Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kamis, 08 Desember 2011

Dosa Tujuh Turunan atau Kemalasan Tujuh Turunan

Ekah prajayate jantureka ewa praliyate
Eko’nubhumkte sukritam eka
Ewa ca duskritam.

Artinya:
Sendirianlah orang itu lahir, sendirian pulalah ia meninggal, sendirianlah ia menikmati pahala perbuatan baiknya dan sendirian pulalah ia menderita ganjaran dosa-dosanya. (Manawa Dharmasastra IV. 240).


Entah darimana asal muasal mitos dosa tujuh turunan itu. Apakah karena ada kisah kutukan seorang pembuat keris pusaka bernama Mpu Gandring terhadap Ken Arok-pendiri kerajaan Singasari di Jawa? Konon pada suatu ketika Ken Arok menikam Mpu Gandring dengan keris buatan Mpu itu sendiri karena kesal keris pesanannya tak selesai tepat waktu. Sebelum meninggal Mpu Gandring mengutuk agar Ken Arok dan tujuh turunannya akan terus saling bunuh-bunuhan dengan keris itu. Kutukan itu dilontarkan Mpu Gandring, karena ia menilai dosa-dosa Ken Arok tak terampuni hingga tujuh turunan lamanya.

Dosa tujuh turunan ini hidup sebagai suatu budaya mitos di tengah masyarakat Nusantara. Selain di Bali, di sebagian komunitas masyarakat Jawa mitos ini juga dikenal, mungkin di daerah-daerah lain kepercayaan sejenis juga ada. Mitos ini biasanya sering dibangkit-bangkitkan manakala dalam sebuah keluarga sering kena musibah dan kebetulan salah satu orang dalam silsilah keluarga itu dulunya dikenal sebagai orang dengan perilaku tidak baik. Kemudian, nasib buruk generasi masa kini itu oleh sebagian orang segera dihubung-hubungkan dengan perilaku kelam para generasi pendahulunya. Sebenarnya, hal ini lebih merupakan hukuman sosial yang ditimpakan masyarakat pada sebuah keluarga atau terhadap seseorang. Artinya, masyarakat sekitar bersifat mendendam dan selalu mengingat-ingat dosa seseorang hingga memberi stigma negatif terhadap keturunan orang tersebut sebanyak tujuh turunan kemudian. Diperparah oleh pepatah Melayu: air cucuran atap jatuhnya di pelibahan juga, maka semakin kuatlah mitos dosa tujuh turunan itu dilekatkan pada sebuah keluarga yang dicitrakan berprestasi “hitam.”

Jika dalam Purana ada kisah seorang raksasa jahat bernama Hiranyakashipu melahirkan Prahlada yang bekepribadian suci. Hidup anak raksasa itu sungguh beruntung dan dingat-ingat kemuliaannya oleh banyak orang hingga sekarang. Andai dosa tujuh turunan itu berlaku, maka seluruh turunan Hiranyakashipu semestinya memikul derita berat akibat hukuman atas perbuatan Hiranyakashipu.

Sloka manawa Dharmasastra di atas sangat jelas menegaskan, bahwa reaksi dari karma seseorang hanya akan menimpa si pelaku. Dosa tidak dapat diwariskan. Dalam praktik sehari-hari sebenarnya berlaku hukum kebalikannya, yaitu kemuliaan seorang anak dalam satu keluarga akan dapat membersihkan “dosa-dosa” leluhurnya. Contohnya sederhana saja, bila dalam sebuah keluarga kebetulan kakek atau buyutnya dulu dikenal sebagai maling kawakan, namun bila kemudian dalam garis keturunan itu lahir seorang anak baik budi, berperilaku dermawan dan rendah hati serta berhasil menorehkan prestasi, maka orang-orang akan menghormatinya serta segera melupakan catatan buruk generasi pendahulunya itu. Sebaliknya, bila seorang kakek memiliki prestasi gemilang, pribadi luhur berbudi, ahli agama dan lain-lain, namun bila salah satu cucunya berbuat bejat tak berkesudahan, maka orang-orang akan berujar, “Padahal kakeknya orang saleh, kok cucunya bejat begitu ya?” Dengan demikian kehadiran anak yang “rusak” akan merusak pula para leluhurnya. Dosa seorang anak membuat aroma busuk hingga baunya menyengat sampau kepada leluhurnya yang telah lewat dari dunia ini.

Tiadanya dosa turunan itu ditegaskan juga dalam mantra berikut ini:
Agham astu-aghakrte
Sapatah sapathiyate

“Semoga orang yang berdosa menderita dari dosanya sendiri.Orang yang mengutuk menderita dari kutukannya sendiri” (Atharvaveda X.1.5). Kemudian ada pujian dalam Rgveda sebagai berikut:

Martasah santo
Amrtatvam anasuh
“Para penganut, meskipun fana, menjadi kekal berkat perbuatan-perbuatan yang luhur”. (Rgveda I.110.4)

Fana (sementara). Para pengikut Weda, meskipun tidak hidup kekal di muka bumi tetapi kesalehan perbuatannya akan diteladani umat manusia sepanjang masa. Ia akan “hidup” sepanjang zaman. Seperti Raja Janaka, Rsi Wyasa, Swami Wiwekananda, Mahatma Gandhi, dan lain-lain. Inilah arti “Kehidupan kekal” bagi seorang tokoh, bahwa nama baiknya, kekaryaannya sebagai monumen hidup yang bisa dinikmati umat manusia pada zaman berikutnya. Dan nampaknya mitos dosa tujuh turunan pun mengikuti filosofi ini, bahwa aib, nama buruk, dari seorang figur akan sulit sekali hilang dari ingatan masyarakat, bahkan setelah lewat tujuh turunan pun aib itu tetap dikenang saking hitamnya noktah yang telah menodai hidup seorang figur.

Demikianlah bunyi mantra pujian Rgveda:
Suvijnanam cikituse janaya
Sac ca-asac ca vacasi pasprdhate
Tayor yat satyam yatarad rjiyas
Tad it somo-avati hanty-asat

“Orang-orang bijaksana mengetahuinya dengan baik, bahwa kebenaran dan kebohongan berjuang bersama-sama. Di luar ini semua, kebenaran pastilah lebih baik dan lebih menyenangkan sekali. Sang Hyang Soma menyelamatkan orang yang berbicara kebenaran dan menghancurkan si pembohong.”
(Rgveda VII. 104.12)

Kebaikan dan keburukan, purusha dan pradhana adalah sama-sama datangnya dari Tuhan. Dua bentuk itu sama-sama eksis sepanjang masa, tetapi Tuhan mengamanatkan, kebenaran jauh lebih menyenangkan, apalagi Sanghyang Soma (Bulan) akan meyelamatakan orang yang berbicara benar dan menghancurkan si pembohong. Soma adalah cahaya di waktu malam, karenanya kata-kata benar akan menerangi hati yang gelap. Kata-kata pemimpin yang benar akan menerangi (Soma) rakyatnya.

Nasusver apir na sakha na jamih (Tuhan yang Maha Esa bukanlah sahabat, kerabat atau sanak saudara dari orang yang malas)-Rgveda IV.25.6. Orang jahat seperti Rahwana bukanlah kesayangan dewa-dewa, demikian juga Kumbakarna yang malas dan tidur melulu bukan sahabat para dewa, tetapi Wibisana yang bijak adalah sahabat Sri Rama (Visnu/Tuhan). Dari mantra ini kita dapat pelajaran, bahwa kemalasan adalah dosa yang menyebabkan seseorang dijauhi bahkan kena murka Tuhan, sebagaimana murka Sri Rama terhadap Rahwana yang rakus dan kepada Kumbakarna yang pemalas.

Dalam Bhagavadgita disebutkan:
Yasya sarve samarambhah
Kama samkalpa varijitah
Jnanagni dagdha karmanam
Tam ahuh panditam budhah
“Yang bekerja tanpa nafsu dan motif, kerjanya dibakar api ilmu pengetahuan
dinamakan orang-orang arif, sebagai seorang pandita budiman.” (Bhagavadgita IV.19)

Bekerja biasanya didasari motif material, motit ketenaran dan motif lain. Ini adalah normal untuk ikatan-ikatan duniawi. Namun, bila memahami inti pengetahuan kesucian, ia yang mampu bekerja (melakukan kewajibannya) tanpa memikirkan imbalan material maupun moril, mentalnya bebas dari kecewa sukses dan gagal, maka dia yang seperti itu disebut pendeta budiman. Orang seperti ini bebas dari reaksi hukum karma.

Teknik penebusan dosa juga diajarkan dalam kitab suci Hindu. Sekali lagi, salah satu jalan untuk menebus dosa bukanlah lewat ritual apa pun, melainkan dengan jalan kerjas keras dalam hidup ini. Kerja keras itu bisa dengan mengerahkan pemikiran untuk pengabdian, dengan memeras tenaga untuk melakukan kegiatan-kegiatan baik, maupun gabungan potensi keduanya: fisik dan mental. Sebagaimana Bhagavadgita menyebutkan:

Brahmany adhaya karmani
Sangam tyaktva karoti yah
Lipyate na sa papena
Padmapattram iva mbhasa
“Dia yang bekerja mempersembahkan kerjanya kepada Brahman
tanpa motif keinginan apa-apa, tidak terjamah oleh dosa papa
bagaikan air meluncur di dalam teratai.”(Bhagavadgita V. 10)

Dan bagaimanakah dosa itu terampuni oleh Tuhan? Bhagavadgita sekali lagi menyebutkan kata “Bekerja.”
Sarvadharman parityajya
Mam ekam saranam vraja
Aham tva sarvapapebhyo
Mokshayishyami ma suchah
“Setelah meninggalkan tugas kewajiban semua
Datanglah hanya kepadaKu untuk perlindungan
Janganlah berduka, sebab Aku
akan bebaskan engkau dari segala dosa”
(Bhagavadgita XVIII. 66)

Bukan mantra, upacara, meditasi yang dapat menghapus dosa, tetapi hanya kerja, mereka yang telah bekerja melakukan kewajiban masing-masing dengan benar dan melepaskan mental dari pamrih hasil kerja itu diijinkan datang padaNya untuk pengampunan dosa. Mereka para pekerja inilah sesungguhnya seorang karma yogi yang diberi jaminan oleh Tuhan untuk datang ke hadapanNya untuk mendapat perlindungan dan mendapat “remisi” atas segala dosa. Karena itu, giatlah bekerja, supaya tidak jatuh dalam dosa tujuh turunan yang diakibatkan oleh timbunan sifat malas.

N. Putrawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar