Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 25 Juni 2012

Panca Guru

Jro Mangku Putu Oka Swadiana

Eksistensi hidup manusia di dunia tidak bisa hidup sendiri dan menyendiri, karena harus bersinergi dan berinteraksi dengan yang lain. Hal ini mengingat manusia, di samping sebagai makhluk individu, juga ia adalah sebagai makhluk sosial dan yang lebih penting lagi, bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang merupakan insan yang diciptakan oleh Ida Sanghyang Widhi Wasa. Inilah yang harus dijadikan pijakan berpikir dan bertindak dalam segala hal. Dengan demikian orang akan dapat hidup harmonis dan bahagia seperti yang kita inginkan bersama.

Berbicara tentang Catur Guru, ada baiknya kita tinjau dulu dari segi pengertiannya, sehingga, sehingga lebih mudah untuk memahami dan mencermatinya. Catur Guru seperti yang kita ketahui dari arti katanya berarti empat guru atau empat unsur keteladanan atau panutan yang harus dihormati di dalam kehidupan ini. Catur Guru meliputi: Guru Rupaka (Orang tua), Guru Pengajian (Guru di sekolah), Guru Wisesa (Pemerintah) dan Guru Swadhyaya (Ida Sanghyang Widhi). Empat guru inilah yang patut dijadikan panutan dan dihormati di dalam kehidupan ini, karena kita bisa hidup, bisa lahir ke dunia dan bisa hidup teratur dan tertib di masyarakat.

Manusia akan dapat hidup layak dan bahagia apabila ia mampu bersinergi dan berinteraksi dengan unsur-unsur Catur Guru itu. Catur Guru sesungguhnya merupakan disiplin dalam tatanan hidup bermasyarakat. Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut.

Guru Rupaka, yaitu orang tua yang telah melahirkan kita karena manusia tidak akan lahir ke dunia tanpa ada yang melahirkannya. Demikian pula seterusnya ia tidak akan dapat hidup dengan layak apabila tidak ada yang memelihara dan membina. Oleh karena itu, sifat dan sikap bhakti kita kepada orang tua yang melahirkan dan memelihara serta membina kita patut diwujudkan ke dalam bentuk etika dan disiplin hidup.

Guru Pengajian, yaitu guru dalam pengertian sebenarnya sebagai seorang pendidik di sekolah, pesraman, dan lain-lain. Guru Pengajian memberikan bimbingan ilmu pengetahuan, sehingga demikian berjasanya Guru Pengajian bagi setiap orang. Peran Guru Pengajian untuk memberikan pendidikan dan mencerdaskan bangsa, agar terhindar dari kebodohan hingga mampu meraih derajat kehidupan lebih baik dan berguna bagi keluarga, bangsa dan negara. Karena itu sungguh tak ternilai jasa-jasa para guru yang mengajar di sekolah dengan sepenuh hati mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Ungkapan pun diarahkan kepadanya sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Hal ini pula yang dijadikan dasar bahwa setiap orang harus bhakti dan hormat kepada guru-guru atau kaum pengajar sepanjang masa.

Guru Wisesa, yaitu pemerintah adalah guru dalam masyarakat yang memberi tuntunan atau pengayoman dalam kehidupan masyarakat dan negara untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat adil dan makmur. Guru Wisesa wajib memberikan tuntunan dan menjamin serta terpenuhinya kebutuhan material dan spiritual secara seimbang dan merata sebagaimana tercantum dalam undang-undang dasar 1945 yang dijabarkan lebih lanjut dalam pembangunan nasional.

Guru Swadyaya, adalah Tuhan sebagai Guru maha utama. Selain menciptakan alam beserta isinya, Tuhan juga menurunkan berbagai agama dan ajaran suci ke dunia untuk membimbing umat manusia. Segala sesuatu yang ada di alam ini, termasuk ilmu pengetahuan sesungguhnya hanya satulah sumbernya, yaitu Tuhan. Untuk memperoleh bimbingan dari Guru Swadyaya, maka setiap umat manusia wajib bhakti dan tunduk hati kepada Tuhan, mengikuti sabda-sabda suci beliau, sehingga kita mendapat rahmat dan bimbingan dariNya.

Demikianlah seperti uraian di atas yang disebut dengan Catur Guru, sedangkan yang dimaksud dengan Panca Guru adalah apa yang disebut dengan “Dulur Barep” atau anak sulung (Tertua). Seperti apa yang disampaikan oleh seorang tokoh pedalangan Jawa dari Desa Klisik, Kecamatan Gandusari, Blitar, Jawa Timur. Dalang Sukrisno satu guru yang harus dihormati juga adalah “Dulur Barep” atau anak sulung yang memberikan bimbingan kepada adik-adiknya. Jadi yang menghormati “Dulur Barep” ini adalah adik-adiknya saja, sedangkan bagi seorang anak sulung atau anak tunggal, tentu ia tidak memiliki guru kelima atau “Dulur Barep” ini.

Kata orang tua, “Hormatilahkakakmu, kalau jelek-jeleknya jangan diikuti, tapi tirulah kebaikannya.” Sang adik tidak boleh melawan kata-kata kakaknya, seperti Yudhistira dalam keluarga Pandawa yang selalu dihormati oleh adik-adiknya. Karena itu, menjadi anak sulung juga mengemban tugas berat, karena harus mampu menjadi teladan bagi adik-adiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar