Penerbit PT Pustaka Manikgeni

Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765

Minggu, 05 Juni 2011

Salah Kaparh Salam Astungkara

Ida Ayu Tary Puspa

Salam adalah kata yang kita ucapkan bila bertemu seseorang. Yang paling umum dan berlaku universal adalah selamat pagi, siang, malam, dan tidur yang dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dengan makna yang sama. Dalam komunitas agama kita pun mengenal salam dengan ucapan berbeda-beda, tetapi memiliki makna yang identik . Seperti misalnya dalam Hindu dikenal salam atau panganjali yaitu “Om Swastyastu” yang bila dicari artinya di dalam kamus adalah semoga selamat. Di dalam salam itu terdapat makna yang dalam karena diucapkan pula wijaksara suci Om sebagai Triaksara yang berada dalam masing-masing Dewa Tri murti yaitu A, U, M yang disandikan menjadi Om. Jadi dalam salam Om Swastyastu terkandung makna semoga selamat dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selain Om Swastyastu dikenal pula istilah namaste yang artinya salam atau menghormat, hanya saja salam ini kurang memasyarakat bagi masyarakat Hindu di Bali.


Akhir-akhir ini karena perkembangan teknologi informatika terutama dalam alat komunikasi seperti Hand Phone atau jejaring sosial dalam internet, face book, twitter, maka salam itu pun mengalami perkembangan dalam penulisan yang disingkat seperti misalnya dalam mengirim Short Messages Service (SMS) sesama komunitas Hindu. Memulai menulis, maka akan diketikkan kata Osa, yang a seakan singkatan dari Om Swastyastut.

Penggunaan bahasa yang digunakan oleh orang-orang adalah sebuah simbol berdasarkan kesepakatan. Oleh karena akses yang cepat dan menulis pesan yang tidak mungkin panjang-panjang sesuai kata itu, maka di dalam SMS akhirnya disepakati (kesepakatan nonformal-red) sebagai sebuah konvensi untuk mengganti Swastyastu dengan tulisan singkat di SMS menjadi Osa. Osa sebenarnya tidak mengandung makna apa-apa karena berupa singkatan.

Pertama kali menerima SMS dengan salam seperti itu saya pun tidak mengerti apa maksudnya. Terlebih pada penutup pesan diketik OS3XO yang diartikan sebagai kepanjangan dari Om Shanti, Shanti, Shanti, Om. Sama dengan Osa, maka OS3X tidak bermakna apa-apa karena disingkat. Akan tetapi kalau berupa kesepakatan di antara komunitas Hindu, maka singkatan itu akan dapat dimengerti karena tidak mungkin menulis secara utuh dalam sebuah SMS. Namun di dalam surat menyurat resmi antarinstansi Hindu tetap saja penulisan salam pembuka dan penutup dengan kata yang lengkap, yaitu Om Swastyastu dan Om Shanti, Shanti, Shanti Om yang artinya semoga selamat dan semoga damai di hati damai di bumi damai selalu.

Kecerdasan umat Hindu menyingkat salam itu sedemikian rupa karena di dalam Hindu pun ada singkatan dari Panca Aksara dan Panca Brahmaa yang akan membentuk dasaksara yaitu SA, BA, TA, A, I, NA, MA. SI, WA, YA. Singkatan itu adalah singkatan Dewa-Dewa penguasa penjuru mata angin seperti Sadyojata, Bamadewa, Tatpurusa, Aghora, Isyana. Singkatan itu akan sering digunakan dalam mantra untuk muput sebuah upacara misalnya.

Di tengah dinamika kebudayaan Bali, maka orang Bali pun ingin hidup dalam budaya glokal, yaitu hidup dalam era globalisasi namun tetap cinta pada budaya lokal, maka orang Bali pun ingin bahwa jati dirinya tetap eksis di percaturan hidup. Mulailah orang Bali ingin menunjukkan identitas dengan salam ala Bali seperti Rahajeng semeng, siang, wengi bukannya dipakai Rahajeng tengai untuk siang. Inilah bahasa gado-gado. Ditambah lagi dengan salam Swasti prapta yang diartikan selamat datang. Hal ini dipopulerkan oleh stasiun radio dalam acara mebasa Bali oleh para penyiarnya sehingga masyarakat/pemirsa yang mendengar salam itu mencoba pula untuk menirunya. Dalam hal ini seakan-akan orang Bali mencari-cari bentuk peniruan dalam bahasa Jawa karena dalam bahasa Jawa dikenal salam Sugeng rawuh ‘selamat datang, sugeng enjing ‘silakan masuk’ maupun sugeng sare ‘selamat tidur’.

Sejatinya dalam kehidupan orang Bali terutama di pedesaan salam itu belum memasyarakat, karena orang Bali memiliki ungkapan hati dengan bahasa tersendiri. Seperti misalnya kalau ada tamu yang datang, wawu rawuh nggih, durusang melinggih dumun. “Baru datang ya, silakan duduk dulu!.” Kalau seseorang punya hajatan yadnya, maka yang punya hajatan (meduwe karya) mengatakan, “Suba teka dogen tiang suba demen.” Artinya, “Sudah berkenan untuk datang saja, saya sudah senang.” Jadi bukan kata “suksma” yang diucapkan.

Begitu pula dalam sebutan untuk Tuhan dalam Hindu yang di dalam Upanisad disebut Brahman, sedangkan orang Bali-Hindu menyebut dengan Sang Hyang Widhi. Ada juga gelar atau sebutan yang lain sesuai sifat, fungsi, dan prabhawaNya, seperti Sang Hyang Wenang, yaitu gelar Tuhan sebagai pemegang wewenang atau kebenaran yang mutlak dalam membentuk susunan dan peraturan alam, disebut pula Sang Hyang Tuduh, Sang Hyang Licin, Sang Hyang Ayu, dan Sang Hyang Widya.

Istilah yang paling gres yang agak latah diucapkan oleh orang Bali yang mencoba-coba mencari padanan dalam bahasa Bali bila mendengar orang muslim berkata untuk sebuah kegiatan, misalnya alhamdulilah yang artinya semoga, yaitu dengan kata astungkara yang kira-kira di benak orang yang mengucapkan itu diartikan sebagai semoga padahal arti denotasi bila dilihat pada kamus adalah puja, atau sembah. Inilah sebuah penggunaan kata yang semantiknya tidak sesuai karena terkesan salah kaprah. Orang Bali mengenal padanan kata alhamdulilah adalah dengan kata dumogi atau dumadak. Dumugi (adv) artinya moga-moga, dumugi sadia rahayu artinya moga-moga selamat sentosa sedangkan dumadak (adv) artinya semoga, dumadak apang rahayu artinya semoga selamat.

Agar mewakili apa yang dimaksudkan dalam berbahasa, maka gunakanlah bahasa dengan baik dan benar yang sesuai dengan situasi serta dengan tata bahasa yang benar. Dengan demikian, maka bahasa akan menunjukkan bangsa.

22 komentar:

  1. hehe saya pernah ditanya teman non hindu apa artinya astungkara...karena dia pernah baca di fb temennya yg orang bali..saya jadi bingung mau jawab apa karena saya nga pernah memkai salam itu...

    saya jawab saja nga tau...

    kesala2han penggunaan salam oleh umat hindu karena orang bali tidak mengenal agamanya melalui sastra atau kitab2 panduan agama hindu...yg disebut weda..entah berapa orang bali yg pernah membaca weda...

    saya sendiri tidak pernah...

    Orang bali hanya menerima konsep hindu dari mulut kemulut yg diturunkan oleh orang tua merak tentu saja hal ini menyebabkan banyak celah kesalahan..misalnya ingatan,salah penafsiran , dan cara pandang orang yg menyampaikan atau menurunkan....

    Agama hindu di bali sendiri saya rasa cukup aneh...agama hindu yang di tafsirkan melalui simbol2 banten dan ritual yg dimulai mungkin sejak kedatangan orang2 jawi ke bali..sia je namnya to empu kuturan apa danghyang nirata?

    saya rasa merekalah yg bertanggung jawab akan keadaan ritual bali saat ini. mereka tidak bisa memperkirakan bagaimana dunia saat ini...mereka meninggalkan warisan yg memberatkan masyarakat bali...

    perlu ada orang yg merevolusi bali....

    jangan sampai orang asing menabung untuk melali ke bali..tetapi orang bali nabung untuk menjaga budaya yang penuh ritual ini.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf pak saya sangat2 tidak sependa[at dengan anda. . . kalo tidak ada mpu kuturan atau dang hyang nirartha yg datang ke bali mungkin tidak ada yg namanya ajaran hindu seperti sekarang di bali... desa pakraman dan konsep kayangan tiga adalah ajaran2 yg diturunkan oleh beliau2. . . aja pertanggung jawaban seperti apa yg perlu kita minta kpd beliau2 itu. . . semestinya kitalah yg bertanggung jawab melestarikannya, , dan saya sendiri kalo mau mendalami agama hindu saya cari tahu sendiri dengan membeli buku2 tentang ajaran agama hindu, krn saya merasa saya adalah orang hindu, , jadi tidak menunggu orang lain untuk sampai mengajari saya.. tampaknya pak loodec ini sudah mulai jenuh dgn agama hindu. . . sebaiknya anda merenung apa yg sdh anda berikan untuk agama hindu kita tercinta ini. . . sekin terima kasih.

      Hapus
  2. Om Swastiastu..
    agaknya terlalu dini untuk memvonis keseluruhan orang Bali seperti yang disebutkan..mari kenali apa yang dilakukan orang Bali dengan banten upacra atau ritual lainnya. terkadang memang terkesan agak berlebihan, tpi sebagai sosok spiritual, mari mengkaji fenomena ini lebih luas, lebih dalam dan objektif..
    Secara Alamiah, masyarakat Bali punya naluri untuk berekspresi lewat kesenian.
    Dalam Bhagawad Gita, Seorang Bhakta mempersembahkan sebiji buah buahan, setangkai bunga, sehelai daun, dan seteguk air sebagai bhakti yang suci KehadapanNya.
    karena naluri berekspresi inilah orang Bali kemudian mewujudkan sebiji buah2n ke dalam sebuah gebogan, sehelai daun dalam sampian2 berbagai bentuk, setangkai bunga dalam canang.simbol itu hanyalah sarana untuk memusatkan pikiran. tidak ada yang salah dengan itu, semua orang pasti memerlukan pemicu untuk memusatkan pikiran, ada yang dengan mengatur nafas, mudra, dll. nah, kembali, karena naluri berekspresi yang tinggi muncullah simbol2 tersebut.
    keinginan untuk berbaktilah yang mendasari Rakyat Bali untuk melakukan ritual seperti sekarang ini..contoh sederhana : bila seorang jatuh cinta kpd pasangannya, mk orang itu berusaha mengekspresikan rasa cintanya semaksimal yg dy bisa. ada kesepakatan dengan dirinya sendiri dalam benak orang Bali yaitu hidup untuk berYadnya..
    tidak ada yang salah dengan budaya yang penuh dengan ritual ini, asalkan dilakukn berdasarkan Tattwa dan Susila, serta tidak disertai dengan fanatik sempit.
    soal org Bali yg tidak pernah membaca Weda,,saya punya analogi begini : bila ada satu merk kendaraan bermotor yang sering dijumpai di bengkel, belum tentu merk tersebut gampang rusak, tapi karena orang2 mayoritas memakai merk itu. msyarakat Bali sangat amat dominan beragama Hindu. beberapa orang yg qt jumpai ga pernah membaca weda, belum tentu semua ga pernah membaca Weda. sebagai bukti, di kota Denpasar sebagai contoh, ada 3 Ashram Hare Krishna yg saya tau dan puluhan Ashram dari fokus kepercayaan lainnya (anggap saja ada 10). 1 Ashram memiliki anggota 200 orang, berarti 13 Ashram totalnya 2600 orang.semua Ashram itu amat sangat dekat dengan Weda. ni masih hitungan amat kasar. belum termasuk Pasraman, Universitas Hindu.kaum akademisi, sekaa geguntangan, dalang, Pemangku, Ida Pandita dengan sisia Beliau, ilmu kebatinan, klompok2 spiritual, dsb.
    jadi mungkin masih perlu meinjau langsung situasi di Bali sebelum menilai.
    memang masih ada yang ikut2an dalm berupacara,, tpi ada sisi positif dari itu,, dari niatnya untuk beryadnya saja sudah bernilai amat baik karena semua bermula dari niat,, lalu Tuhan akan membuka jalan menuju Tuhan itu sendiri..

    jeruk itu kulitnya masam, tpi isinya manis..
    jangan terjebak dengan asamnya kulit, dalam menilai jeruk secara keseluruhan.

    kita semua bersaudara, tanggung jawab kita membimbing saudara kita yang masih tenggelam dalam kegelapan dirinya, bersama sama menuju Sinar Suci Tuhan :)

    Om Lokah Samasthah Sukhino Bhavanthu,,semoga dharma, kebaikan, kebahagiaan menyebar ke segala penjuru alam semesta.

    OM shanti Shanti Shanti OM

    BalasHapus
  3. ulasan yang sangat menarik. Ternyata banyak juga kaidah berbahasa yang perlu dicermati dalam penggunaannya. mau sekedar sharing aja, alhamdulillah bukan berarti semoga dalam agama Islam. Tapi lebih ke arah ungkapan rasa syukur setelah mendapat nikmat dari Tuhan. Kalau semoga, itu padanan katanya 'amin'.
    Semoga ulasan yang seperti ini sering-sering dikupas lagi ya :)

    BalasHapus
  4. Om Swatyastu...

    Salam, saya berpendapat tentang artikel ini merupakan sesuatu yang perlu kita ketahui dan meluruskan arti dan makna kata tersebut. Tapi saya tidak punya intensitas yang lebih dalam hal ini. Menyinggung masalah ritul di Bali, pelaksanaan dan pemaknaan upacara sudah sangat lengkap sekali mulai dari sarana dan prasarananya. Menurut saya sah-sah saja ketika mereka melakukan upacara karena dalam tiga kerangka agama Hindu telah disebutkan seperti :
    1. Filsafat (upanisad)
    2. Susila (etika)
    3. Upacara(ritual)
    menurut beberapa pandangan guru, kenapa di Bali terlalu dominan adanya Ritual tidak lain karena sejarah dari Bali sendiri. Sebenarnya ketika kita hanya condong ke arah ritula saja dan poin nomer 1 dan nomor 2 belum jauh pemahamannya, maka disana akan timbul pro dan kontra dengan Ritual itu sendiri...mari lihat India yang telah melaksanakan ketiga poin tersebut. Mohon maaf jika ada salah dan sekali lagi saya tidak mempunyai cukup kapasitas untuk ini :)

    Mari kita semua menjalankan tri kerangka agama hindu sebagai kekuatan dasar bermasyarakat yang cinta damai penuh kasih...salam

    Om santi santi santi om...

    BalasHapus
  5. Salam.. :)

    Mohon maaf, sebelumnya, sama seperti komentar yang di atas, saya tidak memiliki intensitas lebih, dan hanya sekedar ingin berbagi.

    Tulisan di atas menyebutkan "alhamdulillah" berarti semoga. Kebetulan saya beragama islam, dan sebenarnya "alhamdulillah" adalah ungkapan untuk menyatakan rasa syukur, atau Segala Puji bagi Allah".

    Sekali lagi, mohon maaf jika kurang berkenan.
    Salam. :)

    BalasHapus
  6. Om Swastyasthu, Om

    Koreksi yang disampaikan penulis dalam tulisan ini, menurut saya baik sekali. Penulis memiliki niat untuk meluruskan sesuatu yang sepertinya salah, apalagi hal tersebut berkaitan dengan hubungan kita kepada Ida Sang Hyang Widhi.

    Saya tertarik dengan ulasan mengenai penggunaan kata 'Astungkara', msekipun saya tidak akan memperdebatkan penafsiran kata tersebut, yang menurut penulis berarti "puja" atau "sembah", pun demikian saya juga tidak akan memperdebatkan apakah hal tersebut adalah salah kaprah atau bukan.

    Akhir-akhir ini di kalangan umat Hindu memang mulai terjadi kecenderungan penggunaan kata "Astungkara" sebagaimana Saudara-saudara kita umat Muslim menggunakan kata "Alhamdullilah". Namun jika dilihat dari suasana dalam pengucapannya, "Alhamdullilah" sering diucapkan ketika seseorang ingin berterima kasih kepada Tuhannya atau lebih tepatnya sebagai ungkapan rasa syukurnya atas sesuatu hal pemberian dari Tuhan. Dengan demikian, meskipun saya tidak mengetahui secara pasti arti kata "Alhamdullilah", nampaknya kata tersebut tidak memiliki arti "Semoga" tetapi "Syukur"....

    Hal tersebut disampaikan juga pada komentar sebelumnya diatas.

    Demikian pula dengan umat Hindu yang mulai sering menggunakan kata "Astungkara", nampaknya -saya baca dari beberapa artikel lain, bahwa hal tersebut dapat dibaca merupakan 'kreatifitas umat'- sebagai suatu bentuk ungkapan rasa syukur kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, seperti halnya penggunaan kata "Alhamdulilah" bagi umat Muslim.

    Jikalaupun benar kata tersebut adalah berarti "puja" atau "sembah" sebagaimana diutarakan oleh penulis, maka penggunaan kata tersebut tetap dapat dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur, atau suatu 'puja' dan 'sembah' yang muncul atas dorongan rasa Syukur dan Terima KAsih kepada Tuhan. Saya yakin, Ida Sang Hyang Widi sebagai Tuhan yang maha tahu, pasti mengerti maksud hal tersebut.

    Namun demikian, saya sangat setuju jika ada kata atau mantra lain yang lebih tepat dimaknai dan diartikan sebagai kata "syukur", maka akan lebih baik jika umat Hindu menggunakannya agar maksud dan tujuan dari yang ingin disampaikan seseorang kepada Tuhan, mewakili apa yang dimaksudkan dalam penggunaan bahasanya.

    Untuk itulah jika penulis dapat membantu, akan lebih berguna bagi kita semua.

    Salam hangat dari Saya.

    Om, Shanti, Shanti, Shanti, Om....

    :)

    BalasHapus
  7. berdasarkan rujukan dari kamus online yaitu : http://www.berarti.com/astungkara , astungkara artinya: memuji, berdoa


    BalasHapus
  8. Ijin nyimak aja ya...semoga dengan keragaman kebudayaan Dan agama Di Indonesia tidak menjadi memecah belah namun malah menjadi pemersatu bangsa...

    BalasHapus
  9. ulasannya berguna tapi kurang padat dan masih terlalu banyak typo,sebaiknya dibaca ulang kembali sebelum dipublikasikan :)

    BalasHapus
  10. Alhamdulilah itu artinya Segala Puji bagi Allah.. Jd bukan "semoga" artinya.. Itu ungkapan syukur.. Demikian juga dg penggunaan astungkara.. Byk teman2 spiritual saya memakai kata itu utk memaknai rasa syukur (mendoakan)..

    BalasHapus
  11. bagus transporter23 Juli 2013 20.38

    Apapun itu, puja syukur terhadap TUHAN adalah semangat saya suksma bu Dayu

    BalasHapus
  12. Om Swasti Astu,
    sepanjang istilah tersebut membawa hati sendiri dan orang lain damai,,,silahkan,,saya sering mendengar setiap ucapan atau penharapan saya ke teman di balas dengan'Astungkara' saya merasa damai(setidaknya ada perasaan dia ikut mendoakan pengarapan saya kepadanya) sama seperti mendengar Om Swastiastu atau Om Santih Santih santih OM yang memberi kedamain, itu sih menurut saya peribadi,,

    BalasHapus
  13. om swastyastu, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru, astungkara yang diungkapkan oleh kebanyakan orang penapsiran saya adalah rasa syukur dan mengharapkan selalu mendapat rido ide sanghyang widi, jadi maksudnya sudah mengena. dan semoga dengan pengucapan kata2 suci dapat bermanfaat pada aktivitas yang positif, semoga pencerahan dari budayu dapat berlanjut om santih santih santih om

    BalasHapus
    Balasan
    1. sependapat ! astungkara boleh dipadankan dengan syukur, dari kata asat_ung_kara ... ketidaknyataan_pemeliharaan_kemurnian/murni (syukur/suksma/terimakasih)

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

      Hapus
  14. Hanya ingin share aja...
    Arti kata "salam" dalam agama Islam adalah selamat. Assalamu'alaikum berarti semoga engkau selamat. Bisa diucapkan kapan saja, baik pagi, siang, sore ataupun malam. Jadi makna assalamu'alaikum sangat jauh berbeda dengan selamat pagi atau selamat siang atau selamat yg lainnya, karena assalamu'alaikum merupakan do'a agar kita selamat.
    Sedangkan Alhamdulillah berarti segala puji bagi Allah, yaitu ungkapan terima kasih kita kepada Allah.
    Kata yg paling sering disalahartikan adalah kata "insya Allah". Banyak orang Islam sendiri yg mengatakan insya Allah dengan maksud semoga atau mudah mudahan. Padahal insya Allah berarti jika Allah mengijinkan.
    Demikian hanya sekedar sharing aja, semoga bermanfaat.


    BalasHapus
  15. mohon ijin menyimak gan.. obrolan yg menarik dan menambah wawasan.... trmksh

    BalasHapus
  16. masih bingung sama artinya "astungkara"

    BalasHapus
  17. tulisan yang sangat menarik,, kbtulan saya dari jawa muslim, mw ngsih ucapan astungkara ma temen2 dari bali tp tkutnya salah arti,hehe,,oh iya mhon maap hnya pengen berbagi aja, itu yg kata sugeng enjing artinya selamat pagi bkan silahkan masuk, klo silahkan masuk=monggo mlebet,mg brmnfaat,.
    indahnya kebersamaan saling mengenal agama dan budaya :)

    BalasHapus
  18. Om Swastyastu,,
    Memang banyak umat Se-Dharma dewasa ini, mengucapkan Astungkara, didalam setiap sebuah permohonan/doa, juga pada obrolan yang mengandung permintaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Misalnya " semoga kamu dapat anak yang suputra, pasti dijawab Astungkara. Berdasarkan konteks pada kalimat itu bisa dimaknai "semoga itu terjadi atau Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan", sebagai sebuah harapan. Hal itu menunjukkan Astungkara adalah sebuah Mantram, yang mewakili permohonan/mendoakan sesuatu yang berhubungan dengan kebaikan. bisa disimpulkan, bahwa Astungkara, adalah Doa untuk kebaikan segala sesuatu. artinya kita Berfikir Positif, terhadap sesuatu. Jika Toh nantinya apa yang diharapkan tidak sesuai dengan keinginan, tentunya sebagai manusia kita tetap harus bersyukur juga, dan berpikir positif terhadap sebuah cobaan. Oh itu adalah Phala (pahala) dari karma (perbuatan) saya, saya kira begitu kita memaknai Astungkara. semoga ada manfaatnya. Om Santhi Santhi Santhi Om

    BalasHapus