Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Minggu, 05 Juni 2011

HINDUISME SEBAGAI PAYUNG

Agus S. Mantik

Hinduisme seperti yang dikatakan oleh sebahagian orang orang sebagai kritik dan bagi saya sebagai pembenaran dan pujian adalah payung nan emas agung yang mengayomi rangkaian dari berbagai gagasan, rangkaian praktik dan aneka ragam pendekatan kepada Tuhan. Di bawah payung emas itu ada mereka yang ragu-ragu, para Charvaka, ada juga yang percaya kepada hukum determinisme yang kaku dari ajaran Buddha. Ada juga ruang untuk pengejaran kepercayaan Tuhan yang berkepribadian (Personal God). Ada juga tempat untuk pelepasan segalanya termasuk juga Tuhan Yang Berkepribadian serta tentu saja faham mengenai identiknya diri sejati dengan Yang Maha Tinggi seperti didalam Vedanta.
Itulah payung emas nan gung yang telah mengayomi semua jenis pemikiran dan spekulasi dan dialah payung yang sampai sekarang tetap teguh berdiri menahan anasir- anasir dan kekuatan-kekuatan yang telah mengubah bentuk-bentuk pikiran yang lain. Tidak sedikit dari ketegaran itu berkat karya Sri Shankara, sebab diberikan kekuatan kepadanya untuk me-rekonsiliasi-kan semua aspek dan apa yang beliau harus lakukan di dalam bhasya dan rangkaian puisinya adalah memberikan penjelasan mengenai aktualitas dari hidup. Dan bersamaan dengan itu ketika mereka mencapai hal di atas dan di luar hal itu memberikan sintesa di dalam ke-empat mahavakyas dari rangkaian Upanisad, menyamakan Alam Semesta dengan diri-sejati yang adalah baik di dalam maupun di luar hal ini serta menjelaskan mengenai keberadaan, kematian dan perbuatan melaui gagasan mengenai maya.

Kita tidak banyak mengetahui mengenai pribadinya akan tetapi seseorang mungkin bisa menyimpulkannya bukan dari karya karya biografi mengenai dirinya, akan tetapi dari rangkaian puisi minor dan fragment nya, orang seperti apa beliau ini. Memang sangat sulit pada orang suci atau pakar falsafah Hindu untuk memperoleh gambaran yang nyata karena tiada satu pun dari mereka menginginkan keagungan nama atau keabadian kemashuran. Di dalam satu puisi, beliau menghaturkan sembah agar dibebaskkan dari empat macam nasib. Hal-hal yang beliau sungguh-sungguh tidak inginkan, dari mana beliau ingin diselamatkan dan yang menurut beliau berbahaya untuk menjalani kehidupan rohani adalah: (1) Menjjadi Purohita, yang dianggap sebagai penghubung di antara manusia dan Dewata, posisi yang sering mengarah kepada kesombongan dan exploitasi; (2) Nafsu keduniawian yang menghitamkan pikiran; (3). Kepemimpinan politik sebagai pemimpin dari kelompok – status yang biasa diiringi oleh kepentingan diri sendiri dan korupsi, sebuah proses yang memurahkan diri dengan melakukan apa saja yang diperlukan untuk memperkuat kedudukan; (4) Dipilih sebagai Pendeta Tertinggi.

ADVAITA
Berbicara mengenai azas advaita, Sri Shankara memastikan di dalam Manisha Panchaka, bahwa seseorang akan aman selama dia merealisasikan, bahwa dia adalah Brahman dan bahwa alam semesta ini sesungguhnya adalah maya kalpita – ciptaan pikiran – dan tiada memiliki keberadaan yang terpisah. (Sir Arthur) Eddington, pakar ilmiah modern mengatakan hal yang sama dengan bahasa yang berlainann dan juga tekanan yang tidak sama. Akan tetapi Sri Shankara memang sangatlah toleran. Untuk mereka yang memiliki sifat tertentu yang membimbing mereka ke arah devosi kepada dewata atau perwujudan tertentu, semoga tiada kesulitan atau gangguan, sebab keluar dari sifat kasih sayang yang tiada batasnya akan ada realisasi di luar dan mengatasi rasa kasih sayang tersebut. Inilah pesan beliau dan melalui hal inilah saya merekonsiliasikan teori yang abstrak ini dengan hymne-nya.

Beliau menganggap Kasih Sayang dan bhakti sebagai pijakan pada jalan, sebagai langkah langkah menuju gunung maha tinggi di mana bersemayam kebenaran sejati Vedanta. Bahwa tiada sesuatu pun ada di luar Entitas Agung yang disebut Brahman atau Atman Maha Tinggi di mana Atman itu adalah diri sejati Anda dan saya. Serta bahwasannya, semua pertentangan dan kesulitan adalah karena ilusi mengenai keterpisahan di mana keterpisahan itu tidak pernah ada. Visi (penampakan) yang datang, baik kepada para bhakta dan para jnani adalah visi yang bukan di luar diri sejati, akan tetapi di dalamnya. Visi itu bisa diperoleh sebagian melalui jalan lahiriah, sebab memenangi raga adalah perlu untuk memenangi pikiran, akan tetapi ketika raga sudah dikuasai, pikiran seyogyanya mulai dianalisa dan kemudian jiwa digabungkan ke dalam Yang Maha Tinggi.

Sri Shankara mencoba dengan berbagai jalan untuk meniti alur yang sudah pernah dilalui oleh para ahli falsafah dan para nabi, akan tetapi kebesarannya adalah disifatkan di dalam sintese dan harmonisasi dari berbagai gagasan (ideals), sehingga memungkinkan orang-orang dengan perbedaan alat-alat, perbedaan kelahiran serta perbedaan sejarah hidup mereka masing-masing untuk mengikuti kecenderungan masing masing dari pikiran mereka, falsafah mereka. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan mencita-citakan untuk mengatasi falsafah perseorangan itu dan sampai kepada pengalaman maha tinggi di mana jiwa perseorangan larut di dalam Yang Tiada Terbatas. Dan tidak dibedakan dengan hal itu, dimana tidak ada pertentangan serta bagaimanapun kita mengatakannya adalah satu hal yang ada dan yang telah menciptakan semuanya, immanent didalam semuanya dan tentu saja tetap transcendence.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar