Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 19 Maret 2013

Menyikapi Kematian dengan Kesadaran Spiritual

I Made Tisnu Wijaya

Selama manusia masih bernafas di dunia ini, maka kematian itu akan selalu membututinya. Karena kematian merupakan salah satu hukum yang tidak bisa dihindari, apa lagi untuk “dibeli” dengan angka-angka yang bernilai. Seperti yang dinyatakan dalam Sarasamuscaya XXVII, 12 menyatakan “Demikian pula halnya anak, cucu, buyut, keluarga, kawan, dan sesama hidup, bertemu Anda dengan semua mereka itu, dalam sesaat pula, bisa berakhir dengan perpisahan nantinya. Oleh karena itu janganlah sampai terlalu keras disaputi oleh cinta kasih.”

Dari penjabaran sloka di atas menjelaskan kalau ada pertemuan, maka akan ada perpisahan, begitu pula dengan kelahiran, maka akan ada kematian. Dalam Bhagavadgita juga dijelaskan kalau “Apa yang tidak ada, tak akan pernah ada (dan) apa yang ada tak akan berhenti ada, kesimpulannya keduannya telah dapat dimengerti oleh para pengamat kebenaran.”

Namun di jaman sekarang, banyak orang yang bersedih karena kematian. Kenapa? Karena banyak dari mereka merasa sangat kehilangan dengan orang-orang yang disayanginya. Dari rasa sayang itu muncullah yang namanya kenangan, yang membuat orang tersebut selalu ingat terhadap orang yang sudah tiada tersebut, sehingga mereka tidak mau menerima kenyataan kalau orang yang mereka sayangi itu sudah meninggal. Dalam kitab Manawa Dharmasastra dinyatakan, kalau pada jaman Kali Yuga, kematian akan ditakuti oleh semua orang dan memang benar seperti itu adanya. Seperti yang kita lihat di masyarakat banyak orang yang bersedih karena kehilangan seseorang yang ia sayangi. Tidak hanya orang, bahkan benda material sekalipun akan ditangisi bila hilang.

Apakah itu salah jika kita bersedih karena kehilangan? Tentu tidak, tapi yang lebih tepatnya adalah “keliru”. Kenapa? karena seperti yang kita ketahui bersama, semua yang ada di dunia ini tidaklah abadi adanya. Kitab Bhagavadgita II-14 menyatakan “Sesungguhnya, hubungannya dengan benda-benda jasmaniah, wahai Arjuna, menimbulkan panas dan dingin, senang dan duka; yang datang dan pergi, tidak kekal, terimalah hal itu dengan sabar, wahai Arjuna”. Badan kita ini sebenarnya hanyalah sebuah alat yang dipakai sebagai sarana untuk mencari kebahagiaan yang sejati itu. Jika sudah waktunya untuk mengganti badan yang sudah usang, maka akan diganti dengan yang baru, sama seperti orang yang memakai baju baru mengganti baju lamanya yang sudah usang dan kotor dengan baju yang lebih bersih dan wangi. Dalam kitab Sarasamuscaya juga menjelaskan tentang hakikat badan kasar atau stula sarira ini. “Tidak ada yang namanya pertemuan langgeng. Suatu saat bertemu, suatu saat tidak bertemu. Betapa tidak langgengnya itu. Pertemuan Anda dengan badan wadag anda inipun tidak langgeng pada hakikatnya. Tak usah pula menyebutkan yang lain-lainnya sebagai contoh, sedangkan dengan tangan, kaki dan lain-lainnya anggota badan kita sendiri pun pada akhirnya akan berpisah pula.”

Maka dari itu, tidak sepatutnya kita bersedih, karena semua itu hanyalah sebuah siklus kehidupan yang wajib dilewati oleh setip manusia. Yang paling penting, bagaimana cara kita sebagai manusia agar tidak lagi memakai baju baru berulang-ulang. Namun cukup dengan badan yang halus itu, kita bisa mencapai yang namanya Amor Ring Acintya.

Selain kematian yang menjadi problema di kalangan masyarakat sekarang, ketidakikhlasan dari sanak keluarga untuk sanggup merelakan orang yang sudah meninggal sangatlah sulit. Banyak dari mereka yang sampai saat ini masih saja teringat dengan orang yang meninggal tersebut, padahal sudah di upacarai dua tahun yang lalu. Sarasamuscaya XXVII, 17 menyatakan, “Adalah seseorang yang selalu ingat akan orang yang telah mati, juga benda yang sudah hilang itu. Besarlah kesedihan yang disebabkan olehnya. Dengan besarnya kesedihan itu ia menimbulkan penderitaan yang dibuat olehnya dengan mengingat-ingat kembali segala yang telah hilang itu. Orang yang demikian itu, dia membuat bencana sendiri namanya.” Dalam uraian sloka di atas dapat kita cermati, kalau orang yang masih teringat dengan mereka yang sudah tiada, maka orang tersebut sama saja dengan membuat lobang penderitaannya sendiri.

Ada pun cara untuk melepaskan kesedihan dan keterikatan itu seperti yang dijelaskan dalam kitab yang sama, tepatnya pada sloka 18 menyatakan, “Adapun obatnya kesedihan ialah sesuatu yang telah hilang itu, yang telah pergi ataupun meninggal, yang tidak bisa diharapkan lagi, semuanya itu tidak usah diingat-ingat lagi. Sebab kuatlah melekatnya di dalam hati, jika dijadikan pemikiran selalu. Semakin melekatlah ia semakin bertambah-tambahlah akibat jadinya. Itulah yang menimbulkan penderitaan. Oleh karena itu janganlah kejadian-kejadian terlalu dijadikan pikiran.” Dari sloka di atas kita disarankan agar kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, karena semua itu hanya akan menimbulkan penderitaan. Dalam Bhagavadgita II- 11 juga disebutkan, “Engkau berduka kepada mereka yang tak patut engkau sedihkan, namun engkau berbicara tentang kata-kata bijaksana. Orang bijaksana tak akan bersedih, baik bagi mereka yang hidup maupun yang mati.” Dan pada sloka 15 juga menjelaskan kalau “Sesungguhnya orang yang teguh pikirannya wahai Arjuna, yang merasakan sama antara susah dan senang, orang seperti inilah yang patut hidup kekal abadi.” Dari dua uraian sloka di atas menjelaskan, bahwa kalau setiap orang di dunia ini selalu mengatakan hal-hal yang baik, namun pada kenyataannya mereka tetap saja tidak bisa lepas dari keterikatan duniawi. Inilah perlunya masyarakat memahami ajaran-ajaran agama secara lebih mendalam dan terperinci, agar tidak terjadi penyimpangan-penimpangan dan yang terpenting adalah meningkatkan kesadaran masyarakat agar menjadi lebih bijaksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar