Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 25 Juni 2012

Diksa Hare Krishna di Radha Rasesvara Ashram

Pada tanggal 24 april 2012 lalu, diadakan upacara inisiasi terhadap 29 umat Hindu yang ingin belajar Weda (Bhagavadgita), dalam garis parampara Gaudhiyamatha, ISCKON-Hare Krishna. Acara ini dilangsungkan di Ashram Sri Sri Radha Raseswara, yang terletak di Desa Sibang Gede, kecamatan Abiansemal, Badung. Sebelum warga ini melaksanakan upacara insiasi, ada beberapa persyaratan yang mereka harus penuhi. Misalnya harus hidup dengan pola vegetarian, tidak mengkonsumsi hal-hal yang membuat kita ketergantungan, tidak berjudi, tidak selingkuh, serta telah berjapa Maha Mantra Hare Krishna sekurang-kurangnya enam belas putaran sehari. Walaupun persyaratan tersebut terasa berat, namun tampaknya hal itu tidak menjadi hambatan bagi warga kita yang tertarik untuk mempelajari Weda kelima atau apa yang disebut dengan Pancama Weda. Menurut salah seorang peserta yang mengikuti upacara inisiasi ini menjelaskan, bahwa setelah dia mengikuti prinsip-prinsip yang diajarkan di pesraman tersebut, kebiasaan buruknya seperti senang mabuk-mabukan, jalan ke kafe semakin hari semakin berkurang dan akhirnya berhenti melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran agama itu. Upacara inisiasi yang dilakukan di pesraman Sri Sri Radha Raseswara dipimpin oleh Seorang guru kerohanian yang bernama His Holiness Caitanya Candra Das dan disaksikan oleh beberapa pengurus ashram yang sangat berperan dalam mewujudkan Ashram ini pada tahun 1999. Di antaranya, Prabhu Narasinga Caitanya, Prabhu Brajendra, Prabhu Sundarananda dan yang lainnya. Menurut para peserta inisiasi ini, mereka mengungkapkan tentang manfaat dari mempelajari Bhagawad Gita ini bahwa dengan mendalami ajaran ini mereka lebih mengerti tentang dasar-dasar beragama Hindu, baik mengenai landasan persembahan, pemujaan dan lain sebagainya. Beberapa dari mereka, seperti Ketut Nurasa yang sekarang mendapat nama Inisiasi Nanda Dulal, Kadek Nuada (Nawina Krisna), Ketut Wahyu (Ujwala Mani) dan yang lainnya mengungkapkan, bahwa ajaran ini benar-benar bisa merubah kebiasaan mereka yang dulunya mereka sering mabuk-mabukan, hura-hura dan lain sebaginya. Namun setelah ikut memdalami ajaran Bhagawad Gita, mereka bisa mengontrol kebiasaan yang melanggar norma agama tersebut. Semoga saja warga kita yang telah mendapatkan inisiasi semakin bersemangat untuk mengajegkan ajaran sanatana dharma ini dan semoga semakin banyak ada pencerah-pencerah Hindu yang pada nantinya bisa mengajegkan Hindu. Mudah-mudahan warga kita yang baru saja mendapat nama rohani ini bisa memberi contoh kepada warga lainnya dalam mengerem pengaruh negative yang ada sekarang ini, seperti banyaknya terjadi penyalahgunaan narkoba, perjudian, perselingkuhan dan lain sebagainya. Kita semua berharap bahwa dengan mendalami ajaran Bhagawad Gita itu terlahir generasi yang bisa menyeimbangkan pelaksanaan tattwa, etika dan upacara dalam kehidupan kita beragama. (miasa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar