Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kamis, 08 Desember 2011

Bila Pendharmawacana Menakuti Umat dengan Dogma Dosa

Gede Agus Budi Adnyana

Mewarisi sebuah dosa yang amat berat dan tidak ada yang dapat dilakukan selain menerima dengan sangat ikhlas, tampaknya bukan sebuah hal yang direkomendasikan oleh Veda ataupun susastra Veda. Hindu tidaklah seperti agama semitik, yang meyakini bahwa manusia memiliki dosa turunan secara geneologi. Tetapi setiap manusia yang ber-karma, dialah yang pada hasil akhirnya harus menerima buah dari karmanya sendiri.

Perbedaan dosa geneologi dengan dosa karma adalah, dosa geneologi meyakini bahwa seseorang yang melakukan tindakan yang dinyatakan salah, menyimpang atau keliru dalam tataran agama, maka dosa dari tindakan itu akan diwariskan juga kepada anak cucunya kelak yang tidak tahu menahu tentang dosa itu. Jadi mau tidak mau, entah anak atau cucunya manusia saleh sekalipun, atau setingkat dengan maharesi sekalipun, ia harus menerima dosa pendahulunya dengan buta. Tetapi, dosa karma adalah setiap individu yang berbuat kesalahan, maka ia sendiri yang menerimanya. Masalahnya sekarang adalah karena buah karma itu pasti tetapi misteri, maka hasilnya belum tentu diterima sekarang.

Dapat saja diterima dalam kehidupan yang akan datang, tetapi hanya individu pembuat dosalah yang menanggungnya. Tidak ada sangkut pautnya dengan anak cucunya kelak. Seperti seorang Brahmin tua yang ada di Avanti yang tenggelam dalam tindakan pelacuran, maka dalam kelahiran selanjutnya ia terlahir sebagai orang candala. Satu hal yang unik kita terima sebagai pemeluk Hindu, adalah dosa karma ini dapat diperingan dengan tindakan saleh anak cucunya. Tidak seperti dosa geneologi yang diturunkan tujuh turunan tanpa memandang sang anak atau cucu saleh atau terpelajar. Pokoknya tidak bisa diganggu gugat, sang cucu harus menerima dosa kakeknya dulu, yang padahal cucunya sendiri tidak ada di sana atau tidak tahu tentang prilaku sang kakek.

Dalam Brhad-Aranyaka Upanisad, seorang putra yang saleh, atau keturunan yang terpuji dalam moralitas, dapat menyelamatkan leluhurnya dari keterpurukan akibat dosa yang pernah leluhurnya lakukan. Itulah “Put” yang secara harfiah berarti menyeberangkan leluhurnya dari Neraka. Jadi anak cucu merupakan jalan keluar untuk sebuah kesalahan yang berat yang pernah dilakukan oleh pendahulunya. Konsep ini membawa sebuah paradigma berpikir tentang bagaimana caranya bangkit dan berusaha menuju hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Untuk itulah, harapan untuk mendapatkan keturunan yang suputra (saleh) diupayakan dalam agama Hindu. Dengan demikian, umat Hindu tidaklah umat yang putus asa, karena sudah menerima dosa mendiang leluhurnya dahulu tanpa tahu seluk-beluk masalah. Jika dosa geneologi ini dipertahankan dalam banyak hal, maka saya sendiri menjadi tidak yakin dengan kalimat pujian untuk Tuhan Yang Maha Adil. Bagaimana mungkin dosa semacam itu (geneologi) dapat dinyatakan sebagai tindakan yang adil? Bahkan Tuhan sendiri mengukuhkan dosa itu sampai tujuh turunan (jika ada) tanpa mempertimbangkan apakah anak cucu orang itu tumbuh sebagai manusia yang saleh, atau bukan.

Demikian juga, bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Adil, tidak memberikan umatnya untuk memperbaiki kesalahan dengan generasi selanjutnya. Jika geneologi dosa itu dikukuhkan oleh Tuhan, maka Tuhan adalah penegak keadilan yang buruk. Sayang sekali, dalam Upanisad ataupun Mantra Samhita, Tuhan yang mengukuhkan dosa geneologi semacam ini tidak kita temukan. Tuhan adalam Upanisad sangat adil, bahkan dalam Purana, Tuhan memberikan banyak kesempatan dan memberikan pertimbangan matang untuk sebuah jalan memperbaiki kesalahan menuju hidup yang lebih baik. Jadi Hindu bukan agama seperti agama semitik yang meyakini Surga abadi atau Neraka Abadi.

Maharaja Sagara dulu pernah memiliki putra bernama Asamanjasa dan dari Dewi Sumati memiliki putra 60.000 orang banyaknya. Mereka melakukan dosa besar karena menghina dan menjarah pertapaan Maharesi Kapila. Mereka harus menerima dosa karena tindakan itu, tetapi dosa itu tidak menurun kepada putra mereka. Buktinya, Amsumana tidak menerima konsekuensi dari tindakan leluhurnya itu. Namun karena ia merasa sangat peduli kepada leluhurnya, maka ia melakukan upacara penebusan dosa untuk leluhurnya dengan berdoa kepada Ibu Gangga.

Kemudian setelah maharaja Amsumana, maka putranya juga melakukan puja agar dosa leluhurnya dapat diringankan, Dilipa hadir dalam hal ini, maka untuk terakhir kalinya, maka Maharaja Bhagiratha menjadi jawaban atas penebusan dosa yang dilakukan. Dalam agama Hindu, tidak ditemukan dosa menurun pada anak cucunya. Jadi siapa pun yang melakukan atau berbuat, maka ia sendiri yang akan menerima. Namun Tuhan dalam agama Hindu adalah Tuhan maha bijaksana, Beliau memberikan kesempatan untuk memperbaiki hidup dengan keturunan yang saleh.

Bahkan dalam Purana, kita banyak menemukan uraian mengenai masa lalu seseorang yang kelam, namun karena niat untuk memperbaiki dirinya sangat besar, maka ia menjadi manusia terpelajar dan suci. Ratnakara, adalah seorang perampok kelas kakap, tetapi karena ia mem-prayascitta dirinya dengan mengucapkan nama Rama (Namasmaranam), maka ia menjadi Valmiki. Visvamitra dulunya juga seorang penuh dengan keangkaramurkaan, nafsu yang berlebihan, amarah yang meledak-ledak, tetapi, karena tapa yang keras, ia pun menjadi Brahmaresi, dan menerima Gayatri Mantra.

Jadi setiap orang punya masa lalu dan setiap orang punya masa depan. Jika Tuhan tidak mempertimbangkan masa depan umatnya, maka wah… Tuhan sangat tidak adil. Belum tentu anak atau cucu seseorang akan berbuat yang sama buruknya dengan pendahulunya. Tanpa mempertimbangkan apakah manusia yang akan terlahir nanti saleh atau tidak, berbhakti atau tidak, Tuhan sudah menjatuhkan dosa leluhurnya pada anak itu, maka Tuhan sepertinya tidak memiliki welas asih, yang bahkan dimiliki oleh seorang ibu sekalipun.

Dosa Akibat Pegang Bajra

Dalam sebuah dharma wacana, saya pernah mendengar seorang pendharma wacana menyatakan, bahwa seorang jero mangku yang salah memegang bajra, hanya gara-gara jari telunjuknya menyentuh bagian paling atas bajra, akan dijatuhi hukuman sampai tujuh keturunannya. Wah….padahal, anak cucunya bisa saja terlahir menjadi manusia saleh terpelajar dan bermoral yang baik. Tanpa tahu akan kesalahan kakeknya dulu, hanya karena jari telunjuk menyentuh bajra saat mapuja, ia juga kena dosa tujuh turunan. Apa motif yang pendharma wacana menyatakan itu di media televisi, saya sendiri juga tidak tahu. Tapi jika boleh saya interpretasikan, maka itu terjadi karena masih saja sang pendharma wacana dicekoki oleh dikhotomi feodalisme yang kaku.
Setelah saya cari tahu, maka hampir seluruh jero mangku di setiap pura memegang bajra dengan cara demikian. Maka saya berpikir, berarti jika kalimat sang pendharma wacana yang “bijak” itu benar, maka seluruh jero mangku yang saya perhatikan memegang bajra dengan menyentuh bagian paling atas akan masuk neraka sampai tujuh turunannya sekalian. Apakah Ida Bhatara di pura tempat jero mangku ngayah itu, tidak mempertimbangkan bhakti, ngayah, dan niat sang jero mangku selama ini. Jero mangku-nya sudah susah payah menguras energi dan biaya untuk ngayah dengan rasa bhakti seumur hidupnya dengan penuh kemelaratan. Hanya gara-gara jari telunjuk saat mepuja menyentuh bagian atas bajra, ia dan tujuh keturunannya masuk neraka, wah…saya rasa ini mestilah dirujuk sumber sastra sucinya, supaya tidak menjadi iterpretasi pribadi dan motif pribadi juga.

Jadi janganlah mencekoki umat dengan paparan yang menakut-nakuti yang tidak masuk akal seperti itu. Saya bicara berdasarkan Mantra Samhita dan Upanisad, namun jika dalam lontar Nibandha ditemukan yang demikian atau yang bertentangan dengan Sruti, maka dengan tegas saya nyatakan Sruti-lah yang menjadi pegangan utamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar