Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Senin, 04 Maret 2013

Menjadi Anak Suputra di Zaman Kali

Ida Ayu Putu Yuni Astina

Tuhan atau Brahman maupun Maya adalah penyebab dari dunia ini, sehingga segala yang ada di dunia ini eksis karena sifat ini diperoleh dari Brahman. Semua ini juga disinari oleh kecerdasan yang merupakan Brahman. Brahman sebagai awal, pertengahan dan akhir dari semua yang ada di dunia ini. semua yang ada ini adalah atas kuasa Brahman. Di zaman sekarang ini manusia banyak dikuasai oleh hal-hal material. Sehingga banyak manusia yang hanya sibuk mencari materi dan lupa pada Tuhan. Sesungguhnya masalah dalam kehidupan ini tidak terlepas dari adanya pergaulan, karena dengan siapa kita bergaul itu sangat mempengaruhi proses kerja panca indria kita.

Di zaman Kali Yuga ini jarang ditemukan orang yang tulus memberi tanpa mengharap balasan, dan di zaman ini ilmu pengetahuan dan kecerdasan spiritual tentang pemahaman mengenai agama sangat diperlukan, seperti yang dikatakan oleh Albert Eistein, bahwa ilmu tanpa agama adalah pincang dan agama tanpa ilmu adalah buta.

Kasih sayang yang abadi sesungguhnya hanyalah milik Tuhan, begitu pula kesempurnaan hanya milik Tuhan. Tidak ada manusia yang sempurna yang ada hanya manusia yang harus menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pergeseran nilai-nilai moral pada zaman Kali Yuga terus terjadi. Misalnya, sebagian anak muda zaman sekarang kebanyakan waktunya digunakan untuk hura-hura dan mencari perhatian dengan cara yang tidak benar. Sex bebas, perjudian, tawuran, dan cara hidup yang glamour membuat kekhawatiran besar para orang tua. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi putra-putri mereka, menginginkan mereka menjadi anak yang suputra, yang dapat mereka handalkan dan banggakan.

Pernahkah para generasi muda berpikir bagaimana cara membahagiakan orang tuanya? Mungkin ada yang menjawab pernah, tetapi belum dipraktekkan. Kita bisa memberikan kebahagiaan pada orang tua tidak hanya dengan materi, tetapi dengan membuat mereka bangga akan kesuksesan dan hal-hal positif yang dilakukan putra-putrinya. Itu adalah hal yang terpenting dan paling membahagiakan bagi orang tua, karena tidak ada hal yang membuat mereka sangat bahagia selain melihat putra-putri mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik dan tidak mengecewakan.

Mencoba berubah menjadi lebih baik itu memang sangat sulit, tetapi tidak akan ada orang yang melarang kita untuk berubah menjadi lebih baik, karena semua yang kita lakukan tergantung pada diri kita sendiri. Hidup di dunia ini hanya sementara, karena semua yang kita miliki tak akan pernah abadi, semua itu maya dan semua itu milik Tuhan.

Kesalahan, kekeliruan, rasa kecewa yang kita berikan kepada orang tua, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja, hendaknya kita perbaiki. Mengucapkan kata syukur dan maaf kepada Tuhan dan orang tua adalah tahap awal kita memulai lembaran baru yang lebih baik, bukan hanya sekedar teori, tetapi juga diterapkan dalam prakteknya. Katakan pada mereka (orang tua) yang sebagai perantara Tuhan mengadakan kita di dunia ini, “Ayah, Ibu … maaf, saya sebagai anak belum bisa membahagiakanmu, maaf, saya selalu mengecewakanmu, bimbing saya menjadi anak yang dapat Ayah dan Ibu banggakan, doa Ayah dan Ibu yang akan mengantarkanku ke jalan yang diridhoi Tuhan.”

Doa seorang Ayah dan Ibu akan mengantarkan seorang anak menuju kesuksesan, karena tidak ada cinta kasih yang tulus di dunia ini selain cinta kasih Tuhan dan orang tua. Sebagaimana disebutkan dalam kitab suci Veda yaitu: Asmanvati niyate sam rabhadhvam, Uttisthata pra tarata sakhyah, Atra jahama ye asan asevah, Sivan vayam uttaremabhi vajan (RgVeda X.53.8).

Artinya: ‘Ya para sahabat, dunia yang penuh dosa dan kesedihan sedang lewat bagaikan sebuah sungai, alirannya yang dihalangi oleh batu-batu besar yang berat. Tekunlah, bangkit, dan seberangilah, tinggalkanlah pengikut yang tak berbudi. Seberangilah sungai kehidupan ini untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran’.

Tuhan Yang Maha Esa dalam kitab suci Veda mengamanatkan supaya setiap orang berusaha untuk terus maju di jalan yang benar, bangkit untuk memperoleh keberuntungan, untuk memandang jauh ke depan. Kemajuan akan diperolah bila dilandasi dengan sarana berupa kebijaksanaan dan keberanian. Seperti yang disebutkan dalam kitab suci Veda, yaitu:
Udyanam te purusa navayanam, Jivatum te daksatatim krnomi. (Atharva Veda VIII.1.6). Artinya: ‘Wahai umat manusia, buatlah kemajuan selalu, janganlah mundur. Aku berikan kepadamu kedua-duanya daya-hidup (vitalitas) dan tenaga (energi).

Dengan ini dunia akan menjadi tentram, setidaknya di zaman Kali Yuga ini kita dapat membenahi diri sesuai dengan ajaran agama yang benar, dan menjadikan dunia ini penuh dengan rasa cinta kasih tanpa ada kekerasan dan tidak ada rasa merugikan ataupun dirugikan. Di zaman ini dana punia tidak hanya dilakukan dalam bentuk materi saja, tetapi dana punia berupa cinta kasih kepada orang tua dan sesama makhluk hidup juga sangat diperlukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar