Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 05 April 2011

Revisi Awig-awig, Bhisama, Piteket yang Menghambat Orang Bali untuk Maju

A.A. Bagus Sudira

Generasi tua Bali masih fokus kepada urusan ritual, adat, budaya dan urusan non ekonomi lainnya. Akibatnya, mencari uang menjadi sangat sulit. Karena semua jenis pekerjaan telah diborong oleh penduduk pendatang yamg lebih lebih pintar, lebih ulet, lebih inovatif/kreatif, lebih giat. Bahkan mereka mau melakukan pekerjaan dengan bayaran yang lebih rendah dibandingkan orang Bali. Jadi masyarakat Balinya kalah bersaing dari berbagai segi.
Padahal kini permintaan kebutuhan rumah tangganya terus meningkat. Seperti, anak minta sekolah, motor, HP, olah raga, dan kebutuhan lain. Karena stres dituntut berbagai kebutuhan lantas terpaksa dijual tanah warisan yang ada. Warisan mereka pun dibeli oleh para pendatang itu, sehingga makin lama makin sedikit tanah milik masyarakat Bali. Sebaliknya tanah milik pendatang makin lama makin banyak. Jika cara ini berlanjut terus, maka kira-kira dalam waktu 50 tahun lagi pasti tanah Bali ini akan habis terjual. Selanjutnya ngungsi ke Sulawesi, Kalimanta atau Irian.

Tampaknya, masyarakat Bali lebih senang mengarak ogoh-ogoh ramai-ramai, berpartisipasi pada PKB, sembahyang sekeluarga ke Jagatnatha, kerja bakti ke Banjar, ngayah ke pura, dan lain-lainnya. Untuk hal itu masyarakat Bali tetap semangat. Walaupun untuk itu, mereka akan keluar uang. Minimal Rp 50 ribu sekeluarga pada hari itu. Karena jika tidak ikut bisa “dihukum Banjar”. Awig-awig banjar mengharuskan masyarakat taat aturan yang ada. Walaupun akibatnya mereka tidak bisa berdagang, kerja ke kantor, mencari uang. Lalu mereka pakai baju adat - tumplek ke jalanan, ke lapangan, ke banjar, ke pura, dan lain-lain. Walaupun hujan.

Sementara pada pentas yang lain di suatu sudut, penduduk pendatang banting tulang mencari uang, mengejar rezeki saat itu. Dan menguras rezeki yang ada di Bali. Ini membuatnya sukses dan makmur hidupnya di Bali. Dan mengundang lebih banyak lagi keluarganya ke Bali yang membuat jumlah mereka melebihi jumlah masyarakat Bali aslinya. Ini kemudian berakibat, jika hari raya Islam datang, maka tak heran jalanan di Bali kosong. Beli kebutuhan hidup sehari-hari susah. Pembantu pulang, ibu rumah tangga kelimpungan. Bayi/Balita terpaksa dititipkan ke penitipan anak.

Saat ini “generasi tua” Bali menghadapi keadaan yg sangat komplek dan gawat. Di dalam rumah tangganya sendiri menghadapi tuntutan kebutuhan hidup anak-istri yg meningkat. Sementara itu di keluarga besar – urusan adat dan ritual dan warisan terus ribet. Warisan sudah dibagi, tapi kontribusinya kepada upakara yadnya yg harus dilaksanakan (negen yadnya) tetap tidak ada. Tapi, jika warisan tidak dibagi timbul iri dan dengki di antara saudara. Yang membuat timbul saling santet dan teluh, berantem, bahkan sampai bunuh-bunuhan segala. Hancur lebur ikatan persaudaraan yang mengakibatkan banyak masyarakat Bali akhirnya mencari “saudara” dari Jawa, Lombok, Kalimantan atau daerah lainnya.

Sumber masalahnya terjadi, karena cara menjalani kehidupan ini sudah tidak sesuai lagi dengan zamannya. Masyarakat Bali (khususnya generasi mudanya) harus mengubah cara menjalani kehidupan ini. Utamakan pendidikan dan pengetahuan serta praktek untuk mencari uang. Generasi bali harus merebut peluang untuk menjadi pengusaha hotel, buka rumah makan, kerja di kantoran sebagai PNS dan Swasta, agen pelayaran kapal pesiar, franchise dan lain-lain. Tentukan keinginan dan cita-cita kemudian kejar dengan penuh semangat. Jadi dengan mengubah paradigma hidup dan merespon perkembangan zaman, hidup kita bisa survive.

Untuk itu revisi awig-awig kuno yang menghambat kinerja, karir dan bisnis masyarakat. Revisi juga ajaran agama, ritual, upacara yang berpedoman pada adat dan budaya, sejarah purba yang tidak sesuai dengan zamannya. Evaluasi semua piteket atau bhisama yang tidak mempertimbangkan faktor-faktor ekonomi dan lain-lain yang ternyata membuat generasi tua kalah bersaing.

Sayangnya entah karena apa masih banyak generasi tua dan malah generasi muda yang tetap ingin mempertahankan sistem kuno ini yang kemudian menimbulkan perbedaan persepsi tajam di antara generasi muda dengan generasi tua. Demikian juga antara satu banjar dengan banjar lainnya.

Karena ribut untuk hal-hal yang tidak perlu, akhirnya habislah waktu, energi, biaya, pemikiran – yang seharusnya dipakai untuk urusan yang lebih produktif dan bermanfaat. Di tengah situasi demikian, sayangnya para wikan, penglingsir, pejabat, bahkan aparat keamanan lamban membereskan masalah-masalah itu. Banyak konflik menggantung tak menentu, bagai api dalam sekam yang setiap saat bisa meledak.

Masyarakat Bali tidak punya waktu lagi untuk mencari uang atau meningkatkan karir dirinya di Bali ini. Bahkan banyak generasi muda Bali yang rarud dari kampung halamannya ke Jakarta atau daerah lainnya. Dan generasi tuanya yang notabene pemilik pulau Bali ini, tidak sempat menyelamatkan dan melestarikan alam Balinya. Hutan digundulin, kayunya dicolong, gunung dibongkar, tanah urugnya dijual, laut diurug untuk hotel, villa, sungai dicemari dengan limbah beracun, remajanya dicekoki narkoba, dan sebagainya. Kemana para orang tua, guru sekolah, mangku, peranda, aparat kepolisiannya atau pecalangnya?. Ini jenis kejahatan yangg terorganisir canggih, sudah mengakar yang akan menghancurkan pulau Bali dan masyarakat Bali sekalian.

Mereka yg merantau itu ternyata lebih sukses dari pada generasi muda Bali yang ada di Bali. Contoh, Jro Wacik (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata) Sudirta (Pengacara, anggota DPD), Ade Rai (Pebisnis dan olahragawan), Gede Prama (pewarta kejernihan). Bahkan Komjen Made Mangku Pastika (Gubernur Bali), K.Sarjana (pengusaha perminyakan/ gas yang milyuner di Jakarta), dan tokoh Bali lainnya yang banyak sukses di rantau. Mengapa demikian?

Sebaliknya generasi muda Bali yang maju di Bali belum bisa disebutkan setingkat dengan itu.
Melihat kenyataan itu, dapat dipastikan bahwa terjadi penghambatan dan pengikisan usaha kemajuan bagi generasi muda Bali. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, misalnya karena lingkungan rumah tangga, karena lingkungan adat, budaya dan agama yang padat mengikat, karena awig-awig banjar yang ketat. Juga, karena filosofi hidup kuno Bali yang berorientasi kekeluargaan, termasuk adanya tekanan dari Pemda Bali untuk meningkatkan kebudayaan Bali.

Untuk menanggulangi hal itu, perlu dilakukan revisi atas segala aturan, awig-awig, bhisama, adat-budaya, ritual-upacara, RTRW, dan lainnya supaya disesuaikan dengan kemajuan zaman. Dengan demikian ada ruang, bantuan dan fasilitas bagi masyarakat Bali untuk mencari uang dan meningkatkan karirnya. Ada waktu untuk menghadiri seminar-seminar, jualan di pasar, bekerja di kantoran, bisnis di sistem perdagangan, mengurus keluarga, membimbing anak-anak, bersosialisasi (simakrama) dengan kerabat dan warga banjar, juga ada waktu untuk mencari relasi bisnis, meningkatkan kepribadian, melestarikan alam, menjaga keamanan Bali, dan lain-lain.

Masih banyak yang harus dikerjakan dan jangan saling ledek. Seperti bangsa Melayu (Malaysia) misalnya. Dulunya hanyalah masyarakat petani yang kurang maju, tetapi Mahathir Muhamad melakukan “gerakan Bangkit Melayu” yang direncanakan secara ilmiah dan sistematis untu mempersiapkan bangsanya menjadi maju. Bahkan banyak tenaga guru, dosen, ahli-ahli teknik didatangkan dari Indonesia.

Tapi kesuksesan seperti itu bisa tercapai, jika direspon oleh generasi mudanya, oleh anak-cucu generasi muda kita. Untuk mewujudkan hal ini diperlukan restorasi lahir-bathin. Pembelokan paradigma ke arah positif, terbuka, objektif rasional dan ekonomis. Dan memulai dengan “wawasan baru”. Mulai saat ini kita didik anak-cucu kita menjadi orang-orang yang berpendidikan maju. Kita beri pengertian, bahwa lebih penting pendidikan (untuk mencari uang) dari pada kekayaan orang tua, atau nama baik keluarga. Karena hanya dengan pendidikan yang tinggi itu, anak-anak akan bisa maju dan merebut peluang di zaman yang penuh dengan kompetisi sengit semacam ini. Jangan sampai orang Bali kalah di “kandang” hanya gara-gara sibuk dengan urusan adat, budaya, dan mitos-mitos kosong yang tak sesuai dengan jiwa zaman.

1 komentar:

  1. ya benar mari kita harus berani berbeda. tetap memelihara tradisi tanpa berfoya-foya, berani bolos untuk alasan positif dan jangan takut kesepekang.

    mari belajar sanskrta n veda

    luh.ayuni@ymail.com

    BalasHapus