Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 24 April 2013

Melihat dari Dekat Para Nagasadhu Dalam Perayaan Maha Kumbhamela


Festival suci umat Hindu yang digelar setiap 12 tahun sekali, yaitu Maha Kumbhamela telah berlangsung pada 10-15 Februari 2013 lalu di Prayag, Allahabad, India. Pertemuan tiga sungai yang disucikan umat Hindu tersebut, yaitu Gangga, Yamuna dan saraswati, dikunjungi tak kurang dari 120 juta peziarah pada perayaan Hindu terbesar tersebut. Fotografer Fabrizio Prolleti dari Italia yang menyaksikan peristiwa tersebut dari dekat menuturkan perjalanannya kepada Putrawan dari Raditya.

Fabrizio yang selama sepuluh tahun terakhir ini tinggal di Bali, berangkat tanggal 23 Januari 2013 menunju New Delhi. Dari Delhi ia melanjutkan perjalanan dengan naik kereta api selama 12 jam perjalanan menuju Allahabad. Tiba dilokasi, ia telah menyaksikan hamparan luas yang dipenuhi tenda di atas pasir pinggir sungai, pertemuan Gangga, Yamuna dan Saraswati. Sebagai seorang jurnalis, ia dipersilakan memasuki tenda media bergabung dengan para wartawan dan fotografer dari berbagai negara.

Suhu udara ketika itu sekitar 5-10 derajat Celcius, jadi sangat dingin. Apalagi pagi-pagi sekitar pukul 03. 30 ia dan teman-teman media lainnya harus sudah terjaga untuk segera melakukan sesi pemotretan maupun meliput para sadhu yang melakukan mandi suci sekitar pukul 04.00 pagi. Untuk menghangatkan badan pada pagi yang super dingin itu, mereka hanya minum teh hangat (cai karam).

Mengintip Kehidupan Naga Sadhu

Festival Maha Kumbhamela adalah perayaan untuk memohon anugerah tirtha amrtha yang dipercaya turun pada waktu tersebut. Selain didatangi oleh ratusan juta umat Hindu dari India dan luar negeri, festival suci ini semakin khas dengan kehadiran para Naga Sadhu. Mereka ini adalah para pertapa yang tinggal di gua-gua Himalaya maupun pertapa gunung, di mana ciri khas mereka adalah telanjang bulat dengan menutupi tubuhnya hanya dengan sisa abu pembakaran mayat. Mereka menuju tempat pusat perayaan Maha Kumbhamela dengan bergerombol berjalan kaki, namun ada juga Naga Sadhu naik kuda, bahkan mengendarai mobil tua.

Fabrizio mencoba mengenali tata cara kehidupan mereka dari dekat, karena umumnya mereka ramah juga dan mempersilakan wartawan memasuki kemahnya. Ternyata para Naga Sadhu ini membawa alat-alat memasak sendiri, karena mereka sangat memperhatikan kualitas makanan yang baik, sehat dan satwika. Api untuk memasak sayur, kentang dan biji-bijian berasal dari api suci, yaitu api homa yang mereka nyalakan terus menerus di dekat kemah mereka selama mereka ada di sana. Mereka sangat menjaga kemurnian bahan makanan yang akan disantapnya. Beberapa pengunjung memberikan susu dalam kemasan kepada para sadhu, sehingga setiap menjelang pagi sekitar pukul 03.30 itu, Fabrizio melihat para sadhu sibuk memeriksa kemasan susu dalam kemasan itu. Setiap kata-demi kata di pembungkus susu tersebut dibacanya dengan teliti, dan begitu ada zat tertentu yang dipandangnya tidak baik atau berisi zat pengawet, maka segera saja susu dalam kemasan tersebut dibuang.

Para Naga Sadhu ini seperti tidak terpengaruh oleh cuaca dingin di sekitar tempat itu. Manakala peziarah lain semua memakai selimut tebal-tebal, mereka tetap asyik bertelanjang ria seakan tak hirau dengan lingkungan. Setelah ditanya rahasia “kehebatannya” itu, mereka kemudian memberi penjelasan, bahwa kekebalan tubuhnya didapatkan dari kebiasaannya mengisap rokok charas dan cylum. Charas ini berbentuk keras, karena berasal dari semacam lendir yang mengendap yang dikumpulkan dari ganja di musim berbunga. Bila ganja berbunga, menurut mereka, pohon itu diambil kemudian dipukul-pukulkan sehingga keluar cairan bunganya yang berupa lendir lengket. Zat ini kemudian disimpan hingga mengeras. Bila saatnya untuk dimanfaatkan, charas ini harus dinyalakan dengan api suci yang biasa digunakan untuk pemujaan. Dengan bantuan sejenis pipa, charas ini dapat dinikmati sehingga para Naga Sadhu dapat mencapai suatu sensasi dan secara mental mengisolasi fisiknya dari pengaruh dingin dan panas. Bila saat mengisapnya charas ini dicampur dengan daun ganja, maka akan mendatangkan efek lebih kuat, dan ini disebut cylum.

Sama halnya dengan kebiasaan melumuri tubuh dengan abu pembakaran mayat, bahwa abu putih itu menurut keyakinan mereka untuk memudahkan lebih dekat dengan Lord Siwa, demikian pula dengan pemakaian “daun suci” charas adalah untuk menjalin hubungan dengan Siwa dan mempercepat pencapaian salvation (pembebasan). Jadi, meskipun charas itu tegolong narkotika, tapi para sadhu tak mau menyebutnya itu sebagai zat narkotik, sebab baginya itu adalah zat suci. Para sadhu bebas mengonsumsi zat itu di India dan tidak dikenakan sanksi hukum.

Ada seorang Naga Sadhu yang menceritakan dirinya dahulu hidup berkeluarga. Namun istrinya meninggal pada usia muda yang mengakibatkan dirinya terpukul dan lari ke gunung untuk menjadi pertapa. Sebagai sadhu ia mengangkat tiga sumpah, yaitu tyaga, tapsya dan tapawana. Tyaga adalah bebeas dari pengaruh duniawi, tapasya adalah hidup untuk penebusan dosa melalui tapa, dan tapawana adalah menjadikan dunia sebagai rumah (hidup mengembara). Dengan demikian, ia mulai hidup untuk tujuan asketis, mencita-citakan moksha. Di gunung sadhu ini hidup bertapa sambil berkebun untuk mencukupi kebutuhan jasmaninya. Tanamannya adalah sayuran, biji-bijian dan tak ketinggalan ganja. Di India, ganja bukan barang legal dan juga tidak dianggap ilegal, sehingga merupakan suatu kebiasaan dari sebagian sadhu berbudidaya ganja untuk mereka konsumsi sendiri.

Mandi suci di pertemuan tiga sungai suci dimulai jam 04.00 pagi dan panitia menghentikan aktifitas itu sekitar jam 10. 00 pagi. Polisi dan aparat keamanan lain menjaga aktifitas itu sangat ketat, karena mereka khawatir akan serangan teroris yang hendak mengacaukan perayaan tersebut. Meski terjadi kerumunan sangat besar dan di antaranya banyak membawa senjata tajam, seperti pedang, tri sula, tombak, dan lain-lain, namun acara penyucian diri itu dapat berjalan cukup tertib, meski diantaranya beberapa ada yang jatuh dan terinjak-injak oleh gelombang peziarah yang tiada terkira banyaknya.

Tata cara umat biasa maupun para sadhu di dalam mandi suci adalah terlebih dahulu mencelupkan kepala tiga kali ke air secara berturut-turut, setelah itu dilanjutkan dengan membasuh muka juga tiga kali, dan mencuci mulut sebanyak tiga kali juga. Meskipun kondisi air sungai nampak keruh, tapi keyakinan keagamaan membuat mereka semangat dan penuh antusias melakukan ritual tersebut, bahkan banyak di antaranya minum air tersebut. Sehabis itu baru melakukan mandi dengan cepat untuk kemudian pergi ke tepi sungai mengambil perahu-perahuan yang di dalamnya sudah diisi bunga dan lilin yang menyala. Perahu-perahuan itu kemudian dihanyutkan di sungai sebagai tanda akhir dari ritual di sungai. Para aparat keamanan tidak membiarkan peziarah lama-lama dalam air, hanya sekejap saja berada di air kemudian polisi sudah memukulkan tongkatnya supaya mereka mundur untuk memberi giliran antrean berikutnya yang masih super panjang.

“Ini sungguh pengalaman luar biasa, meskipun banyak hal kontradiktif yang saya lihat antara Bali dan India, tapi saya suka bisa menyaksikan peristiwa besar tersebut,” tutur Fabrizio. Lantas, setelah bergaul cukup lama dengan para Naga Sadhu, apakah Fabrizio berminat mengikuti jejak mereka, menjadi sadhu pegunungan hidup bebas telanjang ria? “No, No, No...,” jawabnya tertawa.

Putrawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar