Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 18 Januari 2012

Peradaban Veda Tak Anti Bangunan Tinggi

Gede Agus Budi Adnyana

Ada yang menyatakan, bahwa struktur bangunan tinggi tidak dibenarkan oleh Veda. Tapi sebatas sepengetahuan saya, belum pernah saya membaca sloka dan Mantra Veda yang menyatakan demikian. Saya tidak berbicara masalah lontar-lontar Nibandha, yang saya garis bawahi adalah Veda dan itu pun dalam kesusastraan Purana. Mari kita tengok sejenak peradaban-peradaban besar Veda yang menghasilkan bangunan raksasa megah tinggi menjulang dengan kontruksi bertingkat.

Pertama kota tua Mohenjodaro dan Harappa. Kedua kota ini mencerminkan sebuah peradaban Veda yang mengagumkan. Kota dengan sistem pengelolaan limbah yang tertata rapi, kemudian menunjukkan sisa radiasi nuklir (radioaktif) level tinggi, dan ini mengindikasikan bahwa peradaban Veda mengenal teknologi sehebat itu. Kontruksi dari sebagian besar reruntuhan kota, setelah diteliti adalah bertingkat dengan menjulang tinggi ke langit. Rumah penduduk bertingkat tinggi dengan kontruksi dasarnya yang sangat kuat. Ada beberapa jembatan layang melintang di jalan utama sebagai jalur transportasi umum.

Kemudian kota kuno Dvaraka yang reruntuhannya diteliti oleh Dr. Rao, kota peradaban Veda yang tenggelam karena Tsunami dalam kitab Mausala Parva ini memiliki gambaran bertingkat-tingkat seperti yang dinyatakan dalam Vishnu-Purana dan Bhagavata Purana. Rumah-rumah penduduk tinggi-tinggi dengan istana utama tepat Balarama yang bagaikan menara pencakar langit sebagai istana utamanya. Kemudian kota ini memiliki benteng tinggi yang kuat dan ruang bertingkat untuk prajurit Narayani yang siap bertempur menggunakan senjata mereka.

Lalu peradaban India Maya, yang juga merupakan peradaban Veda, memiliki konstruksi bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke langit. Kuil yang terdapat di dalam salah satu Piramid Maya, bahwa tertulis “Suryavamsi Rama” yang diinterpretasikan sebagai kuilnya Rama. Ini memiliki kontruksi yang hampir setara dengan sebuah gunung. Lain lagi, jika kita berbicara masalah bangunan kota-kota tinggi yang dalam kitab-kitab Purana dinyatakan sebagai “Sakha Nagari”, sudah sangat jelas kota dengan ketinggian luar biasa. Bahkan seseorang dapat menyaksikan kendaraan dewata naik turun dan berbicara sejajar dengan makhluk yang berpergian dengan pesawat udara kuno.

Nah, itu dijaman Veda, kemudian bangunan itu juga merupakan sebagian besar tempat suci. Sekarang di Bali ada sebuah kecemasan, bahwa jika bangunan dan gedung tinggi itu dibuat dan membanjiri Bali, maka eksotisme Bali bisa hilang. Ini dapat kita terima sebagai sebuah keharusan yang memang semestinya demikian. Yang menjadi masalah adalah, penolakan bangunan dan gedung tinggi itu bila mengatasnamakan Veda, sebab sampai sejauh ini saya sendiri tidak dapat dan tidak pernah membaca penolakan seperti itu dalam Veda.

Saya tidak berbicara masalah Nibandha, namun jika lontar Nibandha yang dijadikan acuan, maka itu juga sah-sah saja, mengingat lontar di Bali juga merupakan “Juklak dan Juknis-nya umat Hindu di Bali melakukan ritual, dan kehidupan sosial lainnya. Tujuannya tidak lain adalah untuk menjaga Bali agar tetap terlihat indah.

Nah, dari pada berdebat apakah boleh tinggi atau tidak, toh juga Bali kewalahan untuk membendung pendatang, perubahan jaman, perkembangan yang pesat, maka sebaiknya, bangunan itu dibuat turun ke bawah (ruang bawah tanah). Ada banyak hal yang kecenderungannya mengarah ke sana, dari pada harus berdebat mengenai tinggi dan tidak. Saya sendiri merasa sangat sedih jika harus kehilangan Bali yang eksotis ini, namun jika ingin menjadikan hal ini sebagai sebuah pemikiran yang logis, maka sebaiknya dicarikan jalan keluar yang bijak.

Tetapi, sekali lagi, peradaban Veda tidak anti terhadap bangunan tinggi. Itu disebabkan karena Veda sendiri sering menguraikan tentang kota-kota elit yang bahkan tak terjangkau oleh logika kita. Tri Pura adalah kota yang dibangun oleh arsitek terkenal bernama Hyang Danvantari, kota itu memiliki ketinggian bangunan rumah penduduk yang hampir seperti menara, dan itu dilukiskan dengan sangat indah oleh Bhagavan Dvaipayana Vyasa. Sebab Hindu sendiri memiliki Dewa Arsitek terkemuka, dan dengan demikian alangkah konyolnya jika kita menyatakan bahwa Veda menentang bangunan tinggi. Peradaban yang saya sebutkan di atas adalah peradaban Veda yang berada di tempat kering dan tandus serta ditempat yang dikelilingi samudra, seperti kota Dvaraka. Maka mustahil bagi Hyang Visvakarma untuk membangun ruang bawah tanah. Maka dari itu, tempatnya dipertinggi.

Saya sendiri sangat setuju dengan adanya sebuah ketentuan bangunan tidak boleh melebihii 15 meter di Bali, dengan tujuan tetap menjaga keindahan Bali. Tetapi, jangan dinyatakan Veda sebagai dasar penolakan itu, sebab Veda adalah sebuah kitab holistik yang tidak pernah mengekang sebuah pradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan seperti yang dinyatakan Annie Besant. Jika boleh saya berikan sebuah saran, maka sebaiknya, bagunan itu dibuat di tempat yang sudah mendapatkan pemeriksaan inten terhadap kepadatan tanah, letak dengan kawasan suci, mata air, dan pesisir pantai, atau dengan kata lain jangan melebihi 15 meter dalam kawasan tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar