Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 24 April 2013

KEBIASAAN HIDUP SEBAGAI LATIHAN ROKHANI


I Ketut Wiana

Setiap hari manusia menjalani hidupnya dengan berbagai kebiasaan, sejak bangun pagi hingga siang, sore dan malamnya tidur dan besoknya bangun lagi. Semua proses itu akan dilalui selama hidup.Yang patut diperhatikan bagaimana prosesi kehidupan sehari-hari itu dijadikan pembelajaran dan latihan rokhani. Artinya dalam menjalani proses kehidupan itu dipahami sebagai proses belajar dan berlatih untuk memperbaiki kwalitas hidup agar semakin bermakna.

Realitas prosesi kehidupan sehari-hari itu kita amati, untuk mengetahui apakah proses kehidupan yang kita jalani itu sesuai dengan tuntunan ajaran agama yang kita anut. Misalnya sebagai umat yang beragama Hindu, sudahkah bangun pagi antara pukul 04. 00 sampai pukul 06. 00. Pagi-pagi setelah bangun sudahkah melakukan Asana dan seterusnya Puja Raditya Dina atau sembah yang pagi memanjatkan minimal Puja Savitri Mantram yang lebih populer dengan Gayatri Mantram. Karena menurut Chandogia Upanisad, untuk meningkatkan kwalitas hidup seyogianya melakukan puja pada Tuhan tiga kali sehari, yaitu Raditya Dina, Madya Dina dan Sandya Dina. Inilah yang disebut Tri Sandya.

Tiga kali pemujaan ini memiliki dimensi yang cukup luas menyangkut kehidupan ini. Misalnya setiap perubahan waktu menimbulkan akibat baik dan buruk. Agar jangan kena akibat buruk dari perubahan waktu itu maka dekatkan diri dengan Tuhan dengan memuja Tuhan setiap sandya tersebut. Sembahyang pagi siang dan sore itu juga bermaksud untuk mengendalikan Tri Guna dan juga menguatkan kemampuan hidup dengan konsep Tri Kona, yaitu hidup ini untuk mencipta (utpati) sesuatu yang sepatutnya diciptakan. Memelihara dan melindungi (sthiti) sesuatu yang sepatutnya dilindungi dan meniadakan (mempralina) sesuatu yang sudah seyogianya dipralina.

Demikian juga setiap kita makan, heninglah sejenak dan awas dengan seksama. Sudahkah kita mengkonsumsi makanan yang satvika yang didapat dari hasil dharma. Dari pagi sampai sore kita kerja. Renungkan, sudahkah kita bekerja sesuai dengan etos kerja Hindu, yang bekerja dengan sungguh-sungguh penuh dedikasi dan bekerja dengan senang hati karena hal itu diyakini sebagai suatu kewajiban atau swadharma.

Demikian juga dalam pergaulan, apakah sudah bergaul dalam suasana satsannga atau pergaulan atas dasar satya, yaitu kebenaran Weda. Sudahkan dalam pergaulan itu kita melakukan apa yang disebut dalam Bhgawad Gita sebagai Nahamwadi, artinya tidak egois menonjolkan diri secara eksklusive dalam pergaulan. Orang yang tidak menonjolkan diri dalam pergaulan itu tergolong orang yang disebut Sattwam.

Pengalaman hidup ini juga kadang-kadang sukses dan kadang-kadang gagal atau Sidhhyasiddhi. Menuurt Bhagawad Gita, orang yang seimbang jiwanya menghadapi sukses dan gagal itu tergolong orang Sattwam. Demikiian juga dalam keluarga kadang-kadang semuanya searah dan kompak, tapi ada juga yang tidak sepenuhnya demikian. Sarasamuscaya menyatakan “Tan girang yang inalem.” Artinya, tidak demikian senang sampai lupa diri kalau dipuji. “Tan lara yang ininda.” Artinya, tidak menderita kalau dicaci. Orang seimbang dalam suka dan duka itu pikiran, perasaannya dan hati selalu tenang. Orang tenang demikian itu mudah mencapai karunia Tuhan. Di samping itu ketenangan jiwa itu mendorong munculnya pikiran jernih dalam menyelesaikan masalah.

Orang yang menggunakan pengalaman hidup sebagai pembelajaran dan latihan rokhani akan mencari dan menggunakan rejeki dengan cerdas, cermat dan bermartabat. Menerima lingkungan sosial, baik keluarga maupun di luar keluarga dengan adil dan bijak. Dalam hubungan dengan keluarga dan hubungan sosial di luar keluarga sering terjadi hubungan yang harmonis dan tidak harmonis. Hal seperti itu harus diambil maknanya dalam hidup ini. Di Bali ada sejenis pepatah: “Memusuh ajak nyama sing dadi metelah-telahan.” Artinya, bermusuhan dengan saudara tidak boleh habis-habisan. Dengan adanya pengalaman yang manis dan pahit itu dapat diambil hikmahnya. Dengan bersikap tidak bermusuhan habis-habisan itu kita akan lebih memahami hubungan sosial itu secara seimbang.

Memang hidup ini dalam hubungan sosial kadang-kadang bertemu kadang-kadang berpisah. Karena demikian keadaannya, maka janganlah kita tajamkan kalau ada hal-hal yang membuat berpisah. Dengan demikian akan ada saja peluang untuk kembali rukun. Di tempat kerja pun akan ada berbagai pengalaman hidup yng dialami. Ada yang manis, kadang-kadang ada juga pengalaman yang pahit. Kedua pengalaman tersebut dapat dijadikan pelajaran dan latihan rokhani untuk selalu seimbang menerimanya. Bhagawad Gita juga menyatakan Tulya Nindastuti, artinya seimbang menerima yang mencaci dan yang memuji. Keduanya akan bermanfaat kalau kita dudukkan hal itu dengan seimbang.

Demikianlah berbagai pengalamn hidup dapat direnungkan setiap hari untuk dijadikan bumbu penyedap perjalan hidup kita. Memang benar pengalaman itu adalah guru terbaik.Tentunya kalau kita mau menjadikan pengalanitu sebagai guru. Artinya berbagai hal yang negatif jangan sampai terulang kembali, sedangkan hal-hal yang positif terus ditingkatkan. Dengan demikian pengalam hidup ini akan berguna bagi setiap orang yang mau berguru dengan pengalaman hidup nya. Pengalaman hidup dapat dijadikan media untuk menempa fisik dan mental yang tangguh menghadapi berbagai dinamika hidup, baik yang manis maupun yang pahit. Keduanya bagaikan bumbu bawang dan cabai membuat masakan jadi enak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar