Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Rabu, 19 September 2012

DENGAN WEDA ABYASA MEMPERBAIKI PRILAKU

Oleh: I Ketut Wiana

Mantra Weda Sruti Sabda suci Tuhan itu berjumlah 20389 syair suci yang disebut Mantra. Mantra Weda itu menurut Swami Siwananda merupakan kumpulan yang disebut Prabhu Samhita. Artinya kumpulan syair suci yang amat berwibawa. Karena itu umat awam tidak mudah mencapainya. Karena itu para Resi membuat rumusan membumikan Weda yang disebut Suhrita Samhita. Artinya rumusan penjabaran Weda yang lebih ramah, sehingga umat dalam segala tingkatan dan dari berbagai lapisan sosial dapat lebih mudah mencapainya. Karena tujuan Weda disabdakan bukan untuk pajangan tetapi untuk diamalkan dalam hidup.

Sarasamuscaya 177 menyatakan, bahwa Weda dipelajari dan didalami untuk Ayuning Sila dan Ayuning Acara. Ayuning Sila artinya memperbaiki prilaku agar semakin baik dan benar. Ayuning Acara artinya memperbaiki kebiasaan hidup bersama membangun keharmonisan yang dinamis membangun kebersamaan yang Satsangga.

Satsangga artinya kebersamaan yang berdasarkan kebenaran Weda atau Satya. Untuk mencapai tujuan itulah Sarasamuscaya 260 menyatakan Weda Abyasa artinya terapkanlah ajaran Weda itu agar menjadi kebiasaan yang baik dan benar dalam kehidupan individual dan kehidupan sosial. Dalam Manawa Dharmasastra II.12 dan 18 membiasakan ajaran suci Weda ini disebut dengan istilah Sadacara. Kata Sadacara ini berasal dari kata Satya dan Acara. Satya adalah kebenaran tertinggi dari Weda, sedangkan Acara artinya kebiasaan atau tradisi wujud pengamalan ajaran kitab suci. Dalam Sarasamuscaya 177 dinyatakan Acara ngaraning prawrti kawarah ring aji. Artinya: Acara namanya pelaksanaan dari apa yang diajarkan dalam pustaka suci.

Acara sebagai pengamalan ajaran Hindu inilah dalam kehidupan beragama Hindu di Bali disebut Adat Istiadat atau budaya beragama Hindu. Kata Acara berasal dari kata “car” artinya bergerak. “A” di depan kata “cara” artinya kebalikan dari bergerak. Dengan demikian Acara berarti tidak bergerak atau langgeng. Ini artinya Acara bertujuan untuk melanggengkan pengamalan ajaran kitab suci Weda sampai menjadi adat kebiasaan dalam kehidupan individu dan sosial. Prosedur atau tatanan membangun kebiasaan hidup berdasarkan Weda ini dinyatakan dalam Manawa Dharma sastra II.6 dengan urutan sbb: Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastusti.

Menurut Sloka Manawa Dharmasastra ini sabda Tuhan yang disebut Sruti itu dijabarkan oleh para Resi yang suci menjadi Smrti atau Dharmasastra. Smrti ini dijabarkan lebih lanjut oleh para Resi yang Sastrawan menjadi pustaka Sila. Yang tergolong pustaka Sila itu adalah Itihasa dan Purana. Dalam pustaka Itihasa dan Purana itu terdapat berbagai Sila atau prilaku yang patut dijadikan teladan maupun yang sepatutnya dihindari dalam hidup ini. Dari Sruti,Smrti dan Sila inilah diamalkan dalam wujud Acara atau Adat Istiadat budaya beragama Hindu.Tujuan pengamalan itu untuk mencapai Atmanastusti. Istilah Atmanastusti berasal dari kata Atma dan Tusti. Atma adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan Brahman sebagai jiwa manusia dan Tusti artinya kepuasan rokhani. Ini artinya tujuan pengamalan Sabda Tuhan dari Weda Sruti ke dalam Weda Smrti terus menjadi pustaka Sila dan ditradisikan ke dalam Acara adalah mengantarkan umat mencapai kebahagiaan rokhani atau Atmanastusti.

Ini artinya Acara atau Adat istiadat beragama Hindu itu harus diwujudkan untuk menuntun umat agar mampu membangun kebiasaan hidup yang membawa mereka hidup bahagia lahir batin. Adat istiadat beragama Hindu itu tidak boleh membuat tradisi atau adat yang menjadi beban hidup yang memberatkan umat dalam menyelenggarakan hidupnya. Dalam hal ini Adat istiadat beragama Hindu itu harus dinamis mengikuti perkembangan jaman. Saat keadaan jaman kental dengan budaya agrarisnya, maka adat istiadat beragama Hindu diterapkan sesuai dengan nuansa budaya agraris. Demikian jaman sudah berubah menuju budaya industri yang serba praktis, ekonomis dan fragmatis maka adat istiadat beragama Hindu itu dalam beberapa hal harus disesuaikan bentuk penerapannya, namun isinya tetap sama yaitu kebenaran Weda. Dapat diartikan bahwa adat istiadat beragama Hindu itu sebagai suatu tradisi harus terus dikreasi.Tradisi tanpa kreasi akan basi.Tetapi kreasi tradisi itu harus membawa visi dan misi kitab suci. Dengan demikian kreasi tradisi itu tetap bergisi suci.Tradisi yang dikreasi itu membuat inovasi tidak membuat kita risih.

Tampilan Hindu di muka bumi ini adalah suatu proses Weda abhyasa. Dalam rubrik Weda Abhyasa ini akan terus dimuat bagaimana ajaran suci Weda yang telah mentradisi itu akan dibahas dengan analisa yang setepat mungkin. Karena memelihara tradisi beragama Hindu itu tidak berarti membiarkan tradisi itu tanpa gerak perubahan. Tradis atau adat istiadat itu sesuatu yang hidup. Hidup adalah perubahan.Perubahan yang baik dan benar itu adalah perubahan yang senantiasa berada di jalan Dharma. Jalan Dharma itu adalah jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan.

Manusia yang berjalan itu adalah manusia yang penuh dengan keterbatasan. Karena keterbatasan itu dalam menjaga perubahan tradisi beragama Hindu itu tidak selalu mampu dijaga berada di jalan Dharma. Untuk itu tradisi beragama Hindu itu senantiasa harus ditinjau dengan proses evaluasi yang cerdas dan bijak, sehingga merubah tradisi itu tidak sekedar berubah. Namun harus diupayakan berubah ke arah yang baik dan benar sesuai dengan Dharma. Apa lagi menyangkut kehidupan bersama, perubahan tradisi beragama Hindu itu tidak tepat kalau dilakukan dengan grasa grusu tanpa mendapat pertimbangan yang luas dan mendalam. Dalam rubrik Weda Abhyasa inilah akan dikemukakan berbagai tradisi beragama Hindu itu akan diamati dengan konsep beragama Hindu yang terdapat dalam kitab suci. Karena yang dimaksud dengan Agama Hindu menurut Sarasamuscaya 181 adalah: Agama ngarania kawarah Sang Hyang Aji. Artinya: Agama namanya apa yang dinyatakan dalam kitab suci. Dalam Wrehaspati Tattwa 26 juga dinyatakan sbb: Kawarah Sang Hyang Aji kaupapatyan de Sang Guru Agama ngarania. Artinya: Apa yang dinyatakan dalam kitab suci dan itulah yang diajarkan oleh Pandita Guru itulah agama namanya. Ini artinya tradisi beragama Hindu itu selalu akan dilihat dari konsep kitab suci dalam paparan rubrik Weda Abhyasa ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar