Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 01 Februari 2011

Rsi dan Pinandita Diharapkan Selenggarakan Yadnya Sesuai Pakem

Laporan Arjana

Pagendu wirasa Ida Bhujangga Rsi pada Hari Raya Sivaratri, 3 Januari 2011 lalu di Pasraman Agung Griya Mas Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung diisi dengan perenungan dan diskusi tentang ajaran agama, pasraman dan mengevaluasi rencana kerja ke depan tentang pelaksanaan upakara Panca Yadnya. Pagendu Wirasa Siwaratri diikuti oleh kurang lebih 150 umat Hindu. Mereka terdiri dari keluarga Bhujangga Waisnawa yang tergabung dalam beberapa pasraman, yaitu Keluarga Bhujangga Waisnawa batan Getas, serta masyarakat sekitar Tumbak Bayuh.

Pagendu wirasa yang dirangkai dengan perayaan Siwaratri ini diisi dengan dharma wacana dari masing-masing sulinggih, yakni, Ida Rsi Hari Dantam dari Grya Mas Tumbak bayuh, Mengwi Badung, kemudian ada Ida Bhujangga Rsi Waisnawa Kemenuh dari Grya Taman Wangining, Temukus, Ida Bhujangga Rsi Dwija Santa-Grya Sindu Manik Mas-Kramas, Ida Bhujangga Rsi Istri Gandawati dari Grya Taman Sunia- Karang Suwung, Ida Bhujangga Rsi Adi Guru–Griya Batur Sari Kesiman, Ida Bhujangga Rsi Esti Guru dari Grya Anyar Sari, Sembung, Banjar Dajanpeken-Sembung, Mengwi, Badung.


Pagendu Wirasa kali ini tidak seperti hari biasanya di mana biasa dilakukan pada hari raya Saraswati setiap 6 bulan sekali. Namun sekarang pada hari Siwaratri juga dilaksanakan mengingat moment Siwaratri sangat tepat untuk melakukan simakrama, pendekatan antara para Rsi dan sisya. Dan menurut rencana yang juga telah disepakati acara gendu wirasa akan tetep dilaksanakan pada hari raya Saraswati dan pada hari Siwaratri.

“Pagendu Wirasa kali ini adalah untuk menyambut perayaan Siwaratri di mana moment yang baik ini dapat dimanfaatkan oleh sulinggih maupun oka-oka dapat saling mengunjungi. Ini adalah yang pertama kalinya dan akan berlanjut setiap setahun sekali dan enam bulan untuk Saraswati,” ucap Ida Rsi Hari Dantam-pendiri Pasraman Tumbak Bayuh.

Beliau menambahkan, tujuan kegiatan ini adalah untuk membangkitkan kesadaran sang diri dalam melaksanakan swadharma masing-masing. Sehingga ketika kesadaran jiwa telah ditingkatkan dan dicapai dapat memberi petunjuk, memberi kerahajengan lan kerahayuan umat Hindu terutama oka-oka di seluruh Bali.

Materi yang dibahas dalam pagendu wirasa tersebut adalah tentang keberadaan Bhujangga, baik sejarah maupun eksetensinya dalam memajukan dan mengembangkan agama Hindu, mulai dari Jawa sampai ke Bali. Mulai dari menata pakem yang digunakan dalam hal pelaksanaan Panca Yadnya, yakni, Dewa yadnya, Rsi yadnya, Buta yadnya, Manusa yadnya dan Pitra yadnya.

Ida Bhujangga Rsi Waisnawa Kemenuh dalam kesempatan daharmawacananya menyampaikan, agar para rsi dan pinandita yang dalam melaksanakan yadnya selalu berpatokan pada pakem yang telah ada, jangan sampai melenceng jauh. “Ke depan dalam melaksanakan yadnya, Panca Yadnya, sebaiknya kita mengacu pada pakem yang telah ada. Bagaimanapun juga ajaran Waisnawa sekarang sudah bisa diterima oleh umat Hindu. Jadi kita kalau ingin mengembangkannya jangan sampai terlalu jauh sehingga esensi pemaknaan dari upakara menjadi lempas dan hanya menimbulkan kesan jor-joran saja. Pada prinsipnya evaluasi dalam praktek yadnya memang diperlukan namun harus diperhatikan inti dari ajaran yang sudah ada,” sebutnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ida Bhujangga Rsi Dwija Santa-Grya Sindu Manik Mas-Kramas. Beliau menyambut baik apa pun yang direncanakan agar memiliki acuan yang telah ada, karena ajaran Waisnawa kalau sungguh-sungguh dipelajari memiliki kelebihan-kelebihan. “Kita sebaga pratisentana wajib mempertahankan hal tersebut,” dukungnya.

Demikian pula ketika Ida Bhujangga Rsi Adi Guru dalam kesempatannya menyampaikan pandangan. Ida menyampaikan dan berterimakasih atas dijadikannya Grya dan Pasraman sebagai pusat pengkajian dan simakrama tukar pengetahuan sesama umat warga Hindu dan untuk melakukan magendu wirasa kali ini. “Acara ini akan dapat menjawab permasalahan-permasalahan umat, ketika umat Hindu mulai mengalami kehausan dalam memperdalam praktek keagamaan. Selain itu adanya keengganan masyarakat melakukan simakrama dengan para sulinggih di luar urusan yajna, maka magendu wirasa inilah jawabannya. Niscaya hubungan yang baik tidak saja terjadi dalam urusan yajna saja,” ungkapnya.

Pada malam harinya oka-oka serta sisya Pasraman Agung Griya Mas Tumbak Bayuh melanjutkan dengan jagra semalam suntuk di pura Balingkang-Kintamani. Jagra dengan agenda perenungan makna Sivaratri dengan kontek kekinian dalam menghadapi tantangan global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar