Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 19 September 2012

PEMUJAAN DEWI KEMAKMURAN DI ERA GLOBALISASI

I Wayan Miasa

Masyarakat di muka bumi ini memiliki kesamaan dalam hidupnya, yaitu suatu harapan untuk bisa hidup makmur dan sejahtera. Mereka melakukan berbagai aktivitas untuk mencapai tujuan itu. Oleh karena kemakmuran atau kesejahteraan tersebut adalah harapan setiap masyarakat di muka bumi ini, sudah tentu mereka juga melakukan pemujaan terhadap dewi kemakmuran tersebut dengan berbagai cara dengan menyesuaikan situasi, kondisi dan tempat mereka. Misalnya di Yunani dewi kemakmuran itu dipuja sebagai “Dewi Fortuna”, dalam masyarakat Sanatana Dharma, dewi kemakmuran ini disebut “Dewi Laksmi”.

Seiring dengan berkembangnya taraf kehidupan manusia di seluruh dunia, maka pemujaan untuk dewi keberuntungan ini pun mengalami perubahan sesuai dengan sumber penghidupan masyarakat masing-masing bangsa. Begitu juga tentang nama dewi kemakmuran itu sering disesuaikan dengan kebijaksanaan lokal masyarakatnya. Misalnya di daerah Bharata Warsa nama Dewi Kemakmuran dan kesejahteraan itu disebut Dewi Laksmi. Beliau di sana dipuja sebagai penguasa kekayaan material. Setelah ajaran sanatana ini menyebar keluar India, maka nama dewi Laksmi pun terus disesuaikan oleh penganut ajaran ini.

Bagi masyarakat pengikut ajaran Sanatana Dharma di Nusantara yang dulunya hidup agraris yang sangat tergantung pada keberadaan padi sebagai sumber bahan pokok kebutuhan hidup, maka dewi kemakmuran dan keberuntungan ini diberi nama Dewi Sri. Bagi para petani, padi adalah perwujudan Dewi Kemakmuran yang sangat mereka hormati. Mereka memperlakukan padi tersebut bagaikan manusia dan masyarakatnya memberi banyak sebutan untuk padi sesuai dengan proses keberadaan padi itu. Ini bisa dilihat dari istilah khusus yang berhubungan dengan padi untuk menunjukkan tahap-tahapan padi tersebut, misalnya ada istilah padi, gabah, jijih, baas, aruan, nasi.

Istilah-istilah yang ditujukan kepada padi ini menjadi cerminan kehidupan masyarakat agraris, bahwa padi memiliki begitu banyak proses sebelum padi itu bisa dimakan.Dan ada kenyataan di lingkungan petani bahwa makna kata “makan” berarti mereka makan nasi atau mereka makan semua makanan yang berhubungan dengan padi atau nasi. Misalnya saja, saat mereka membuat kopi bubuk, mereka mencampur kopi itu dengan beras. Sehingga sering terdengan ucapan (Rarisang ajeng wedange) “silahkan makan kopinya”, padahal sebenarnya orang ingin mengatakan “silahkan minum kopinya”.

Kalau kita bandingkan dengan wilayah yang hidupnya tidak tergantung dengan padi maka istilah padi, jijih, gabah, beras, nasi itu cuma memiliki satu padanan yaitu rice (bahasa Inggris), Reis (bahasa Jerman). Sedangkan di Negara maju yang mana masyarakatnya lebih bergantung pada kemajuan teknologi, maka istilah yang dominan di Negara tersebut tentu istilah yang berhubungan dengan ukuran kemajuan teknologi.

Bagi para petani jaman dulu, memiliki sawah, ladang, dan padi, maka berarti hidup sudah makmur, sejahtera. Padi adalah sebagai wujud kemakmuran, kesejahteraan, keberuntungan bagi para petani. Karena masyarakat agraris begitu bergantung pada keberhasilan dari bercocok tanam itu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, maka saat itu segala sesuatu yang dilakukan dihubungkan dengan padi. Pada jaman dulu saat orang akan mau membeli sesuatu, maka harus menunggu panen padi. Karena apa yang dibeli akan dibayar lewat menjual padi. Begitu tentang pembelian kebutuhan lainnya selalu dihubungkan dengan penjualan padi. Oleh karena alasan tersebut maka perlakuan terhadap dewi penguasa padi yang di masyarakat Bali dan Jawa dinamakan Dewi Sri pun sangatlah khusus dengan berbagai ritualnya.

Nama Dewi Sri sudah identik dengan masyarakat yang agraris di Nusantara ini, walaupun daerah itu masyarakatnya tidak lagi memeluk Hindu tetapi ritual pemujaan untuk sang Dewi Kemakmuran masih terus dilakukan. Seperti di daerah Jawa yang penduduknya masih hidup dari pertanian atau masih menanam padi. Mereka tidak pernah mempermasalahkan tentang Dewi Sri sebagai dewa dalam Hinduisme, tapi yang mereka tahu adalah Dewi Sri adalah Dewi Padi.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimanakah dengan pemujaan yang dilakukan untuk Dewi Sri setelah banyak lahan pertanian beralihfungsi, dari tanah persawahan menjadi perumahan, pertokoan, hotel dan lain sebagainya? Robert Zaehner dalam bukunya yang berjudul Hinduisme (Kebijaksanaan Dari Timur) yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia menjelaskan, bahwa pemujaan terhadap dewa-dewi di Sanatana Dharma mengalami pasang surut sesuai dengan perubahan keadaan jaman, tempat serta waktu. Sehubungan dengan perubahan pemujaan tersebut, rupa-rupanya pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat agraris juga selalu disesuaikan dengan jaman, keadaan dan situasi suatu wilayah.

Sanatana Dharma memang sangat fleksibel dalam pemujaan. Mereka lebih menonjolkan pemujaan terhadap bentuk nyata dari esensi dari pemujaan tersebut. Sehingga tak mengherankan bila kita seolah-olah memuja banyak dewa atau dewi. Kalau Dewi penguasa kemakmuran di India itu disebut dengan Dewi Laksmi, maka di Bali yang mana Dewi Kemakmuran dulu saat masyarakatnya masih agraris dewi itu dipuja sebagai Dewi Sri. Saat lahan-lahan pertanian sudah menyusut, banyak yang telah beralih fungsi karena dijual untuk pembangunan hotel, perumahan, pertokoan, maka dewi kemakmuran ini pun dipuja dalam nama yang lain. Beliau dipuja dalam bentuk nyata entah itu sebagai penguasa uang, emas, mobil dan lain sebagainya.

Kemakmuran bagi masyarakat modern tidak lagi berupa padi yang dihasilkan dari sawah atau lahan pertanian luas, tetapi berupa barang-barang kehidupan modern, entah barang itu dicapai dengan usaha yang keras dengan menguras keringat atau menjual tanah warisan yang berupa lahan pertanian, dan lain sebagainya.

Menurut pandangan masyarakat kekinian, kemakmuran identik dengan memiliki mobil, uang, emas serta hal-hal dianggap sebagai pertanda kemakmuran kehidupan masyarakat modern. Masyarakat modern tidak lagi tergantung pada keberhasilan menanam padi namun mereka tetap memerlukan padi atau nasi dalam kehidupannya, maka mereka tidak bisa terlepas dari pemujaan Dewi Sri. Mereka memuja sang dewi dengan sebutan lain, misalnya Dewi Manik Galih atau bisa dikatakan bahwa Dewi Kemakmuran tersebut dipuja sebagai dewi penguasa beras atau apa yang umumnya di Bali disebut Ida Bethara Manik Galih.

Memang secara nyata mereka tidak lagi memiliki lahan pertanian atau tidak lagi hidup dari bercocok tanam, namun kehidupan mereka masih bergantung pada padi yang dihasilkan dari pola kehidupan agraris terutama yang berhubungan dengan padi serta hasil olahannya. Artinya pemujaan kepada Dewi Sri itu lebih ditujukan kepada hasil nyata yang dihasil dari mengolah padi tersebut.

Dari Dewi Sri ke Ratu Sabuh Mas

Begitu juga pemujaan terhadap terhadap hal-hal yang berhubungan dengan padi, seperti dengan Ratu Ulun Carik, Ulun Subak, Ulun Swi dan yang lainnya akan mengalami adaptasi dalam pemujaan terhadap beliau. Bahkan bisa terjadi di masyarakat kita di Bali, di mana masyarakat kita banyak yang telah menjual tanahnya dengan berbagai alasan kemudian sisa penjualan tanah tersebut misalnya diinvestasi lagi ke emas, maka nama Dewi Sri pun bisa diadaptasikan dengan nama Ratu Sabuh Mas, atau bisa saja menjadi Ratu Rambut Sedana, atau sebutan-sebutan yang lainya.

Seperti telah diungkapkan di atas bahwa sanatana dharma itu sangat fleksibel dalam melakukan pemujaan sesuai dengan keadaan, situasi dan tempat. Masyarakat kita tidak didoktrin untuk melakukan pemujaan secara kaku. Mereka juga tidak harus melakukan pemujaan secara langsung terhadap Tuhan tertinggi, namun bisa dilakukan dengan secara tidak langsung melalui pemujaan aspek-aspek kekuatan beliau. Dan masyarakat Sanatana Dharma diberikan memberikan nama kepada yang dipuja sesuai dengan tradisi lokal suatu masyarakat. Hal ini masih bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari kita di Bali dan Jawa.

Sebelum masyarakat Jawa beralih agama, dulunya mereka tersebut juga melaksanakan ajaran sanatana dharma dan ajaran ini telah mendarah daging di kehidupan masyarakatnya. Sehingga sekarang sampai saat ini bisa kita saksikan bahwa mereka masih melakukan tradisi pemujaan terhadap dewa-dewi Sanatana Dharma yang tentunya telah diadaptasikan dengan kepercayaan mereka sekarang. Walaupun masyarakatnya telah beraluh agama tetapi ritual pemujaaan ala Sanatana Dharma atau Hindu masih terus berjalan.

Berakhirnya Dewi Sri?

Khusus di Bali seiring dengan berubahnya keadaan di Pulau Bali yang mana masyarakatnya sekarang banyak menjual tanah pertaniannya untuk pelebaran jalan, pembangunan perumahan, ruko, hotel dan lain sebagainya. Bagi kebanyakan orang dengan beralihnya fungsi lahan pertanian tersebut berarti berarti berakhirnya pemujaan Dewi Sri, Ulun Carik, Ulun Subak dan yang lainnya.

Namun kalau kita telah lebih lanjut bahwa pemujaan Dewi Sri di persawahan dimaksudkan agar Beliau memberikan kemakmuran bagi petani atau masyarakat yang hidup dengan bercocok tanam. Bila lahan itu sudah beralih fungsi maka Dewi Sri bisa dipuja sebagai dewi kemakmuran dalam wujud Rambut Sedana bagi yang memiliki banyak uang, atau beliau dipuja sebagai Dewi Amertha Wahana. Misalnya kalau orang membeli mobil itu dengan menjual tanah dan mempergunakan mobil tersebut sebagai alat untuk mencari amertha.

Bahkan juga mungkin kita memuja Dewi Sri dengan sebutan Dewi Kanaka Amertha bila kita anggap bahwa emas yang kita beli dari menjual tanah pertanian suatu saat akan membawa kemakmuran. Atau intinya pemujaan Dewi Kemakmuran “Dewi Laksmi atau Sri” tersebut bisa disesuaikan dengan bidang pekerjaan manusia yang bisa membawa kemakmuran bagi orang tersebut. Bukankah warga kita sangat cerdas dalam memberikan sebutan baru terhadap suatu prabhawa dewa atau Tuhan.

Menurut pendapat penulis, walaupun lahan pertanian berubah fungsi namun bila pengalihan fungsi tersebut ditujukan untuk kemakmuran dan kesejahteraan, tentu pemujaan terhadap Dewi Kemakmuran terus berlangsung. Karena jaman sekarang kehidupan manusia itu tidak hanya tergantung pada kehidupan agraris tetapi juga bisa hidup dari bidang pekerjaan lainnya.
Jay Dewi Sri Ki Jay.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar