Majalah Hindu Raditya
Senin, 15 April 2019

Totalitas Seorang Penyembah

›
Kehidupan itu sesungguhnya penuh misteri. Karena itu, wajar kalau definisi dan prisip-prinsip hidup satu sama lain tidak sama. Ada yang bera...

Tuhan dan Pemujaan dalam Hindu

›
 Made Dharsana Polak Tulisan ini sebenarnya hanya berawal dari hasil perenungan pribadi, karena sering saya jumpai orang yang salah-paham ...

Intisari dan Prinsip-Prinsip Utama dalam Bhagavata

›
AA Gede Raka Selalu ada hubungan pribadi yang akrab dan mendalam antara Tuhan dan bakta-Nya. Melalui mukjizat suciNya, Tuhan membuat bakta...

Makna Wahana Ganesa

›
Ni Made Riani Balai Diklat Keagamaan  Denpasar Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan). Pada delapan penjelmaa...

Indahnya Bersedekah

›
Luh Made Sutarmi Alam selalu menjadi representasi untuk melakukan kerja tanpa pamerih. Udara pagi yang sejuk  suasana tampak indah, selalu...

FILOSOFI SARASWATI DALAM AKTUALISASI

›
Ni Kadek Ayu Kristini Putri Hakikat agama tidak terletak pada dogma-dogma dan ritus-ritus serta upacara-upacara menjemukan, tetapi dalam k...

HOMO HOPINI LUPUS BUDAYA MANUSIA “MEMAKAN” MANUSIA di ZAMAN KALI

›
A. A. G. Oka Widana Dari judul yang tersurat tersebut di atas tentu terbayang dalam dunia imajiner setiap pribadi bahwa tentunya ada hal y...

MANFAAT YOGA ASANAS MENGATASI PAYUDARA KANKER

›
I Nyoman Tika Kanker payudara telah menjadi salah satu penyebab utama dari tingginya angka kematian pada kaum wanita. Pada tahun 2015 saja...
Jumat, 15 Maret 2019

Ritual Perang Api di Pura Luhur Duasem: Brahma Wisnu Menyatu Menjadi Siwa

›
 Agama Hindu dipraktikkan secara natural, yaitu disesuaikan dengan tempat, penduduk, geografi, dan pendukung lainnya dimana agama itu diprak...

Peresmian Anand Krishna Centre di Buleleng

›
Hari Minggu, 10 Februari 2019, cuaca cerah memayungi Kota Singaraja dan sekitarnya. Desa Panji, yang terletak sekitar 7 kilometer dari pusat...

KMHD UNS Laksanakan Tirtayatra dan Baksos

›
 Laporan Agung Putu Surya Purna Kristyawan Universitas Sebelas Maret atau yang biasa dikenal dengan UNS merupakan universitas negeri yang ...

Upacara Giri Kerti Serangkaian Nyepi di Sleman

›
Laporan Putu Sari, Yogyakarta Untuk ketiga kalinya sejak tahun 2017, umat Hindu di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tanggal 3 Februar...

Pakemda Peradah NTB

›
Pada hari Minggu, 10 Februari 2019 berlokasi di aula lantai 3 Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram DPP Peradah Nusa Tenggara ...

Yajna Melalui Seva Niti

›
Pada hari Selasa,  19 Februari 2019, Program Pascasarjana IHDN Denpasar menggelar acara ujian terbuka promosi doktor atas Gede Ngurah Widida...

Arjuna: Dulu dan Kini

›
Anand Krishna Arjuna di masa lalu bingung, tetapi ia rendah hati. Dia bersedia menundukkan kepalanya di depan Gurunya, yang juga adalah se...

Kisah Ganesa dalam Berbagai Sumber

›
Ni Made Riani Balai Diklat Keagamaan  Denpasar Di Indonesia Ganesa lebih populer dikenal dengan dewa pengetahuan atau dewa kekuatan, maksu...

Pemujaan Satyanarayana Vrata Oleh Subadra

›
Luh Made Sutarmi Sinar yang tampak memerah di ufuk timur, di sebelah gugusan  rumah-rumah itu tampak indah, sebagai kisah yang mengguratka...

Bali Kedas Sampah Plastik

›
 I Nyoman Sugiarta Gerakan “Kedas Sampah Plastik” di Pura Besakih yang dimulai tanggal 2 Februari 2019 dalam rangka menyukseskan penyeleng...

Membangun Kreativitas Generasi Muda Hindu untuk Indonesia Emas

›
I Nyoman Tika Kalau ingin diperhatikan,  maka perhatikan lebih dahulu.” Itu menjadi semacam nasihat yang tak luntur oleh zaman. Kata-kat...

Berguru Kepada Sastra Usada

›
 A. A. G. Oka Widana Banyak insan yang berpendapat bahwa ilmu pengobatan, khususnya pengobatan tradisional hanya boleh “dipelajari” oleh o...
‹
›
Beranda
Lihat versi web

Tentang Raditya

Foto saya
Majalah Hindu Raditya
Denpasar, Bali, Indonesia
Raditya berarti Matahari. Majalah Hindu Raditya memakai lambang Omkara dalam standar penulisan internasional, dikelilingi oleh symbol sinar matahari yang dibuat dengan artistik. Berdiri Oktober 1995, penerbitan ini bernama Pustaka Hindu Raditya. Hal ini untuk menyiasati karena saat itu dibutuhkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Dengan nama Pustaka Hindu Raditya, penerbitan ini digolongkan sebagai buku. Setelah SIUPP dihapuskan tahun 1999 namanya diganti menjadi Majalah Hindu Raditya, majalah Hindu pertama di Indonesia. Majalah ini didirikan oleh Putu Setia (sejak 21 Agustus 2009 beliau menjadi pendeta Hindu dengan gelar Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda), seorang jurnalis yang perhatiannya sangat besar bagi kemajuan Hindu. Ia didukung oleh tokoh-tokoh dan para cendekiawan Hindu seperti Dr. I Made Titib, Drs. Ketut Wiana, Agus S. Mantik dan belakangan banyak sekali intelektual dan pemikir Hindu bergabung. Hanya di Raditya ini ditemukan pakar-pakar Hindu yang menuangkan pikiran dan pendapatnya. Kini majalah ini beroplag 9.750 eks dan tersebar di seluruh Indonesia.
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.