Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kamis, 08 Desember 2011

Dengan Dana Punia Melancarkan Rejeki

A.A. Bagus Sudira

Sejak zaman Bali Kuno, masyarakat Bali sudah punya tuntunan dalam menjalani kehidupan ini, sehingga masyarakat Bali kuno dikenal sebagai masyarakat yang tata tentram kerta raharja. Walaupun masyarakatnya tidak kaya raya, tapi masyarakatnya masih kental rasa persaudaraannya. Tat Twam Asi, Tri Hita Karana, selunglung sebayantaka, paras-paros, dan lain-lain.
Mereka mengawali kehidupannya dengan doa-doa dan menghaturkan sesajen kepada masing-masing betara-betari yang melinggih di lokasi itu. Atau kepada sungsungan-nya suang-suang. Dan juga kepada para roh-roh “Penunggu” tempat itu agar tidak mengganggum, selamat tidak kurang suatu apa pun. Ini salah satu cara mereka melaksanakan Tat Twam Asi dalam kehidupannya. Matur ring Betara dan manusia yang ada di sekitarnya. Dan melakukan ritual "kurban" penyomya para butha kala yang ada di lokasi, di mana pekerjaan itu akan dilaksanakan.

Bahkan dikandung juga maksud, bahwa dengan mengorbankan bebek (kerbau) itu, diharapkan bahwa si bebek (kerbau) itu akan diberikan tempat yang baik oleh Tuhan. Dan di suatu saat akan bisa menjelma menjadi mahkluk yang lebih tinggi tingkatannya (misal lahir sebagai manusia).

Banyak orang tidak percaya akan hal ini. Tapi lihatlah di lingkungan kita, betapa banyak jatuh korban manusia di suatu gedung bertingkat, karena tidak melaksanakan ritual itu. Apa sebabnya?. Karena butha Kala (roh-roh yang ada di sana) tidak diberikan kurban.

Demikian pula jika masyarakat Bali membangun rumahnya, juga Merajan, pura, maka mereka memakai aturan kosala-kosali yang sudah ada sejak zaman purba, Termasuk bentuk (ukuran) masing-masing bangunan yang dibuat. Masyarakat Bali percaya, bahwa kosala-kosali ini mengambil model dan bentuk bangunan yg ada di sorga. Jadi istananya para dewa yang ada di sorga. Termasuk posisi dari tapakan beliau dan pengawal-pengawal beliau. Makanya lokasi Merajan ada akan di timur, kamar tidur, para tetua (Penglingsir) di utara, dan seterusnya. Ini semuanya mencerminkan penempatan para dewa dilokasi yang disucikan. Lokasi Penglingsir dilokasi yang dihormati dan lokasi toilet di pelemahan (teben). Dan di depan pintu masuk rumahnya akan ada "Pengaling-aling". Yang dimaksudkan sebagai tameng (penolak bala) yang dikirim orang-orang jahat dari luar rumah.

Demikian masyarakat Bali melaksanakan semua filosofi-filosofi kuno mereka sampai saat ini. Dan kenyataannya banyak benarnya. Contohnya; ada keluarga yang membangun rumahnya di ujung jalan (tusuk sate) - tanpa "Pengaling-aling". Yang oleh penganut agama lainnya - dilakukan dengan memasang cermin, atau lainnya. Menurut hasil riset emperisnya - keluarga yang tidak melakukan hal itu, sering kena musibah (kecelakaan atau sakit-sakitan. Bahkan bisnisnya bangkrut.

Begitu juga berbagai kasus mistik lainnya. Seperti; rumah yg dibangun di atas bekas kuburan, bekas pasar, bekas pura, bekas sungai, dan lain-lain. Sangat tenget dan berresiko tinggi. Orang-orang awam yang berani membangun di lokasi itu akan kena bahayanya dan musibah. Hanya orang-orang wikan yang bisa mengatasinya (tentu dengan bebantenan, puasanya, doa-doanya, dan lain-lain).

Jadi umumnya sampai saat ini masyarakat Bali, masih memakai piteket-piteket (kearifan lokal) itu dalam segala aktifitasnya. Melaksanakan lima Yadnya (Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya), Tri Rna (hutang kepada Tuhan, Rsi dan orang tua), dan lain- lain piteket-piteket para Leiuhur.

Tapi kini, kepercayaan atas kearifan lokal itu pada generasi muda Bali mulai luntur. Mereka seakan-akan kurang mempercayai "keampuhan" dari ritual (yadnya) yang dilakukan itu. Apakah betul, para betara yang melinggih di suatu Merajan (Pura) itu melindungi mereka?. Mengabulkan permohonan mereka?. Agar kaya, naik pangkat, menang Pilkada, dan lain-lain?

Akibatnya, mereka melaksanakan ritual (yadnya) itu, sekedarnya saja. Dianggap seperti orang nabung di Bank - pada saat perlu, tinggal tarik dananya. Pemikiran mereka, jika sudah melaksanakan yadnya yang besar, mesesari besar, ngundang banyak orang dan lain-lain, maka dianggapnya nabung yang banyak. Sehingga jika saatnya nanti jika diperlukan - misal saat memohon berkah Betara (agar kaya, naik pangkat, menang Pilkada, dan lain-lain), tentulah dikabulkannya! Bukan demikian "jenis" berkah betara kepada umatNYA. Berkah beliau -sesuai dengan filosofi Balinya; Semoga damuh Betara sareng sami - rahajeng, selamat, sejahtera, tentram, dan bahagia. Sehingga mereka bisa ngayah di Banjar, di pura. Melayani dan membantu umat - sebagai perwujudan yadnya kepada Betara (Tuhan). Untuk itu masyarakat Bali kuno rela, pasrah menerima segala macam cobaan dan Tuhan. Tanpa komplain. Bahkan dengan hidup miskin.

Tapi yang mengherankan dari semua itu, adalah, leluhur masyarakat Bali bisa memiliki tanah, sawah, kebun berhektar-hektar dan menjadi pemilik Pulau Bali ini. Walaupun mereka tanpa pendidikan, dan hidup miskin. Rumah dari tanah, tanpa peralatan rumah tangga, dan lain-lain. Bahkan ke mana-kemana jalan kaki tak pakai sandal, paling-paling naik dokar. Tapi nama masyarakat dan Pulau Balinya terkenal sampai ke mancanegara. Sebagai seniman, pelukis, penari, pembuat bangunan-bangunaa yang berukir indah-indah, dan lain-lain. Yang membuat Pulau Balinya diberikan berbagai sebutan yg indah-indah. Pulau Dewata, Last Paradise in the World, Pulau Seribu Pura, dan lain-lain.

Kini zaman berubah, dan generasi muda Balinya juga ikut arus "kemajuan” globalisasi ini. Yang tadinya berpedoman kepada kearifan leluhur, kini berubah memakai adat (budaya luar), seperti budaya Arab, Amerika, China atau lainnya. Mereka membangun rumahnya mewah-mewah, Merajan, pura dibangun dengan biaya milyaran. Mobil, bisnis modem, komputer, dokter spesialist, pesta ulang tahun, cafe, dan peralatan rumah tangga canggih lainnya. Tapi kenyataannya, kehidupan mereka tambah stress. Lunturnya rasa menyama braya, selunglung sebayantaka, paras-paros, dan lain-lain. Yang muncul egoistis, hedonismem, rakus, loba, kejam dan adharma. Bagaikan Rahwana. Tanpa prestasi yang bisa dibanggakan ke mancanegara ini.

Leluhur telah memberikan kita filosofi artha, kama, dharma, moksah. Dan Brahmacarya, Gryahasta, Sanyasin, Wanaprasta. Yang artinya, pada saat remaja banyak mencari ilmu (sekolah yang setinggi-tingginya) biar pintar jadi Sarjana, sehingga dia tahu seluk-beluk suatu ilmu duniawi. Dari teori, lalu hasil magang. Sehingga dia siap untuk bekerja kepada orang lain atau membangun usahanya sendiri. Setelah dapat uang banyak, beli tanah, bikin rumah, beli motor, mobil, dan medana punia. Jika Anda medana punia (meyadnya), diumpamakan ngaturang uang kepada Tuhan. Dan Tuhan akan membalasnya dengan berlipat. Karena ada doa tambahan dari orang-orang yang Anda bantu keuangannya. Banyak orang berpikir, bahwa ini bohong, padahal banyak bukti empiris yang membenarkan hal itu. G. Soros, milyuner Yahudi Amerika - menyumbangkan kekayaannya milyaran rupiah setiap tahunnya untuk masyarakat miskin di seluruh dunia. Kekayaannya malah selalu bertambah. Juga Raja Jogya (Jateng) dari Hamangku Buwono I sampai dengan Hamangku Buwono X saat ini, begitu dermawan. Memberikan tanah-tnahnya dipakai oleh masyarakatnya. Juga sering memberikan zakat kepada fakir-miskinnya. Kekayaannya, juga terus bertambah. Demikian juga Raja Ubud Bali, yang juga terkenal dermawan, baik kepada masyarakatnya. Juga kekayaannya tidak berkurang. Kenapa orang takut medana punia?. Itu piteket leluhur Bali.

Bagi yang mengikuti ajaran ngiwa (black magic), maka hati-hati karma jelek. Membantu nyama braya yang miskin, ini karma baik. Siapa tahu Tuhan juga akan membantu kebaikan kita karena itu. Dengan dana punia itu - rezeki yang kita dapat itu menjadi bersih. Ini adalah mantra-mantra Weda, wahyu Tuhan. Karena pada zaman Kali ini, yadnya punia itu yang utama. Yang mengalahkan yadnya-yadnya lainnya. Ini sangat baik dan sangat mudah bagi orang-orang yang rajin mencari uang (kaya). Tinggal mendana punia-kan uangnya ke pura atau kepada masyarakat miskin. Utamakan nyama braya dulu. Tuhan akan memberkahinya dan menambahkan rezekinya kembali. Jangan seperti saat ini, malah membiarkan saudara-saudaranya miskin.

Saat Sanyasin itulah saat untuk mulai melaksanakan ajaran-ajaran agama (dharma) serta mengurangi aktifitas keduniawian. Menjauhi kenikmatan duniawi. Hanya ngurus cucu saja. Jangan lagi mengejar karir (mencari uang). Biar pekeriaan itu dilakukan oleh anak-anak muda saja. Sedangkan kita yang sudah tua-anak ini akan lebih berkah mencari Betara sajalah. Nangkil ke pura (metirtayatra), dan lain-lain. Memohon berkah kepada Betara-betara, agar anak-cucu serta semua damuh Betara diberkahi.

Terahkir, saat Wanaprasta tiba, menjauhi duniawi (bertapa masuk hutan) atau minimal ngayah ke Pura-pura jika ada piodalan di sana untuk merenungkan apa yang sudah kita perbuat selama hidup ini. Dan apa yamg sudah Tuhan berikan kepada kita selama ini. Mungkin selama ini kita jarang mensyukurinya, tapi sibuk sibuk memohon saja. Dengan mengingat piteket-piteket leluhur kebijakan-kebijkan lokal Bali, semoga muncul kesadaran, bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan adanya, karena itu tidaklah patut kita merasa berhak atas apa yang kini kebetulan ada di sekitar kita. Jadi mari kita bangkitkan "jengah" orang Bali untuk membangun mengajegkan Bali. Berpedoman pada piteket-piteket (kebijakan-kebijakan) lokal Balinya yang sudah terbukti sejak zaman dulu.

1 komentar:

  1. Om Swastiastu,
    Sungguh tulisan luar biasa, memberi inspirasi dan semangat untuk maju.
    Namun ada yang mengganjal di piikiran saya, dalam paragraf 7, ...Seperti; rumah yg dibangun di atas bekas kuburan, bekas pasar, bekas pura, bekas sungai, dan lain-lain. Sangat tenget dan berresiko tinggi. Orang-orang awam yang berani membangun di lokasi itu akan kena bahayanya dan musibah. Hanya orang-orang wikan yang bisa mengatasinya...
    Bagaimana dengan orang2 luar (non Hindu) yang membuat warung dadakan di dekat kuburan?banyak pula yng berjualan di daerah tenget (leteh), yang berjualan bakso memakai ember yang sama dengan di kamar mandinya, yang menjemur pakaian dalam seenaknya di atas kepala.
    Sepertinya mereka semakin makmur, sementara orang Bali semakin kehilangan identitas (dan tanahnya untuk beli bakso)
    Jadi menurut pendapat saya, selain upacara dan tata hidup yang baik/sesuai Agama, keinginan untuk maju dan berhasil amatlah penting,seperti yang disampaikan diatas, orang Bali harus JENGAH!
    Semoga Raditya dapat memberikan inspirasi positif bagi masyarakat.
    Suksma

    sangikankeil.blogspot.com

    BalasHapus