Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 01 November 2011

Bhisma dan Rasa Nasionalisme

Luh Made Sutarmi

Bhisma dalam perbaringan, dikitari anak panah. Matanya mulai kabur, namun tajam menatap Hastina. Pergantian penguasa telah terjadi. Kini Yudistira telah diangkat menjadi Raja Hastina yang baru. Duryodana dan Sakuni telah musnah karena otaknya dibebani oleh pikiran penuh korupsi dan kekuasaan yang ingin mengambil hak orang lain. Otak demikian, telah lama diracuni oleh simpton-simpton yang meresahkan. Dan dibutuhkan tantangan kognitif untuk membersihkannya.
Saat ini, ketika tantangan kognitif makin tinggi dan resep jitu untuk meningkatkan daya otak masih terus dicari, sebagian mencoba mendapatkan daya konsentrasi dan motivasi melalui pendekatan tradisional dan modern. Nikotin dan kafein juga sempat disinggung dalam laporan Newsweek selain stimulan seperti Adderall dan Ritalin. Dua produk terakhir diciptakan untuk meningkatkan level dopamin otak. Ini cairan yang melahirkan motivasi dan perasaan dihargai.

Kearifan yang dapat ditarik dari uraian di atas adalah di satu sisi merupakan keinginan sah untuk menjadi lebih pintar, tetapi di sisi lain hal itu secara ilmiah juga menghadapi kendala. Jalan tengah yang dapat diambil lebih kurang adalah terus berusaha meningkatkan kepintaran, tetapi di sisi lain setiap insan juga bijak menerima bakat yang telah dianugerahkan kepadanya. Seseorang yang kenyataannya lebih memiliki kecerdasan musikal bisa saja memendam keinginan untuk menjadi seorang atlet. Namun, mungkin ia harus mengeluarkan upaya ekstrabesar untuk mencapai keunggulan (excellence). Itu pun kalau memang bisa.

Dalam renungan kali ini, kita hendak melihat rasa penasaran Bhisma akan keheningan menyendiri dalam keremangan pagi, dia merindukan kasih para ibu, untuk ikut mencerdaskan para bayi yang lahir, agar memiliki semangat nasionalisme untuk mengabdi seperti dirinya. Merindukan kebahagiaan rakyat dan keajegan tatanan negara.

***
Pagi yang cerah itu, seorang ibu datang menghampiri Bhisma di padang Kuruksetra, bayang-bayang tubuhnya yang tertepa sinar matahari pagi melesat menimpa wajah Bhisma. Bhisma tersenyum, serta berkata, “Siapa gerangan dirimu wahai, Ibu?”

“Hormatku padamu kakek, hamba adalah sosok yang selalu mengagumimu? Lalu apa yang Anda inginkan kepadaku?. Hamba ingin berbakti pada kerajaan dan ingin menjadi warga negara yang baik, bagamaimana caranya, kakek?”

Bhisma tersenyum, “Nak engkau harus memupuk dalam pikiran dan kecerdasanmu tentang bakti, sebab orang yang berbhakti dengan mantap dan tidak tergoyahkan kepada-Ku, dialah yang amat Kucintai, demikian Krishna berucap anakku.”

“Lalu bagaimana caranya kakek?” kata wanita itu. Bhisma berkata lagi, “Anakku, engkau adalah penerus di kerajaan ini, dari rahimmu akan lahir putra dan putri yang bijak, manakala engkau selalu ingat kepada Tuhan, misalnya,” Bhisma menarik napas dalam-dalam dan berkata kembali, “engkau dapat memetik bermacam-macam buah di dunia. Engkau dapat mengumpulkan kekayaan, emas, dan harta benda. Dapat pula engkau meraih kehormatan, kedudukan, dan kewibawaan. Tetapi, Tuhan telah mengatakan bahwa semua hal ini bersifat sementara, nilainya tidak kekal. Satu-satunya hal yang permanen dan mempunyai nilai sejati yang dapat kau peroleh di dunia ini ialah kasih Tuhan. Cinta Tuhan ini luar biasa, tidak ternilai. Merupakan harta yang nilainya tidak dapat dihitung. Engkau harus berusaha keras menemukan cara-cara untuk memperoleh kasih Tuhan yang sangat berharga ini.”

Wanita itu mengangguk, lalu bertanya kembali, “Dalam keadaan jaga seperti sekarang ini pengaruh pikiran dan indera sangat kuat, bagaimana mengatasi ini, kakek?”

Bhisma menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Ya, memang anakku, dalam keadaan jaga pengaruh pikiran dan indera sangat kuat. Namun dalam keadaan mimpi mungkin indera tidak berpengaruh, tetapi pengaruh pikiran tetap ada. Dalam keadaan tidur nyenyak (sushupi) ketika kesadaran berada pada tingkat kausal, pikiran lenyap.”

Bhisma menambahkan, “Anakku, engkau tidak dapat selamanya mendasarkan pengalamanmu hanya atas prinsip ketuhanan yang diwujudkan dengan nama dan rupa. Aspek wujud dan aspek tanpa wujud sama pentingnya bagi seorang bhakta. Ibarat kedua sayap burung atau kedua kaki untuk berjalan. Tujuan dapat dicapai dengan kedua kaki itu, yaitu dengan wujud dan tanpa wujud. Dengan meletakkan satu kaki di depan yang lain, kaki yang melambangkan wujud ditopang oleh kaki lainnya yang melambangkan tanpa wujud. Perlu kita sadari bahwa penjelmaan Tuhan dengan wujud hanya bersifat sementara, sedangkan aspek ketuhanan tanpa wujud bersifat kekal, ada di mana-mana dan tak berubah.”

Wanita itu, termenung, dan diam, lalu berbisik pelan. “Terimakasih kakek, hamba telah mendapat pencerahan yang abadi, semoga engkau bahagia.” Om gam ganapataye namaha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar