Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 18 Januari 2012

Kesucian Pura dan Tinggi Bangunan di Bali

I Nyoman Tika

Pulau Bali, pulau sangat kecil dibandingkan pulau lain di Nusantara ini, namun sinarnya terang memberikan warna tersendiri, mempesona dunia. Apa gerangan penyebabnya? Jawabannya karena pesona alam yang terjaga dengan sistem budaya yang mengagungkan harmonisasi dengan alam, Tuhan dan makhluk hidup. Ketiganya bersatu dengan vibrasi mantra pensuci lima komponen utama alam semesta, pertviyaptejo wayu angkasa mesyudantam, jyotir aham wiraja wipapma buyasam swaha.

Kini konsep itu, yang telah terlaksna ratusan tahun hendak disederhanakan, diredifinisikan ulang, dengan bahasa bijaksana mau diselaraskan dengan zaman, agar lebih modern, publik disodorkan sebuah wacana ketinggian bangunan di Bali perlu direvisi dan Bhisama atas kesucian pura pada RTRW Bali ditiadakan. Pada dimensi itu, Bali seakan tidak pernah sepi untuk dimutasi dengan sebuah gejolak. Saat ini gejolak itu berada di ranah “nilai kebalian” itu sendiri. Sebab deburan untuk mengubah ketinggian bangunan dan bhisama, telah membuka mata kita, bahwa ada sesuatu yang kian hilang, yakni sebuah konsep yang dikenal sebagai masihi samasta bhuwana, harmoni dengan alam semesta, sudah lagi menipis pada elemen masyarakat Bali.

Riuh dan silang pendapat muncul, menanggapi wacana ini. Ini adalah dialektika pendewasaan pemikiran orang Bali, yang selama ini, seakan terjepit antara ideologi fragmatisme, modern, tradisional, dan kapitalis. Para investor yang merupakan elemen kapitalisme, yang diduga kuat merangsuk dan menjepit manusia Bali, dan membawanya ke zone mabuk akan materialisme, seakan kembali ingin menohok. Dan celakanya yang diserang adalah “pemangku kebijakan publik”. Ketika mereka kosong akan dinamiki pemikiran keajegan kultur, dan hakikat pembangunan dengan nilai Satya bhakti Prabu, maka sulit bagi Bali untuk bertahan, sebab tokoh-tokoh publiknya semacam itu tak mampu menyatukan, sesuatu apa yang disebut Imanuel Khan, sebagai penyatuan rasionalisme dan empirisme, di alam pemikiran para legeslatif dan eksekutif yang ada saat ini.

Sebab jarang di antara pemimpin Bali yang hadir dengan jati diri dengan tingkat pemahaman yang maksimal dan meresapi pertanyaan bagaimana pengetahuan (ilmiah) adalah sesuatu yang eksis, dan bahwa akal budi serta pengalaman mempunyai kontribusi atas pengetahuan tersebut; itu tak pernah terimplementasi sebagai wacana dinamika kultur dalam kinerja di Bali. Atas dasar inilah solusi yang ingin ditonjolkan dari tulisan ini adalah sebuah pemikiran yang mungkin tidak memuaskan semua pihak, walaupun demikian dari pada tidak menyumbangkan pemikiran lebih baik menyumbangkan seadanya. Di wilayah itu kita umat Hndu saling berbantah dan juga bisa saling melakukan proses dialektika keilmuan terjadi, sehingga melahirkan kepekaan dan kekritisan terhadap segala bentuk kejadian yang mengarah pada perbaikan sistem .

Kembali ke ketinggian bangunan 15 meter, boleh atau tidak?, Solusinyanya ada pada diri kita semua, seperti mau kita buat apa Bali ini? Mau menjadi pusat bisnis atau menjadi pusat pariwisata berbasis kultural? Kalau jawabannya yang pertama, maka silahkan membangun apa saja di Bali, yang penting kita untung, ada pemasukan uang, dan masyarakat dapat untung, pemerintah untung, ketika itu Bali tidak ada identitas, hanya satu identitasnya adalah di Bali banyak uang.

Persoalannya kemudian adalah, apa yang menyebabkan para turis datang ke Bali, baik domestik maupun manca negara? Benarkah hanya keindahan alamnya? Belum tentu, sebab setahu saya, saya sering ke obyek wisata di Bandung Selatan, banyak memiliki lingkungan eksotik, mempesona jauh lebih indah dari Bali, namun tidak banyak turis datang ke obyek itu. Turis datang bukan semata-mata karena pesona alam, namun lebih pada kultur dan kreativitas masyarakatnya.

Masalah yang muncul saat ini adalah ketinggian bangunan 15 meter, perlu dipertahankan atau tidak di Bali? Sebab angka 15 meter menjadi sangat sakral, atau dibiarkan saja berapa pun orang ingin membangun. Untuk menjawab itu, mari kita bangun pemikiran seandainya dibiarkan saja tinggi bangunan berapapun dibiarkan di Bali? Apa yang akan tampak kemudian coba prediksi? coba bayangkan, apa yang mungkin terjadi. Begitulah pertanyaan yang saya ajukan pada mahasiswa yang saya beri kuliah. Saya kaget atas jawabannya.

Bangunan dengan 100 lantai akan dibangun di pusat kota Denpasar, bangunan 150 meter akan dibangun di pinggir pura Besakih, dan mungkin 200 meter dibangun di Ubud, kota Gianyar dan lain sebagainya. Berbagai kondominium kemudian menjamur di Bali. Lalu, bagaimanakah wajah Bali kalau sudah demikian? Kelam, Bali tidak bisa dibedakan dengan Surabaya, atau Jakarta, orang tidak ingin datang ke Bali, mungkin akan berhenti di Jakarta atau Surabaya. Banyak bangunan yang megah dan tinggi, tentu jumlah penghuninya pun beragam dan sangat padat. Bali menjadi pusat Bisnis. Pertanyaan kemudian mau membuat Bali berdasarkan kultur atau tradisi seperti sekarang, atau menjadi pusat bisnis dunia, atau menjadi pulau kota yang megah, sehingga tidak perlu ada sawah? Mahasiswa serentak menjawab tidak, Pak.

Taruhlah, asumsi kalau Bali menjadi pusat bisnis dunia, nampaknya kondisi ini bukan hal sulit, namun membuat manusia Bali bisa mengikuti iklim itu bukanlah mudah. Masyarakat Bali belum siap secara kultur memasuki wilayah demikian, karena kultur pertanian dan tradisi yang kuat belum bisa diajak lari pindah ke zona industri dalam waktu cepat, atau informasi, sehingga komunitas Bali tertinggal jauh, di Bali menjadi sangat mahal dan persaingan akan sangat ketat, dan persaingan itu sering menyisihkan komunitas lama, dan dimenangkan oleh pendatang, karena mereka lebih siap. Lebih-lebih saat ini kita kerap lupa untuk mengubah prilaku dan mind set orang Bali agar memiliki jiwa kompetisi yang unggul.

Pembangunan SDM menjadi titik orientasi agar SDM Bali bisa berkompetisi. Catatan kecil muncul, bahwa mendidik manusia saat ini berbeda jauh dengan ketika jaman dahulu. Kini, dunia termasuk di Bali lebih banyak dibangun oleh informasi, dan tentu juga oleh dunia maya. Visualisasi dunia maya, selain menghadirkan citra, tanda, gambar, menghadirkan pula teks. Hanya saja, pembacaan teks pada dunia internet sifatnya tidak linier seperti orang membaca buku atau koran. Melainkan, dalam istilah para penggagas studi-studi kebudayaan visual disebut bersifat hiper-teks. Teks itu berlapis-lapis, seperti dimungkinkan oleh teknologinya, sehingga kehampaan sering meliputi alam pikir kita, termasuk kita ingin membangun Bali dalam perspektif yang instan, tanpa memikirkan kultur yang menjawai diri kita. Om nama Siwaya****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar