Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 16 Maret 2011

Yang Namanya Obat Itu Terkadang Begitu Pahit

Agus Sudewa

Saya suka sekali membaca Bali Orti, hal ini bermula dari anjuran guru saya yang juga orang yang saya sangat kagumi dan saya berharap suatu saat nanti saya juga bisa memiliki prestasi yang sama seperti beliau. Beliau adalah salah seorang guru besar di Universitas tempat saya menuntut ilmu dan yang juga saya sangat kagumi, Prof. Sutjaja/Pak Sutjaja begitulah kami memanggil beliau.

Saya sangat tergelitik untuk membahas dan berbagi dengan saudara-saudara pembaca Majalah Hindu Raditya yang kita cintai ini mengenai artikel Bungklang-bungkling yang berjudul “Jemet” oleh I Wayan Juniarta pada Koran Bali Post yang terbit pada hari Minggu tanggal 13 Februari 2011.
Obat Pahit
Di sini dibahas bahwa sejatinya orang Bali itu sangat giat bekerja. Contohnya orang-orang Bali yang berhasil/sukses, karena hasil jerih payahnya di rantau atau transmigrasi seperti di Sulawesi, Sumatera, dan lain-lain. Memang benar sekali orang Bali yang ada di tanah rantau sangat giat bekerja, tapi bagaimanakah dengan orang Bali yang masih ada di Bali? Sangat masuk akal dan mengena sekali apa yang diulas pada artikel itu selanjutnya yang menyatakan, bahwa orang Bali yang masih di Bali itu punya banyak sekali pertimbangan, yaitu:

1. Karena orang Bali mayoritas di Bali, makanya punya kewajiban mengalah dan mengasihi yang minoritas (tenggang rasa). Itulah mengapa banyak sekali pekerjaan yang diserahkan kepada saudara dari seberang lautan. Orang Bali tidak mau berebutan, biarkan saja saudara seberang pulau yang mengambil pekerjaan itu, supaya dapur mereka tetap bisa mengepul, supaya mereka bisa merawat dan menyekolahkan anak-anak mereka. Dari pekerjaan mebersihkan got, buruh bangunan, mengaspal jalan, pedagang bakwan, pecel lele, pegawai hotel, kontraktor, dan lain-lain semuanya diserahkan kepada saudara dari seberang pulau. Sampai memanen padi dan menjual canang pun juga diambil saudara dari seberang pulau yang notabene non Hindu. Begitu sayang dan perhatiannya orang Bali kepada saudara seberang pulau yang miskin.

2. Orang Bali tidak suka menindas orang lain, tidak suka tunjuk-tunjuk, tidak suka menganggap orang lain bodoh, tidak bisa main perintah. Itulah mengapa orang Bali tidak suka mengambil pekerjaan yang hanya main tunjuk dan mengandalkan mulut itu. Bukan karena orang Bali itu tidak mampu, tidak bisa, tapi karena orang Bali tidak suka demikian. Itulah mengapa posisi pekerjaan semacam GM (General Manager) Hotel semuanya diserahkan kepada orang asing (bule) yang di negaranya tidak mendapat pekerjaan. Pekerjaan semacam direktur, pemilik perusahaan, bos restoran atau hotel, pemilik travel, kritikus seni, dan lain-lain. Biarkan semua orang seberang pulau dan Jakarta pada umumnya yang bekerja mengisinya. Sekarang guide sampai makelar tanah pun dibiarkan orang asing yang mengambilnya. Orang Bali kasihan kepada mereka yang jauh-jauh datang biar bisa mereka mendapat penghidupan, biar bisa dia beli mobil, villa, dan menyekolahkan anaknya ke luar negeri.


3. Orang Bali tidak suka mengambil pekerjaan yang sia-sia, pekerjaan yang menyebabkan bercucuran keringat banyak tetapi hasil/uangnya sedikit. Orang Bali sangat pintar, hanya pekerjaan yang cepat, gampang, dan mendatangkan banyak uang yang boleh diambil. Bila ada punya tanah dikontrakkan, bila tidak dikontrakkan ya dijual. Uangnya datang dengan cepat dan banyak dalam waktu singkat. Bila tidak punya tanah, tanah teman, tanah desa, tanah milik pura dicarikan investor. Bila diperlukan bahkan pura, pratima, dan Batara sekalipun dijual (contoh kasus pencurian pratima dan dijual ke orang asing). Itulah baru namanya pintar bekerja, tenaga tidak habis terbuang, dompet jadi tebal.

4. Orang Bali itu adalah orang ksatria, jiwanya nasionalis sikapnya heroik. Itulah mengapa bila dalam urusan membela negara, urusan mengabdi untuk negara, sudah pasti nomor satu orang Bali. Walaupun sudah punya pekerjaan baik dan gaji bagus, kalau ada kesempatan mengabdi kepada bangsa dan negara dengan menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) sudah pasti berlomba-lomba orang Bali melamar. Walaupun harus bayar sampai seratus juta sekalipun supaya diterima pasti akan diusahakan. Apalah arti uang sedemikian bila dibandingkan demi membela negara, demi mengabdi kepada bangsa dan negara. Itu baru uang, malahan sampai nyawa pun akan dipersembahkan oleh orang Bali demi membela Indonesia sebagai PNS.

Mari kita bercermin dari sana dan perbaiki sikap yang keliru jangan malahan menjadi marah atau jengkel olehnya, ini adalah kritik sosial bagi kita orang Bali. Bersyukurlah karena ini keluar dari orang Bali sendiri yang tentunya berusaha mengingatkan kita dari goresan penanya sebelum orang luar Bali yang berujar demikian kepada kita.

Canang buatan Non-Hindu?
Sungguh mengagetkan dagang canang di pasar pun ada yang Non-Hindu, mereka pada awalnya mungkin meniru dari canang yang mereka bisa pungut di jalan secara gratis lalu membuat yang sama persis meniru design aslinya. Bila ada salah satu orang Bali menggangap biasa akan hal itu, sungguh dia berpemikiran luar biasa. Bagi saya memang yang terbaik adalah canang buatan sendiri daripada membeli. Tapi bila harus membeli dari penjual sekaligus pembuatnya yang non-Hindu saya tidak akan perlu untuk mempertimbangkan untuk tidak membelinya, lebih baik saya memetik bunga sendiri dan menggunakan daun sebagai alasnya untuk pengganti canang.

Eksploitasi besar-besaran
Kita sudah telalu banyak mengeksploitasi Bali demi kepentingan materi. Masalah radius kesucian pura sudah seharusnya menjadi harga mati bagi kita orang Bali, bukan malahan dipolemikkan dan dipertentangkan. Saya sangat setuju bila pertentangan sebelumnya bisa dicarikan solusi jalan keluar yang baik tanpa harus mengkebiri atau mengaburkan radius kesucian pura tersebut.

Saya sangat merasakan bahwa Bali, Pura, agama Hindu dan kebudayaan Bali itu selalu dieksploitasi demi kepentingan sesaat dan materi. Tidak ada niatan dari semua investor yang ada saat ini untuk melestari dan merawat Bali, Pura, agama Hindu dan Kebudayaan Bali.

Kita orang Bali harus ingat lagi empat sifat pertimbangan masyarakat Bali pada umumnya tersebut yang merupakan kritikan membangun oleh Wayan Juniarta pada artikelnya. Kita harus berpikir bila ada investor yang investasi di wilayah yang termasuk radius kesucian pura itu, pemerintah yang mengeluarkan ijin apakah sudah mempertimbangkan seberapa banyak orang Bali yang bisa diserap di sana, akankah semua posisi bisa ditempati oleh orang Bali, seberapa besarkah timbal baliknya terhadap pura dan masyarakat lokal atau Bali pada umumnya? Apakah kita orang Bali akan tetap jadi pesuruh atau bahkan penonton setia saja? Mempekerjakan orang Bali akan banyak liburnya dan para investor tentu tidak mau akan hal ini, dan apakah pemerintah sudah mempertimbangkan ini? Apakah ada kemungkinan kotraktor, pemegang saham, dan lain-lain orang Bali?

Masih banyak lagi yang harus dipertimbangkan karena di Bali harus selalu punya pertimbangan yang kompleks sebelum harus mengorbankan radius kesucian pura dengan dalih pendapatan daerah.

Orang Bali Sering Ijin atau Liburnya
Sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak pemilik usaha yang enggan menerima orang Bali Hindu bekerja di tempatnya karena mereka tentu akan sering mengambil cuti/libur/ijin oleh karena rusan adat, baik itu dari sangkep/ngayah. Uupacara-upacara seperti odalan sampai kematian yang terkadang memakan waktu lama yang tidak dapat dihindari di Bali, malahan bila mangkir sanksi yang terberat bagi orang Bali adalah dikeluarkan atau kesepakang.

Badut Sirkus
Mereka semua hanya memanfaatkan view (pemandangan) pura, kebudayaan Bali, dan pulau Bali untuk tujuan komersil dan bisnis belaka tak sekalipun mereka mengerti apa itu pura, kebudayaan Bali apalagi Hindu, yang mereka tahu hanya uang. Orang Bali bagi mereka tak lebih hanya seperti badut pada pertunjukan sirkus dalam estalase bisnis mereka. Orang Bali bak patung hidup penyambut tamu, pelengkap ornament hotel/restaurant, alias untuk kesan formil sama seperti terapan pada bangunan gedung baik itu perkantoran, pertokoan, perhotelan, pusat belanja, bandara, dan lain sebagainya yang dibangun di Bali yang di mana harus bercirikan Bali itu. Cukup ada gapura (nggak peduli bentuknya dan perhitungannya yang penting mirip) dan sedikit sentuhan pada ornament gedung sebagai kesan formilitas belaka karena wajib saja sudah cukup. Bali sangat membutuhkan pertimbangan yang kompleks dan rumit. Jadi masyarakat Bali dan Pemerintah harus siap akan hal itu sebelum mengambil keputusan final akan segala sesuatu yang berkaitan dengan Bali.

Konsep Kabur “Leteh”
Saya mendengar akan dibangun jalan baru untuk mengatasi kemacetan, sekali lagi saya berusaha mengingatkan masalah “leteh” di Bali. Jalan layang akhirnya tidak boleh diterapkan yang dulu sempat digagas putra Bali sendiri yang asal Sukawati Gianyar menjadi mentah di tengah jalan dan terlupakan. Saya rasa beliau tidak main-main memikirkannya dan telah mempertimbangkan solusi rumit bila ada masyarakat yang mendak/ngiring Ida Betara yang harus melintas di bawahnya, baik dengan berjalan kaki beriringan atau naik mobil berkonvoi sekaligus dengan Ida Betaranya.

Akhirnya “leteh” itu mengagalkan jalan layang dan sawah-sawah pun menghilang tergantikan bangunan-bangunan beton, Dewi Sri berganti Mbak Sri, kafe-kafe bertebaran di kanan-kiri jalan menawarkan minuman keras dan Mbak Sri, semuanya bermula dari demi menghindari “leteh”. Herannya lagi Ida Betara dan orang Bali tidak merasa “leteh” saat mendak atau ngiring Ida Betara melintas di sana tapi merasa “leteh” bila ada jalan layang di atasnya meskipun bisa digeser bila akan dilewati di bawahnya itu. Bahkan tidak merasa “leteh” bila saat itu tepat di atas kepala dan Ida Betara yang dipendak atau diiring ada pesawat terbang yang melintas (mungkin ada yang penumpangnya lagi datang bulan, buang air, atau bahkan lagi mebawa mayat di dalamnya).

Hotel dibangun di depan pura atau di kawasan suci, apa ada yang bisa menjamin yang menginap di sana berbuat sopan dan berpikiran bersih? Apa ada yang menjamin yang ber-honey moon di sana sudah terikat perkawinan sah? Kata “Leteh” itu sebenarnya apakah menurut sudut pandang suci atau materi? Apa gap atau perbedaan jarak antara urusan suci dan materi itu begitu kabur sehingga apa yang berbau materi menjadi berbau suci dan suci berarti berbau materi?

Sekali lagi saya tegaskan agar masalah radius kesucian pura itu agar harus ada dan untuk dipatuhi semua pihak. Bila ada bangunan akomodasi wisata yang terlanjur dibangun permanen dan mendapat ijin di sekitar kawasan suci agar hendaknya dicarikan solusi jalan keluar yang terbaik (karena kita bukan orang arogan dan itu juga menyangkut kewibawaan pemerintah bersangkutan).

Bila tempat itu tidak mampu seutuhnya memberikan semua posisi strategis dan staffnya untuk orang Bali serta konstribusi bagi Hindu dan pembangunan kepada pura lain yang bisa dibangun atau terlebih hanya membuat orang Bali sebagai penonton buat apa dipertahankan? Lain kata kalau mereka mau berkomitmen untuk menjaga kebudayaan Bali dan Hindu serta merekrut orang Bali Hindu secara penuh karena sebagai konstribusi oleh karena mereka menjadikan pura dan kebudayaan Bali sebagai daya jual. Saya bukan militant Hindu tapi ketegasan itu diperlukan demi menjamin masa depan anak cucu kita, karena belum tentu mereka seberhasil kita sekarang yang menjadi orang kaya atau pejabat terlebih setelah tanah sudah habis dijual oleh kita!

Mereka mengeksploitasi Bali, Hindu, dan kebudayaan kita jadi sudah sewajarnya kita menuntut, sungguh tolol dan konyol kalau kita tidak menuntut! Jadi kalau mereka tidak mau memenuhi tuntutan itu secara penuh ya jawabannya “No Way”.

Yang namanya obat itu terkadang begitu pahitnya, tapi bila mau lekas sembuh ya harus diminum! Jadi kritikan itu harus kita gunakan sebagai cambuk atau obat mujarab untuk memperbaiki diri kita kedepan agar lebih baik dan mawas diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar