Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 05 April 2011

Duryodana Dan Hidup Saling Memangsa

Luh Made Sutarmi

Ketika Duryodana membisikan sesuatu pesan tentang kekuasaan harus dibangun supaya kuat dengan dukungan dana dari masyarakat ke telinga ayahnya, maka episode baru muncul di kerajaan Astina. Episode itu adalah eksploitasi terhadap rakyat menjadi trend baru di kalangan pejabat kerajaan. Untuk menarik dana itu, pemerintah membiarkan penerimaan pegawai negeri kerajaan menggunakan uang. Sehingga rakyat yang kemampuannya pas-pasan dalam bidang intelektual, sekolahnya asal-asalan bisa menjadi pegawai dengan mudah kalau sudah punya uang. Ilmu dan kompetensi tertentu tidak perlu yang penting bisa membayar, dan tahu siapa calo yang harus di kasi uang. Hanya kompetensi itu yang dibutuhkan saat ini.
Tumor jalan pintas, mengalalkan segala cara berskalasi dengan cepat, dihati masyarakat luas. Prestasi serta intelegensi menjadi tidak penting, sekolah dan kuliah dengan seperangkat kompetensi tidak perlu, karena semua bisa dibeli dengan uang, satu kemampuan yang dintuntut adalah mencari informasi berapa uang yang harus dikumpulkan agar layak menjadi pegawai kerajaan. Birokrasi sarat dengan pasar, jual beli jabatan. Kerajaan masuk kewilayah “ prostitusi jabatan” dan celakanya pejabat kerajaan, perlement dan birokrasi semua berstatus baru sebagai “mucikari” pengangkatan pegawai negeri kerajaan. Terminologi baru, muncul bahwa peradaban birokrasi kerajaan perlu dipupuk dengan pupuk sintetis berlabel TSP (Tombok, Suap dan pelicin) agar bisa subur

Inilah awal dari kehancuran peradaban,Orang tidak takut berbuat dosa, inilah fase dimana pemerintah kerjaan pematik kehancuran. Oleh sebab itu, Drestarasta dengan pembisik Duryodana, hidup di negara seperti itu, tak ada yang bisa dibanggakan selain hidup susah. Sadar atau tidak, birokrasi membuat tatanan peradaban rusak parah, hal ini disebabkan keluasan korupsi begitu ganas, sehingga menghancurkan etika hidup bersama. Kejernihan, kecerdasan, dan kepekaan terhadap hidup bersama menguap.

Kebijakan publik yang menentukan hidup warga tak menyentuh realitas hidup yang menjerit dari kemiskinan, menyisakan wajah-wajah kosong karena air mata telah terkuras. Berita tentang ibu bakar diri bersama anak-anaknya karena tak ada lagi yang bisa dimakan, ayah gantung diri karena lama menganggur, busung lapar, dan PRT yang sekarat disiksa majikan menunjukkan kegagalan menyelamatkan warga kerajaan dari penderitaan mereka, sekaligus melucuti kemanusiaan mereka yang miskin dan dimiskinkan.

Duryodana membuat kasus-kasus penjarahan uang triliunan yang terus dilindungi demi kepentingan politik sesaat serta penjarahan sumber daya alam atas nama ”pembangunan”, yang sebenarnya tidak lebih dari proyek dan pemburuan rente, adalah kejahatan besar yang tak pernah dianggap sebagai kejahatan. Kondisi ini membuat rakyat gerah, sesak dan menjerit.

*****
Sore yang cerah itu, ada hal yang berbeda di rumah Widura , karena rakyat banyak melaporkan segala sesuatu kepada Widura. Hanya kepada Widura mereka berani mengadu, Widura paham posisinya sebagai penasehat kerajaan Astina harus bisa mengambil peran banyak untuk menyerap informasi dari masyarakat luas.

Lantas, seorang kakek tua datang khusus diperistirahatannya, “Ampun tuan yang mulia, engkau orang bijak, perkenankanlah hamba datang menemui mu, untuk bertanya? Kata orang tua yang kurus itu.

Silahkan masuk, ada apa gerangan engkau datang menemuimu sore hari ini, kata Widura menimpali.

Orang Tua yang ringkih dengan berpakaian kumal itu, masuk pelan-pelan keruang penerima tamu, dengan sopan orang tua itu berkata pelan namun penuh keteraturan bahasa. “ Yang mulia, engkau adalah salah-satu yang hamba percaya sebagai penyangga peradaban Astina, engkau adalah penasehat raja. Hamba tidak mengerti, mengapa secara bersamaa, orang tak malu mendapat prestasi akademis secara curang, menjarah bantuan kemanusiaan, dan mengutil dana program-program kemiskinan, apa penyebabnya yang mulia , dimanakah moralitas yang menjadi ciri orang bijaksana itu di negeri ini?

Widura tersenyum, dan berkata, Engkau orang tua, kebijaksanaan itu telah memudar dikalangan pejabat, dan justru engkau lah orang yang lebih bijak itu, bukan para penguasa yang membuat rakyat sengsara yang bijak. Para punggwa dan pegawai telah diliputi oleh nafsu keserahkahan akan dunia materi. Dan, materi yang dicita-citakan diperoleh bukan dengan jalan dharma, catur purusa harta tak pernah mendapat ruang di para pejabat saat ini.
Perlu engkau ketahui, bahwa mereka berpikir dengan materi segalanya dapat diraih, mereka salah sangka bahwa dengan uang semua bisa dibeli, kenyataannya tidak. Moralitas mereka telah menguap, janji dan sumpah yang mereka ucapkan ketika awal memangku jabatan telah dilanggar, walau ketika disumpah pakai pendeta, semua itu dianggap sampah, sumpah dan janji itu hanya semacam seremonial semata.

Lelaki tua tu berkata lagi. “ seorang pejabat adalah mereka yang telah melalui proses pendidikan yang panjang, dan mereka telah mempelajari sastra bahwa nafsu itu tidak pernah dapat dipuaskan, apa yang sebenarnya hilang yang mulia?

Widura berkata , semua orang membaca, memikirkan tentang cara mengatasi nafsu keserahkahan, namun mereka hanya berhenti ketika berpikir dan memahami, dan tidak sampai laku. Oleh karena itu engkau harus pahami bahwa hanya bila engkau dapat menenangkan pikiranmu engkau akan mampu mengatasi nafsu, dan hanya setelah engkau berhasil menguasai nafsu engkau akan mampu mengendalikan amarah. Karena itu, langkah pertama untuk menaklukkan nafsu dan amarah ialah dengan membebaskan diri dari proses berpikir. Hal ini berlaku bagi semua orang.

Widura menambahkan, ketika pejabat tidak menjadi panutan dalam pengendalian diri terhadap nafsu, maka rakyat yang ada di luar sistem birokrasi akan melakukan tindakan serupa dengan caranya dan memaksa pengusaha yang mau menerapkan etika bisnis melakukan usaha agar proyeknya jalan.

Orang tua itu mengangguk , lalu berkata, padaka tidak hanya rakyat, semua corong media massa pun, saat ini menciptakan standar-standar ”kesuksesan” instan lewat berbagai carnya, yakni mendorong orang menjadi budak syahwatnya dan pupuk bagi kekuasaan (modal) para tuan.

Engkau benar kata Widura lagi, “ banyak tindakan koruptif tidak dipahami sebagai pembusukan seiring dengan lenyapnya keangkuhan luhur manusia. Etika dan moral tinggal sebagai khotbah yang gemanya sayup dari atas bukit ditelan deru angin. Hidup terjalin atas prinsip saling memangsa, bukan lagi perjuangan bersama saat semua orang memberikan yang terbaik bagi kualitas hidup bersama dan menjunjung tinggi martabat kehidupan. Oleh karena itu pesanku padamu adalah bahwa Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar untuk memajukan peradaban demi bangsa dan negara

Orang tua itu mengangguk setuju , dan berucap lirih: cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan. Om Gam ganapataye namaha****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar