Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 16 Maret 2010

Teori Darwin dan Situbanda Ramesvaram

Oleh Gede Agus Budi Adnyana

Teori Evolusi yang dikeluarkan oleh Darwin dalam bukunya yang berjudul: The Origin of Species mengatakan, bahwa kehidupan dalam bentuk manusia baru dimulai sejak 100.000 tahun yang silam.


Dengan kata lain, sebelum itu maka dunia dihuni oleh makhluk-makhluk kera primitif yang tidak memiliki kecerdasan rohani dan material. Atau kecerdasan mereka rendah. Jika kita membaca seluruh buku pelajaran anak-anak di bangku SD hingga SMA, bahkan ada beberapa mata kuliah sejarah kebudayaan, nampak bahwa teori ini dijadikan satu standart utama dalam membahas mula kehidupan dan peradaban manusia dari jaman dulu hingga sekarang.

Apakah hal ini benar sepenuhnya? Atau teori itu sengaja diciptakan atas dasar motif tertentu. Dan yang paling mencengangkan adalah sekarang banyak ditemukan hasil dari banyak penelitian yang kesimpulannya bertentangan dengan teori yang dikemukakan oleh Darwin sendiri. Dengan kata lain, peradaban manusia sudah sangat maju dengan banyak teknologi sejak jutaan bahkan milyaran tahun silam. Cremo dan Thompson adalah salah satu dari sekian banyak peneliti yang menemukan banyak sisa peradaban manusia yang berumur milyaran tahun silam.

Pada tahun 1979, di situs Laetoli Tanzania, Afrika Timur, di temukan jejak kaki pada debu sisa letusan gunung berapi yang menunjukkan usia lebih dari 3,6 juta tahun silam. Dan Mary Leaky seorang peneliti tempat itu menyatakan, bahwa jejak kaki tersebut ternyata mirip sekali dengan jejak kaki manusia modern sekarang. Lalu dalam buku Forbidden Archeology banyak memuat temuan yang terdapat teknologi buatan manusia, seperti kendi, gerabah, alas kaki, dan alat masak yang canggih dengan usia milyaran tahun.

Jika kita cermati, maka ketimpangan akan teori Darwin akan semakin terlihat. Kemudian penemuan akan jembatan Situbanda Ramesvaram yang melintang di samudra menghubungkan antara Sri Lanka dengan India sekarang menunjukkan angka tahun 1.750.000 tahun yang silam. Dan dalam kisah abadi Ramayana kita menemukan durasi kehidupan Sri Rama memang benar terjadi pada jaman Tretha yang jika kita kalkulasikan akan menemukan angka 1.700.000 tahun yang lalu. Jembatan luar biasa ini diambil oleh kamera luar angkasa NASA.

Jembatan ini melintang sepanjang 30 Km dan jika kita percaya dengan teori yang dikemukakan oleh Darwin, maka tidaklah mungkin kera-kera primitive dengan kecerdasan rendah mampu membangun sebuah proyek raksasa yang sangat luar biasa tersebut. Bahkan di jaman Sri Rama, yang oleh banyak ilmuwan dunia meyakini dengan dasar bukti Arkeologis yang validitasnya tidak usah diragukan menunjukkan, bahwa sudah terdapat teknologi nuklir yang canggih.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan di tepi sungai Gangga, ditemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang menjadi bebatuan hangus. Dan jika kita ingin meleburnya, maka kita harus menggunakan bara api paling tidak 1.800 derajat celcius. Api biasa tak mungkin untuk melakukan hal itu. Banyak teknologi yang sangat canggih kita temukan sebagai satu bukti peradaban Veda.

Kembali pada jembatan Situbanda Ramesvaram, bahwa jika pendukung teori evolusi Darwin berpikir, bahwa kera primitf yang tak punya kecerdasan mampu membangun jembatan tersebut, maka itu adalah kurang tepat. Atau dengan kata lain, spesies antara yang dikatakan masih dalam proses perkembangan menuju homo sapiens (makhluk cerdas) sedang berlangsung, dan Rama adalah makhluk cerdas, kemudian Hanuman, Sugriva dan Anggada juga Vanara yang lainnya adalah masih dalam tataran yang berkembang.

Darwin sendiri bingung dengan spesies antara ini, dan ini dinyatakan dengan tidak ditemukannya penjelasan mengenai hal ini secara pasti. Dr. T.D Singh, Ph.D, seorang ilmuwan Veda terkemuka bahkan menulis beberapa kalimat yang ditulis oleh Darwin sendiri sebagai satu bentuk pengakuan terhadap teorinya, dan berikut adalah kutipan kalimat itu:….. setelah lima tahun bekerja, saya mengikuti kehendak saya untuk berspekulasi terhadap subyek tersebut……”(2006:15)

Menurut Dr. Singh, itu adalah penggalan kalimat Darwin yang menunjukkan bahwa ia melakukan spekulasi dalam teorinya yang selama beberapa tahun ia teliti. Spekulasi bukanlah pondasi kuat sebuah kesimpulan ilmiah, dan apa pun yang didasari atas spekulasi tafsiran semata, maka kecenderungan salahnya akan semakin banyak. Jadi, siapakah Vanara dalam kisah Ramayana yang melakukan proyek besar tersebut membuat jembatan yang menghubungkan satu negara dengan yang lainnya?

Dengan kata lain, kehidupan diciptakan secara bersamaan, dan itu berarti bahwa manusia dengan kecerdasan yang hebat sudah hidup berdampingan dengan kera yang memiliki badan serta kualifikasi berbeda. Dengan kata lain, ada banyak spesies yang memiliki badan sesuai dengan keadaan dan kualifikasi jaman yang berbeda juga. Kali Yuga makhluk surgawi seperti Hanuman dengan tampilan badan seolah-olah material tak akan terlihat, sebab Kali memiliki kualifikasi berbeda dengan Tretha Yuga, masa hidup Sri Rama.

Ada satu hal yang tidak dimiliki oleh evolusi Darwin, bahwa kehidupan dengan badan berbeda dapat berpindah dan hidup dalam dimensi yang berbeda dalam satu jaman, dan tidak akan muncul dalam jaman yang lain, atau sebaliknya. Kita bisa lihat hal ini pada kitab Brahmavaivarta Purana sebagai berikut:

Jalaja nava laksani sthavara laksa-vimsati
Krmayo rudra sankhyakah paksinam dasa laksanam
Trimsal laksani pasavah catur laksani manusah

“Ada 900.000 sepsies kehidupan yang hidup di air, 2000.000 spesies tumbuh-tumbuhan dan pohon, 1.100.000 spesies serangga, 1.000.000 speises kehidupan burung. 3.000.000 spesies binatang buas, dan 400.000 kehidupan manusia”

Jadi ada banyak badan dari hewan mikroba hingga para Dewata yang berjumlah demikian, dan dengan badan yang berbeda memiliki kualifikasi yang beda pula. Yang paling tidak dapat bersinergi adalah bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk yang berasal dari kera purba yang tidak memiliki kecerdasan mulanya. Lalu berevolusi dan menuju pada homo sapiens.

Jika demikian, maka saya tidak setuju bahwa Vaivasvata Manu yang merupakan murid pertama dan makhluk yang diciptakan personalitas Tuhan Yang Maha Esa, adalah kera primitive yang tidak memiliki kecerdasan. Vaivasvata Manu bahkan menerima ajaran Yoga dari Sri Krishna di awal penciptaan, dan jika kita hitung dengan kalkulasi periodik waktu menurut Bhagavad Gita sendiri, maka itu sudah menunjukkan 2 juta tahun silam. Bagaimana mungkin, kera primitive yang belum berevolusi dengan kecerdasan yang hampir tidak ada menerima ilmu pengetahuan rohani demikian luar baisa dari Tuhan Yang Maha Esa?

Sama halnya dengan Situbanda Ramesvaram, maka tidak mungkin akan dibuat dengan kera primitive yang belum berevolusi kecerdasannya. Bahkan vanara tersebut memiliki vimana, semacam pesawat terbang yang dapat digunakan untuk membawa batu-serta gunung-gunung besar dan dijatuhkan di samudra untuk membuat jembatan. Jadi percaya pada siapa? Kalau saya, lebih percaya pada Veda.
Om Namo Bhagawate Wasudewaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar