atau anggrek, kebutuhan hidup kita bisa tercukupi. Demikian juga apa bila menanam tanaman strauberi dengan luas 5 are saja, asal kita kenali teknologinya, pasarnya, maka itu lebih dari cukup untuk biaya hidup. “Atau memelihara ayam kampung sekitar 1000 ekor saja, maka pasar tersedia luas, karena saya yakin kebutuhan ayam kampung tidak hanya kebutuhan bagi wisatawan saja, tetapi kita juga membutuhkan ayam kampung untuk upakara Hindu. Misalnya kalau upacara dibutuhkan ayam kampung yang bulunya tertentu, seperti brumbun, ada serawah, ijo dan biying, biying kawat, dan lain-lain,” jelasnya.

Suami dari Jaya Wardani ini melanjutkan, bertanam kayu pun cukup prospektif. Kebutuhan pohon waru rot, albesia, cempaka, cendana dan lainnya untuk bahan sanggah. “Saya kebetulan menanam 10 Ribu batang tanaman kayu jati kebon yang dinamakan jabon, di atas tanah sekitar lima hektar, di Ponjok Batu, Buleleng. Saya harapkan dengan 10 ribu tanaman pohon tersebut kalau saja satu pohon nantinya menghasilkan setengah atau satu kibik, nantinya boleh saya berangan-angan setelah sepuluh tahun saya akan memanen lima ribu kibik jati kebon. Kalau harganya 1 juta saja, berarti ada uang lima miliyar dalam sepuluh tahun,” terangnya. Jika dibagi 10 tahun, berarti potensi penghasilannya hampir setengah miliar dalam satu tahun.

Bagus Sudibya yang pernah belajar di Oxford, Inggris pada tahun 1978-1980, dan menyelesaikan post the gree di Institute of Tourism Hotel Management di Salsburg, Austria tahun 1980, menambahkan keterangannya, bahwa setelah bertanam pohon ditambahkan kreatifitas dengan bertanam kacang tanah, kedelai, undis, kates, pisang, di bawah jati, maka hasilnya bisa bertambah-tambah. Dengan demikian ia merasa aneh, ketika mendengar orang lebih cendrung menyalahkan situasi, dengan mengatakan pariwisata tidak berpihak pada masyarakat. “Oleh karena kita ribut dan marah-marah, tidak bersatu dengan sesama umat Hindu, maka orang lain menikmati keributan itu,” ingat Bagus Sudibya.
Rebut Peluang dan Jangan Gengsi

Fenomena berbagai peluang di bali yang direbut para pendatang juga tak luput dari penga,atannya. Misalnya, janur sudah didatangkan dari luar, bahkan pedagang canang pun sudah ada dari orang luar. Sementarakan tatkala pariwisata sedang berjalan, para guide punya uang, para sopir, pekerja hotel punya uang, para pekerja hotel punya uang, dan tentu mereka astiti bhakti inget ken susuhunan, inget ken Widhi, tapi karena kesibukannya mereka ia tak sempat buat canang dan ia pun beli canang. Ini sebenarnya bisa dijadikan peluang. Lalu kenapa kok peluang tersebut kita biarkan diambil oleh orang lain?

“Salah satu contoh lagi sekarang kita kesulitan mencari tukang untuk memasang atap rumah dari alang-alang. Sangat sulit mencari tenaga kerjanya, artinya tidak ada yang mau, entah gengsi atau apa, sehingga kok orang luar yang akhirnya memasang dan mendapatkan peluang tersebut. Bahkan untuk memasang tembok pepilahan pun saya lihat sudah dikerjakan orang luar,” jelasnya. Oleh karena itulah selama 30 tahun, Bapak dari 4 orang anak ini mencoba membuktikan pemikirannya untuk mensinergikan pariwisata dengan pertanian. Ternyata sesudah dilakoninya ternyata bisa.

“Malah ditempat saya membuat usaha itu sekarang di suatu banjar yang terdiri dari beberapa puluh orang. Mereka punya gong, kadang mereka menabuh, mereka punya grup penari. Mereka membantu tatkala ada kegiatan-kegiatan di desa, tiap ada piodalan mereka menyumbang, ini kan hal positif,” imbuhnya.

Menurutnya, kalau semua para pengusaha Bali yang tinggal di Bali semua berpikir seperti itu, membuka usaha di kampungnya, maka tidak semua orang mesti pergi ke Badung atau Denpasar untuk berebut sesuap nasi. Sebenarnya kalau seseorang berbuat di kampungnya pun bisa meraup rejeki. “Saya punya teman yang punya restaurant Cianjur di Renon, perhari dia membutuhkan pucuk labu lebih dari 20 kilogram, juga sekitar 25 kilogram kangkung bagus dia butuhkan perhari, belum lagi kebutuhan gurami dan ikan nila, karena tiap hari dia butuh setengah ton ikan gurami dan nila untuk 2 restaurannya. Peluang itu coba saya tawarkan kepada sejumlah masyarakat di kampung, tapi mereka cenderung lebih tertarik mencari rejeki di tajen,” demikian ia berkisah.

Jadi kalau sudah demikian siapa yang harus disalahkan, kalau kita sendiri tidak menyadari betapa peluang itu sebenarnya telah ada, tapi kita biarkan begitu saja berlalu, ya salah siapa? Contoh lainnya, sekarang para pemimpin di Bali bingung memikirkan, karena tuak dan arak itu susah memproduksinya, karena merupakan minuman keras yang dilarang peredarannya. Padahal itu adalah konsumsi masyarakat lokal dan wisatawan. Tetapi kita lupa bahwasannya tuak itu bisa dibuat menjadi gula merah (brown sugar) yang jauh lebih sehat dari gula putih atau gula pasir. Kalau jual arak susah, maka olah tuak menjadi gula merah dan gula merah itu diolah lagi menjadi gula semut yang bisa dikemas dalam kemasan sushet. “Saya yakin produksi gula semut bisa masuk hotel, karena terbukti brown sugar yang digunakan di tiga hotel saya lebih diminati wisatawan ketimbang gula putih,” sebutnya.

Ia menganjurkan, untuk di Bali, pemerintah semestinya lebih bekerja untuk memandirikan masyarakatnya dan membuat lapangan pekerjaan, bukan memberi bantuan dalam bentuk beras miskin. Bantuan seperti ini kadang-kadang membuat masyarakat yang tadinya sudah rajin menjadi malas, dan yang malas semakin malas.

Bagus Sudibya sendiri merintis usaha pariwisata dengan mendirikan usaha Nusa Dua Bali Tour and Travel. Pada saat itu kebanyakan tamu-tamu kami berbahasa Jerman, Swis Austria, Inggris, Jepang, AS, akan tetapi mayoritas tamunya berbahasa Jerman, sesuai dengan keahlian bahasa Bagus Sudibya.

Sang istri awalnya adalah seorang PNS, namun sejak tahun 1987 istrinya bergabung mengelola usaha pariwisata, dimana pada tahun itu mereka baru merintis membangun sebuah hotel di Candidasa, Karangasem. Ia melihat betapa pentingnya kesamaan persepsi atau kebersamaan untuk maju melangkah ke depan dalam membina dan membangun usaha. Kebetulan istrinya setuju diajak untuk membangun usaha.
(Nyoman Suamba)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar