Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 01 November 2011

Menatap dari Jauh Kebangkitan Umat Hindu Di Sulawesi (Sebuah Analisis Pemikiran)

I Nyoman Tika

Kehidupan umat Hindu di Sulawesi sungguh sangat menarik, dan lama menjadi kenangan indah saya, ketika lebih dari lima tahun silam saya diundang sebagai pembicara di Sulawesi Tenggara dalam kaitan Loka Saba Parisada Tingkat provinsi Sultra. Paling tidak ada beberapa hal yang saya rasa perlu dicermati berkenaan potensi keumatan dan kebangkitan agama Hindu di Sulawesi secara keseluruhan. Cara pandang ini menarik untuk membangun sebuah tatanan baru dalam ranah berpikir pluralis, bahwa umat Hindu bagian dari kehidupan bernegara dan sangat terkait dengan komunitas umat lain di negara ini, untuk bersama-sama membangun harmonisasi kehidupan dengan konsep “Adveshta sarva bhutanam" (Jangan membenci sesama makhluk).
Penjelasan lebih lanjut adalah, pengabdi Tuhan yang sejati tidak mengenal sifat buruk seperti kebencian, iri hati, amarah, dan ketagihan. Bila memasuki diri kita, sifat-sifat semacam itu menjadi hambatan utama bagi pengabdian. kita harus menumbuhkan rasa kesatuan dengan setiap orang. Bila kita benci terhadap seseorang, berarti kita membenci Tuhan sendiri yang kita puja. Karena rasa keakuan serta keangkuhan maka kita bertindak terhadap orang lain yang sekaligus menimbulkan kebencian, kedengkian, dan kemarahan.

Dalam bingkai seperti itu, maka tujuan tulisan ini adalah memberikan analisis alternatif dalam membangun potensi serta membangun SDM Hindu dalam sistem negara Kesatuan Republik Indonesia, serta bagaimana umat Hindu di Bali harus berperan dan bersikap, sebab Bali menjadi senter Hindu Indonesia. Umat Hindu di Bali bisa belajar banyak tentang bagaimana mengelola keumatan dan harmonisasi, dan harus belajar banyak bahwa adat dan desa pekraman di Sulawesi relatif jarang mengalami konflik.

Dalam kacamata saya, tentu asumsi ini masih perlu diteliti ulang, bahwa umat Hindu di Sulawesi dan khususnya di Sultra. Ada berapa hal yang menarik untuk diungkapkan, pertama, kebangkitan Hindu di Sulawesi harus menjadi tonggak pembinaan yang sekaligus menjadi pencitraan jati diri Pulau Sulawesi, bahwa umat Hindu juga dapat soko guru dalam menjaga kedamaian. Dalam etos kerja umat Hindu menjadi teladan dalam bidang kerja keras, dan untuk meningkatkan sektor ekonomi masyarakat sekitarnya yang non Hindu. Umat Hindu haruslah menjadi contoh dalam pengabdian dan rasa nasionalisme, yang sekarang lagi menurun. Oleh karena itu, maka umat Hindu akan terhindar dari konfik adat antara pendatang dan pribumi, yang sering menguat seiring dengan meningkatnya otonomi daerah. Saya banyak mendapatkan informasi ketika ke Sultra, bahwa kasus tanah marak, yakni penduduk lokal yang awalnya peladang berpindah-pindah, kemudian meninggalkan ladang tersebut kemudian diambil alih oleh pemerintah untuk lahan transmigarsi, lalu setelah baik, digugat kembali, dengan alasan bahwa tanah itu adalah tanah leluhurnya. Kondisi ini tentu sangat tidak mengenakkan bagi umat Hindu transmigarasi. Kondisi seperti ini harus diadvokasi oleh tokoh Hindu, juga umat Hindu yang ada di pemerintahan dan advokasi di ruang politik. Oleh sebab itu, umat Hindu yang ada dirantau jangan segan-segan berpolitik, jangan ragu-ragu untuk meningkatkan kompetensi diri dalam berbagai bidang lewat pendidikan. Ketika SDM Hindu mumpuni maka segala urusan-urusan strategis di Sulawesi tentuanya akan sangat tergantung pada SDM Hindu. Kondisi ini akan meningkatkan nilai tawar umat Hindu di mata masyarakat Sulawesi.

Masalah kedua, politik dan ekonomi, bahwa umat Hindu di Sulawesi yang jumlahnya terus bertambah besar, maka merupakan potensi besar pada ruang politik, karena jumlah konstituen dalam kaitan pemilihan langsung, sungguh sangat berperan. Hal ini penting untuk menggolkan calon anggota DPR, Pemerintah daerah maupun DPD RI. Untuk itu umat Hindu di Sulawesi dituntut bersatu, memiliki persepsi yang sama dalam menyikapi pinangan suara. Saran saya adalah, taruhlah kepentingan agama dan negara lebih tinggi, dan secara bulat menyatukan diri. Jangan contoh Bali, sebab Bali sedang terkurung oleh hegemoni sektoral, feodalisme, serta warisan adat yang tak jarang, mempertahankan konflik antarsesama umat Hindu, dari aspek ekonomi.

Masalah ketiga, keberadaan guru agama sungguh sangat strategis. Guru agama dan pembinaan umat Hindu di wilayah rantau termasuk Sulawesi memang menjadi kendala yang sangat penting, sebab banyak guru agama yang lulusan Pendidikan Tinggi Agama Hindu dari Bali, enggan untuk ditempatkan di rantau, meskipun itu ada, kalau sudah menjadi PNS biasanya tidak sedikit yang ingin cepat-cepat pindah ke Bali. Artinya, daya jelajah serta ngayah masih perlu ditingkatkan. Perlu disikapi dengan rasa bakti, bahwa pahala orang-orang yang mau berkorban demi tegaknya dharma lebih baik dari pada ngaturang yadnya dalam bentuk lain. Kata bijak berucap, menegakkan agama adalah membangun dan ibaratnya, tanpa menyiangi rumput di ladang dan menyiapkan tanahnya untuk ditanami, benih yang ditebarkan tidak akan menghasilkan panen yang baik. Demikian pula tanpa menghilangkan rerumputan liar egoisme dari dalam diri kita, segala usaha pengamalan spiritual akan sia-sia. Guru agama dan penyuluh agama adalah sosok yang menyiangi dan juga merawat tumbuhan yang kelak dapat menjadi tempat kita berlindung.

Masalah ke empat, aspek diskriminasi. Ada dikotomi antara pendatang dan putra daerah dalam pegangkatan pegawai negeri, menjadi isu yang sulit ditampik saat ini, di wilayah rantau. Banyak kasus yang saya amati, ketika datang di Sulawesi, ada satu desa transmigrasi yang hampir disetiap KK ada sarjananya, namun kerap tidak bisa menembus untuk menjadi pegawai negeri, kalah bersaing dengan mereka yang dari penduduk lokal atau sengaja dikalahkan. Kalah bukan karena kemampuannya, namun lebih banyak karena bukan seagama, dan bukan penduduk asli. Kita masih dianggap pendatang. Cara-cara yang diskriminatif memang. Langkah yang bisa ditempuh adalah dengan menguatkan visi politik dan peningkatan sumber daya manusia yang lebih berkualitas, sehingga umat Hindu memiliki nilai tawar yang tinggi. Untuk keperluan ini perlu dibangun Sekolah Hindu(TK sampai Perguruan Tinggi Hindu ) dan Balai pengobatan dan Rumah Sakit Hindu di Sulawesi. Untuk urusan ini umat Hindu pasti bisa dan mampu, tinggal miliki niat khusuk untuk beryadnya demi umat dan agama Hindu.

Masalah kelima, membangun jalur Tirta yatra ke Sulawesi. Selama ini fokus tirta yatra itu, ke Jawa, India dan Bali. Mari kita bangun sebuah jalur baru ke tempat Suci Sulawesi. Aspek ini sangat strategis dengan beberapa alasan, (1) keaneka ragaman etnis Hindu di Sulawesi lebih beragam. (2) Kunjungan antara saudara sedharma dapat meningkatkan rasa memiliki dan meningkatkan bakti yang kuat pada Hyang Widhi. Kebangkitan umat Hindu Sulawesi, selain berasal dari etnis Bali juga berasal dari etnis lain yang ada di Sulawesi, kondisi ini juga menambah wawasan keanekaragaman pola dan bentuk ritual Hindu. Oleh karena itu, untuk meningkatkan persaudaraan Hindu perlu dibangun paket tirta yatra ke pura atau tempat suci yang terletak di Sulawesi. Artinya, di masa mendatang kita akan mempelajari cara mengembangkan keyakinan, dan melalui perbuatan yang baik, mensucikan hidup kita. Dengan mengembangkan sifat-sifat yang terpuji ini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kita umat Hindu akan memperoleh kasih dan rahmat Hyang Widi.
Om Nama Siwaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar