Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kamis, 26 April 2012

Sapi Kamadhuk itu Bernama: Profesi yang Handal

Wayan Miasa

Peradaban Sanatana dharma atau apa yang lebih dikenal dengan sebutan agama Hindu memiliki banyak ajaran luhur, tattwa yang sangat tinggi dan banyak melahirkan para filsuf-filsuf besar dari masa ke masa. Begitu juga tentang keajaiban-keajaiban yang dilakukan para praktisi Sanatana Dharma ini terus lahir dari jaman ke jaman. Para praktisi tersebut dikenang sepanjang masa karena perjuangannya dalam memaknai hidup ini.

Segala sesuatu yang dilakukan dianggap sebagai persembahan kepada yang dipujanya. Para praktisi ajaran Sanatana Dharma tidak mengenal istilah pengorbanan, yang ada hanyalah melakukan sesuatu yang baik sebagai persembahan. Karena mereka itu mempersembahkan sesuatu yang mereka miliki atas dasar lascarya. Dan mereka itu tidak mengorbankan orang lain dalam memenuhi keinginannya masing-masing. Ambil saja contoh apa yang dilakukan seorang raja di negeri Bharata untuk mendapatkan “Kamadhuk”. Berawal dari keheranan Raja Wiswamitra saat beliau dijamu oleh Rsi Wasista yang memiliki sapi pemenuh keinginan yang mana hal itu membuat Wiswamitra terpesona dan beliau ingin ingin memiliki sapi tersebut. Namun Sayang keinginan Wiswamitra untuk mendapatkan sapi milik Rsi Wasista tidak semudah yang diduga. Sang Rsi menolak menyerahkan sapi saktinya. Karena itu Raja Wiswamitra marah dan bertekad untuk bertapa supaya nanti memiliki kesaktian mengalahkan Wasistha. Demikian obsesi dendamnya setelah merasa dipermalukan.

Wiswamitra selanjutnya meninggalkan tahtanya dan beralih menjadi pertapa. Semua usaha keras itu semata-mata karena didorong kecemburuan terhadap Rsi Wasistha, si pemilik sapi sakti. Saat Wiswamitra telah menguasai semua ajian serta mantra-mantra yang sakti mandraguna timbullah niat untuk mengalahkan Rsi Wasista dengan kekerasan, namun hal itu diketahui oleh Rsi Wasista. Dengan manisnya Rsi Wasista menceritakan apa yang kurang pada diri Wiswamitra yaitu ketundukan hati. Saat hal itu didengar oleh Wiswamitra, yang sebelumnya mau melakukan tindakan kekerasan untuk mendapatkan sapi pemenuh keinginan itu tiba-tiba mengurungkan niatnya lewat cara kekerasan. Dengan penuh kerendahan hati Wiswamitra menghadap Rsi Wasista. Singkat cerita karena kagum atas usaha yang dilakukan oleh Wiswamitra dan juga atas ketundukan hatinya, akhirnya Rsi Wasista memberi Wiswamitra berkat sebagai Rsi Agung.

Kalau kita hubungkan kejadian yang dialami oleh Wiswamitra saat beliau belum mencapai tahap pencerahan dengan kehidupan masyarakat masa kini, ada banyak hal yang kita bisa jadikan pelajaran. Beliau mengajarkan kepada kita, betapa pentingnya suatu usaha untuk meraih cita-cita berdasarkan ajaran kebenaran, tunduk hati dan melaksanakan tattwa yang telah dikuasai. Sebagai manusia yang beradab dan menguasai filsafat seharusnya mencontoh hal-hal yang baik dari Wiswamitra dan menerapkan apa yang telah dipelajarinya dalam kehidupan nyata. Bukan menempuh jalan pintas atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran kebenaran atau menjadi pemimpi di siang bolong untuk mencapai kesejahteraan.

Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Wiswamitra adalah suatu pengajaran terhadap semua makhluk hidup bahwa sapi pemenuh keinginan itu “kamadhuk” akan didapatkan oleh seseorang bila individu tersebut telah melakukan usaha dan upaya penaklukan diri sendiri lewat pengekangan nafsu, penuh kerendahan hati. Wiswamitra memberikan contoh kepada kita bahwa segala sesuatu itu seharusnya diraih lewat usaha serta didasari atas rasa kerendahan hati serta tidak menyimpang dari dharma atau kebenaran.

Kesejahteraan Tak Diraih Lewat Ritual
Di jaman sekarang “Kamadhuk” itu akan bisa diraih bukannya lewat ritual-ritual religius yang menghabiskan banyak dana, tenaga, waktu dan lain sebagainya. Karena Kamadhuk jaman modern bukan lagi berupa sapi yang bisa memenuhi semua keinginan, tetapi berupa lahan atau bidang pekerjaan. Untuk mendapatkan pekerjaan yang dicita-citakan tentulah masyarakat kita harus memiliki SDM yang baik, sehingga yang diperlukan jaman sekarang ini adalah membangun “kandang-kandang kamadhuk” berupa sekolah-sekolah yang tidak saja memberikan pengetahuan material tetapi juga budi pekerti. Dengan cara ini maka kita akan lahir “pengembala” yang bisa memelihara kamadhuk itu sendiri.

Pada jaman sekarang ini masyarakat penganut Weda atau masyarakat Bali khusunya harus berani merubah tradisinya dalam meraih kamadhuk masa depan. Mereka seharusnya lebih mengutamakan membangun “kandang-kandang” untuk mencetak pengembala yang berSDM tinggi, dan bukan sekadar melahirkan generasi tukang gaĆ© tali, klangsah, katikan sate, klakat dan lain sebagainya. Masyarakat kita
seharusnya mengutamakan pembangunan SDM warganya dulu lewat pembangunan sekolah-sekolah, sehingga menghasilkan generasi yang handal dan kompetitif. Belajarlah sedikit dari agama lain. mereka juga melakukan kegiatan ritual berupa perayaan-perayaan hari sucinya namun mereka juga tidak lupa membangun sekolah-sekolah untuk membangun SDM generasi penerusnya dengan cara demikian mereka telah mempersiapkan generasinya untuk menangkap “kamadhuk” jaman modern berupa lapangan pekerjaan yang menuntut kecakapan, keahlian, efisiensi.

Masyarakat Bali seharusnya “eling” dan “ngeh” bahwa Kamadhuk yang mereka cari itu di jaman sekarang ini tidak lagi bisa dijinakkan lewat penghafalan sloka-sloka buku suci, tattwa yang tinggi, ritual-ritual mewah namun “kamadhuk” jaman modern itu akan diperoleh lewat penguasaan kemampuan dan keahlian sesuai dengan kebutuhan jaman. Dengan memiliki SDM yang berbudi pekerti yang luhur maka masyarakat kita di Bali akan mudah mendapatkan kamadhuk berupa pekerjaan yang ideal sesuai dengan kecakapan masing-masing.

Kalau kita hanya mengkhayalkan Kamadhuk seperti yang dimiliki Rsi Wasista di jaman sekarang ini, itu artinya kita sedang mimpi di siang bolong. Di Jaman sekarang ini tak ada hal yang didapat secara gratis, semua ada harganya. Kalau kita menginginkan Kamadhuk di jaman ini untuk generasi masa depan Hindu, maka bangunlah “kandang-kandang” berupa pembangunan tempat-tempat untuk mendidik generasi Hindu agar terlahir generasi Hindu yang memiliki daya saing tinggi serta memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Akan sangat ironis sekali bila warganya hidup “kiah-kiah” karena ritual mewah, bale banjarnya megah, wantilan bungah.

Pujian-pujian yang disampaikan oleh warga dura Bali terhadap keramahtamahan orang Bali jangan sampai membuat kita lengah. Ingatlah pujian-pujian yang meninabobokan sering membuat kita lupa bahwa mereka itu ingin mengambil “anak-anak kamadhuk” di pulau ini. Jika hal itu tidak disadari maka sesonggan orang Bali “siap mati di jineng”. Masyarakat Bali seharusnya sudah sadar bahwa persaingan pencarian “anak-anak kamadhuk” di pulau ini telah dikuasai oleh para pendatang dari dura Bali. Lihatlah kenyataan bahwa setiap lapangan pekerjaan dari tingkat yang paling kecil sampai posisi penting telah dikavling oleh para pendatang.

Di masa yang akan datang sebaiknya para petinggi Hindu, PHDI, pendharmawacana, memberikan penyadaran betapa pentingnya pembangunan SDM, untuk mendapatkan sapi pemenuh keinginan tersebut. Di jaman sekarang ini yang kita perlu lakukan adalah melaksanakan tugas kita dengan baik agar kamadhuk itu tak lepas dari genggaman kita.
Suatu harapan kepada para petinggi desa pekraman, tokoh masyarakat serta instansi yang terkait semoga beliau-beliau itu bisa memberi pencerahan kepada masyarakat kita secara seimbang. Mudah-mudahan beliau bisa menjadi agen perubahan (agent of the change). Begitu juga saat memberi dharma wacana, hendaknya yang beliau lakukan adalah dharmawacana yang membangkitkan kesadaran para generasi Hindu betapa pentingnya kita memiliki SDM yang handal guna mendapatkan kamadhuk itu. Kalau yang didharmawacanakan cuma ritual, jenis banten, serta hal-hal yang bersifat tradisi bagaimana kita bisa membangun SDM yang baik.

Mudah-mudahan di masa yang akan datang kita bisa mencetak pengembala sapi kamadhuk yang handal sehingga sesenggak tetua kita “pitik mati di jineng” tak terbukti. Namun bila kita tidak belajar dari pengalaman Raja Jamadagni (Wiswamitra) maka kita harus bersiap-siap menjadi budak di negeri sendiri. Hal ini akan diperparah lagi oleh mental atau prilaku kita yang senang bertengkar dengan saudara-saudara kita hanya karena mereka jarang ngayah, perebutan batas desa, kuburan, soroh atau wangsa dan lain sebagainya.

Ingatlah bahwa di jaman modern ini yang perlu kita lakukan adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup atau mencari kamadhuk. Kita perlu sadar bahwa hanya pada orang-orang yang berjuang keraslah kamadhuk itu akan datang. Dalam kehidupan sosio-religius, gotong royong itu perlu, kegiatan agama penting, tetapi pemenuhan kebutuhan masyarakat jangan dilupakan. Kita haruslah berani meninggalkan tradisi yang tidak cocok dengan jaman kekinian dan mulai beradaptasi dengan jaman bila kita hendak bertahan di tanah kelahiran kita ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar