Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 14 Februari 2012

Spiritual Perlu Dipraktikkan Supaya Tak Terhenti di Teori

Peace Academy-Ahimsa Satya Karuna menyelenggarakan Community Dialogue dengan mengambil tajuk “Guru sebagai Pembimbing Spiritualitas di Era Globalisasi dan Peran Wanita dalam kiprah Politik”. Seminar ini menghadirkan narasumber, yakni BR. Indra Udayana seorang pendiri Ashram Gandhi Puri dan Dr.Dra. Ida Tary Puspa ,S.Ag.,M.Par. sebagai Dosen pengajar di Institut Hindu Dharma Denpasar, serta A.A.A. Arina Sarswati Hardy dari Yayasan Ari Prshanti Nilayam mantan anggota DPRD Bali dan Romo Paskalis dari Keuskupan Denpasar. Dialog bulan seperti ini ini dimulai pada pukul 18.00 di Peace Academy-Ahimsa Satya Karuna Center (Ashram Gandhi Puri) di Denpasar setiap minggu ketiga.
Tujuan pelaksanaan ini tiada lain adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang guru spiritual di era globalisasi juga pentingnya politik bagi generasi muda. Menurut Ketua Panitia acara ini menjadi suatu tombak bagi kita semua untuk memahami lebih dalam arti Guru di era globalisasi ini. “Dengan adanya Dialog ini diharapkan agar pemuda dapat memahami lebih jauh tentang pengaruh dan peranan dari guru spiritual di era Globalisasi serta bagaimana berpolitik yang santun,” kata Ni Nengah Puji Widiani selaku ketua panitia.

Pembicara pertama, Dr.Dra. Ida Ayu Tary Puspa,S.Ag.,M.Par. dengan membawakan makalah yang berjudul “Peran Guru Spiritual dalam era Globalisasi”. Dalam pemaparan makalah tersebut beliau memaparkan dalam kehidupan kita ini kita memiliki tiga orang guru yang berperan penting mereka adalah Guru Rupaka, Guru Pengajian, dan Guru Swadyaya. Guru Rupaka adalah kedua orang tua kita di mana kedua orang tua kita telah memberikan kita kasih sayang dan cinta kasih, Guru Pengajian adalah Guru yang mengajarkan dan memberikan ilmu pengetahuan kepada kita di sekolah, dan Guru Swadyaya adalah Guru Pemerintahan yang memberikan kita pengetahuan tentang sistem kepemimpinan dan norma-norma sebagai acuan berperilaku. “Spiritual sangatlah penting untuk kehidupan dan dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari dalam dunia yang kompleks. Di era global ini yang dibutuhkan adalah perubahan sikap pikiran dan terus-menerus menyadiari diri agung,” sebut dosen IHDN Denpasar ini. Menurutnya, pada era ini sangatlah penting untuk menemukan seorang guru yang dapat memberikan pengetahuan transcendental yang sangat ditekankan dalam Agama Hindu.

Selain itu beliau menjelaskan tentang hubungan Guru-Sisya antara Krishna dan Arjuna. Di dalam Bhagavad Gita disebutkan dialog antara Sang Krishna dan Arjuna di dalam medan peperangan di mana pada saat itu Arjuna menerima Krishna sebagai gurunya. Hubungan ini dianggap sebagai salah satu ideal dari Guru-Sisya. Pada saat peperangan tersebtu Krishna menyebutkan betapa pentingnya peranan guru dalam kehidupan. Beliau juga memaparkan beberapa cara untuk meningkatkan peranan guru, yaitu melalui sekolah, ashram, yoga, tantra, dan bhakti. Guru di sini berperan sebagai satu-satunya jaminan bagi individu untuk mengatasi belenggu kesedihan dan kematian dan pengalaman kesadaran realitas.

Pembicara kedua dilanjutkan oleh BR. Indra Udayana selaku Guru Spiritual bagi sisya Ashram Gandhi Puri. Beliau membawakan tentang makna guru spiritual tersebut. Beliau menjelaskan, bahwa sekuntum bunga yang sudah mekar dan secara otomatis lebah akan datang menghampiri dan membantu penyerbukan bagi bunga tersebut. Makna yang ingin disampaikan oleh Beliau adalah seorang guru akan datang kepada muridnya ketika seorang murid sudah siap menerima pengetahuan yang akan diberikan atau ketika ia membuka dirinya untuk menerima pencerahan untuk berkembang menjadi lebih baik. Beliau juga menambahkan bahwa terkadang seorang guru spiritual menguji muridnya, namun terkadang muridnya salah mengartikan tentang ujian tersebut. Sebuah contoh yang diberikan adalah mengambil cerita tentang Mahattma Gandhi dimana salah satu muridnya sangat dekat dengan beliau dan tidak mau dipisahkan dari Sang Mahattma, namun pada akhirnya Mahattma Gandhi memutuskan untuk mengirim muridnya tersebut ke suatu daerah jauh dari Mahattma Gandhi dan murid tersebut beranggapan bahwa Gurunya membenci dirinya dan menyuruhnya agar menjauhi Sang Mahattma. Namun, ia tersadar pada saat kepergian Sang Mahattma Gandhi ia sadar apabila ia selalu berada di dekat Sang Mahatma maka ia akan merasa sangat kehilangan, namun dengan ujian yang diberikan Sang Mahattma ia menjadi lebih tegar dan kuat untuk menghadapi kepergian Sang Mahattma. Jadi beliau menjelaskan tentang guru spiritual yang selalu menuntun kita untuk menjadi lebih kuat menghadapi kehidupan, menghadapi permasalahan yang ada di dalam hidup ini, dan selalu berpikiran positive untuk melangkah ke depan.

BR Indra Udayana juga mengulas pentingnya memaknai hubungan guru sisya saat ini,ketika dunia sains dan tekhnologi makin mendekati penguasaan segalanya, justru hubungan humanisme makin terpinggirkan. Karena itulah beruntung di dunia ketiga seperti Bali khususnya nilai lekat antara manusia dengan manusia tetap menjadi pijakan, sehingga guru sisya itu menjadi dasar pijakan kuat untuk saling melengkapi dan bahkan akan menjadi kekuatan bagi hasil kreatifitas karena keduanya secara tidak langsung termotivasi serta saling menginspirasi untuk menghasilkan sesuatu yang lebih banyak untuk kemanusiaan.

A. A. A. Arina Saraswati Hardy berbagi bagaimana kiat-kiat dan tips prilaku politik.Karena Politik yang selama ini selalu dikatakan kotor justru adalah pengabdian dan swadharma untuk melakukan pelayanan bagi kesejahteraan masyarakat. Bagaimana pula peranan politik seperti RA Kartini dan Dewi Kartika disadur oleh Gung Ayu Arina, di mana kutipan tulisan dari RA Kartini: “Kami di sini memohonkan diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajiban yang diserahkan alam sendiri kedalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama.” Itulah cuplikan yang sempat ditekankan beliau dan dibacakan pada saat dialog semakin membuka wawasan bahwa politik itu adalah kekuatan dan juga perjuangan.


Romo Paskalis menyampikan pandangannya tentang wanita, bahwa wanita adalah mitra (teman) bukan saingan dari laki-laki dan mendapatkan suatu perlakuan yang sama dengan laki-laki. Dalam berpolitik diperlukan adanya etika yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Di dalam politik tersebut diperlukan seorang wanita sebagai pelengkap dan juga sebagai pemanis karena diketahui bahwa apabila hanya laki-laki tidaklah lengkap karena suatu sinergis sifat dan juga kerjasama yang kuat akan menguatkan pula kebijakan yang dihasilkan. Bagi Romo yang cukup akrab dengan anak muda antariman ini menyatakan, lebih mendalam lagi, politik itu seni dan keindahan untuk menghasilkan sesuatu,tergantung seberapa jauh kita memaknai dan mau melaksanakannya sebagai sebuah persembahan bagi kemanusiaan.

Seminar berlangsung santai namun juga hangat dan dihadiri beberapa undangan dari mahasiswa IHDN, mahasiswa Dwijendra, mahasiswa UNHI dan beberapa perwakilan BEM Universitas di Bali. Acara dipandu oleh Ni Luh Ratna Dewi di Center Peace Academy-Ahimsa Satya Karuna Denpasar. Acara berakhir sekitar pukul 20.30 yang ditandai dengan penyerahan kenang-kenangan kepada kedua Narasumber oleh Panitia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar