Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 01 Februari 2011

Macet Gara-gara Upacara Agama


Bali memang identik dengan aktifitas ritual, naik yang berskala kecil, sedang dan besar. Dari berbagai ritual itu sering harus dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas umum, khususnya jalan. Sering terjadi pengalihan arus lalu lintas, bahkan penutupan jalan manakala ada upacara yadnya. Dalam hal inilah sering kepentingan umum diabaikan dan lebih banyak memikirkan kesuksesan keberlangsungan ritual tersebut.

Akibat kurang adanya kepedulian terhadap ruang publik, maka akhirnya berbagai ekses dari kegiatan tersebut sering muncul. Selain kemacetan lalu lintas, penutupan jalan dengan dalih ritual ini pun sering memancing terlontarnya berbagai kekesalan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan atau dicederai oleh tindakan penutupan jalan itu.

Tidak hanya tindakan menutup jalan yang berlebihan, sebab sering juga upacara yajna disertai alunan kidung atau gamelan dari loudspekare yang distel dengan volume kencang dan dibunyikan hingga larut malam, manakala sebenarnya merupakan waktu istirahat tidur. Demikianlah pagelaran ritual yang diikuti kebiasaan “Kemeriahan” berlebihan dan mungkin tidak tepat dengan situasi dan kondisi.

Barangkali suatu kegiatan yang mengganggu jalanan umum sudah dianggap biasa, karena mungkin kurang mendengar keluhan berbagai pihak yang mungkin saja memiliki kegiatan urgen yang berkepentingan menggunakan akses jalan dimaksud. Contohnya orang yang sedang diangkut kendaraan pun akhirnya ikut mutar-mutar, bahkan ikut macet di sana-sini akibat penutupan jalan yang digunakan untuk pagelaran upacara.

Tanpa pagelaran ritual pun memacetkan jalanan umum sudah jamak terlihat di Denpasar, terutama saat musim layangan tiba. Bila musim main layangan itu tiba, maka di berbagai ruas jalan nampak iring-ringan anak-anak muda mengarak layang-layang ukuran besar melewati jalanan umum yang jelas memicu kemacetan. Dan ada pula layangan itu diangkut dengan truk dan menghasilkan kemacetan yang sama. Mungkin semua kegiatan itu sudah menjadi tradisi di masa lampau, tetapi tidak salah kalau di masa kini teknis penyajian tersebut mestinya dikaji ulang. Mengkaji bagaimana main layangan tanpa mengganggu kepentingan publik, menggelar ritual tanpa merugikan pihak lain.
Di jaman sekarang, di mana warganya dalam segala aspek sudah berubah, maka tentu hal semacam itu perlu diadaptasikan dengan kekinian. Jumlah penduduk Bali sudah bertambah, pekerjaan masing-masing warga juga beranekaragam, jalanan juga tidak hanya dilintasi para pejalan kaki, tetapi sudah dijejali kendaraan bermotor, sehingga pagelaran ritual perlu dicocokkan dengan kebutuhan jaman.

Khusus dalam kegiatan ritual yang disertai penutupan jalan atau pengalihan arus lalu lintas yang menimbulkan kemacetan, maka perlu kita pikirkan solusinya. Apalagi upacara agama itu dilakukan di daerah-daerah yang lalu lintasnya ramai dengan penduduk yang heterogen dari berbagai agama dan berbagai kepentingan. Untuk itu harus dipikirkan, bagaimana caranya supaya semua kepentingan berbagai pihak tersebuit bisa ter-cover.

Ada beberapa contoh kejadian dalam ritual di sebuah pura di kota Denpasar yang menunjukkan tidak adanya koordinasi dan kepedulian dengan pihak pengguna lalu lintas. Kejadiannya seperti ini, sebuah odalan di satu pura digelar dengan melakukan penutupan jalan di depan pura tersebut, sayangnya tanda larangan masuk jalan tersebut bukannya dipasang jauh-jauh sebelum masuk akses jalan tersebut, tetapi tanda stop itu dipasang hanya beberapa meter dekat pura. Alangkah arogannya cara-cara seperti itu, karena sejumlah mobil, motor yang hendak melintas di depan pura dan tak tahu menahu di tempat tersebut ada gangguan lalu lintas terpaksa menelan mangkel dan marah, berbalik arah dengan susah payah.

Perlu diingat, bahwa ritual digelar untuk kesejahteraan semua umat, bukan orang-perorang atau per warga desa pakraman saja, tetapi kesejahteraan semua makhluk (sarwa prani).Namun, jika saat melakukan ritual ada orang dibuat kesal atau mangkel, maka ritual itu tak akan mencapai tujuannya. Oleh karena itu, orang jaman dulu membuat tempat sucinya diusahakan di tempat yang sepi atau jauh dari keramaian dan untuk mencapai tempat itu harus dilakukan dengan usaha yang keras. Tradisi itu berbeda dengan fenomena jaman sekarang, di mana orang yang hendak bersembahyang di pura yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari rumahnya, maka mereka sudah harus naik motor atau mobil. Maunya praktis, tetapi malahan kontraproduktif, karena memicu kesulitan parkir di depan pura, sehingga menimbulkan kesemrawutan dan kemacetan.

Kita sering mengabaikan rasa toleransi terhadap lingkungan sekitar kita, walau sudah fasih berbicara tri hita karana. Kalau setiap warga di suatu banjar, desa pakraman dan lain-lainnya senang menutup jalan saat mengadakan perhelatan yajna, maka di belakang hari hal tersebut akan dicontoh oleh warga Bali non Hindu. Cobalah tengok pada hari Jumat di kota Denpasar, dulunya umat lain yang tak pernah menutup akses jalan di depan tempat sucinya, maka kini dengan dalih kenyamanan dan kekhusukan sembahyang, mereka pun ikut-ikutan memblokir jalan dengan dalih kegiatan agama.
Sebagai orang Bali yang memiliki banyak kegiatan ritual, seharusnya berusaha mengurangi gangguan kenyamanan terhadap orang lain saat berupacara, entah itu odalan, melasti, upacara pernikahan, ngaben atau main layangan. Dengan meningkatkan rasa rendah hati serta toleransi dengan pihak lain, kita tingkatkan kualitas yajna kita. Bila toh harus memakai fasilitas jalanan umum, maka sebaiknya dimanfaatkan setengahnya saja, sehingga masyarakat umum masih bisa memanfaatkan yang separo lagi. Atau toh harus menutup semua jalan, maka tentu koordinasikan terlebih dahulu dengan pihak kepolisian dan pasang tanda peringatan di tempat yang kiranya memungkinkan pengendara untuk mencari jalur alternatif.

Sementara bagi umat yang berada di dekat pura atau warga desa pengempon pura yang posisinya dekat jalan, maka sebaiknya berangkat ke pura jalan kaki saja, sehingga desa pakraman tidak mendapat tambahan pekerjaan baru, yaitu mengatur parkir, tetapi cukup berkonsentrasi ke pagelaran yajna saja.

Perlu diingat, bahwa bentuk yajna itu tidak saja berupa kegiatan ritual, seperti piodalan, ngenteg linggih, padududan agung atau lainnya, tetapi juga bisa berupa tindakan nyata dalam kehidupan sosial. Entah dengan dana punia kepada sesama, membantu kaum papa atau melakukan aktifitas nyata bagi lingkungan dengan memperhatikan kebersihan lingkungan, sehingga ritual skala dan niskala menjadi seimbang. Kalau ritual itu hanya bersifat niskala saja apalagi disertai penutupan jalan, maka rasanya kurang pas, karena tidak menambah perilaku (etika-susila) kita menjadi lebih baik. Apalagi saat piodalan di sebuh pura, mestinya kita menunjukkan rasa kasih sayang kepada semua makhluk, bukan sebaliknya kegiatan itu menjadi ajang sumber kekesalan pihak lain.

Apalagi Bali sebagai daerah wisata, maka perlu kita memikirkan kenyamanan para wisatawan saat jalan-jalan menikmati keindahan pulau ini. Memang upacara agama di Bali banyak diminati turis untuk ditonton, tetapi bila mereka berlama-lama terjebak dalam kemacetan, tentu hal itu juga kemudian menimbulkan kesan negative bagi agama Hindu kita. Hal ini pernah saya skasikan saat melihat ada iring-iringan orang yang tengah melakukan suatu ritual di jalur Singaraja-Denpasar. Iring-iringan itu mengambil badan jalan melebar melebihi setengah jalan tanpa memperhatikan pengguna jalan lainnya, seolah-olah jalanan itu miliknya sendiri saja. Saat mereka mendapat bagian air minum dalam kemasan, serta merta mereka membuang kemasan itu di berbagai tempat berceceran tanpa memperhatikan keasrian lingkungan. Seorang wisatawan asal Jerman yang saya pandu saat itu nyeletuk, “Begini cantiknya ritual tersebut, sayangnya perilaku orang-orangnya tidak tertib.”

Komentar wisatawan itu berubah menjadi ceramah, jelas yang diceramahi adalah saya sebagai guide-nya. Dengan semua pengalaman yang kita alami (karena saya yakin sebagian besar masyarakat Bali pernah terjebak dalam kemacetan akibat ritual), maka kita perlu merekonstruksi ulang cara berpikir kita, bahwa upacara agama dengan dalih niskala itu bukanlah segala-galanya dan tidak pula satu-satunya event yang harus disukseskan. Sebab, bidang-bidang lain yang bersifat diniawi pun perlu disukseskan, karena bukankah bila secara material kita sukses, maka urusan ritual itu akan lebih mudah terselenggara? Urusan duniawi (skala) dan urusan surgawi (niskala) harus diseimbangkan, sebab bila tidak terjadi kompromi di anatara keduanya, maka niscaya terjadi ketimpangan dalam kehidupan.

I Wayan Miasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar