Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Jumat, 23 November 2012

Wujudkan Sikap Menyama Braya dengan Pikiran Positif

I Nyoman Suamba

Menyama braya mempunyai makna yang luas, lugas dan vulgar. Kapan seseorang menggunakan kalimat tersebut, maka kalimat tersebut akan memberikan kesan positif. Seseorang dianjurkan untuk tidak menjadikan kalimat menyama braya ini sebagai wacana saja, akan tetapi tiap orang dituntut untuk merealisasikan wacana tersebut dengan berpikir yang positif. Dengan berpikir positif akan terwujud tindakan harmonis, seperti halnya jika kita melempar batu pada sebuah kolam, maka air kolam tersebut akan nampak membentuk bulatan gelombang yang harmonis dan searah, demikian juga apabila tiap jiwa mampu berpikir positif maka kita akan temukan kehidupan yang harmoni. Kehidupan yang sesuai aturan nilai-nilai etika dan moral, seperti bulatan gelombang yang membentuk satu lingkaran yang tidak berbenturan satu sama lain.

Seseorang akan merasa hidupnya bermakna, ketika kalimat menyama braya tersebut terucap dalam dialektika antara dua orang atau lebih. Dalam percakapan tersebut seseorang akan merasakan sentuhan, bahwa mereka diberi motivasi. Bahkan tidak hanya berhenti sampai di sana, mereka akan merasakan kehidupannya larut dalam hubungan persaudaraan meskipun di antara mereka bukanlah saudara se darah, akan tetapi mereka lebih merasakan sebagai orang yang diperlukan. Dalam prakteknya mereka merasa lebih bersemangat untuk hidup termasuk dalam menjalankan aktivitasnya sebagai seorang pekerja, karyawan, pegawai, pelajar, dan lain-lain.

Berpikir positif tentang menyama braya adalah sebuah pendewasaan yang direproduksi oleh kesan-kesan atas wasana-nya terdahulu (Sankalpa) dari suksma sarira kemudian terpancar dalam angga sarira terwujud dalam bentuk karmawasana. Untuk itu diperlukan berpikir positif, namun apabila ada banyak orang yang melempar batu pada sebuah air kolam tadi, maka akan nampak banyak riak gelombang yang tidak sepaham dan tidak harmonis. Demikian juga, jika tiap orang hanya mempertahankan egoisme semata dan tiap orang merasa sebagai pembenar, maka akan terjadi benturan-benturan dan tidak akan ditemukan kehidupan yang selaras dan terpadu dalam sebuah kelompok masyarakat. Ini disebabkan karena tiap orang bertindak atas kebutuhannya sendiri untuk kepuasan pribadi semata.

Dalam mewujudkan kelompok keluarga yang harmonis diperlukan pendewasaan diri cermin dari berpikir positif. Pendewasaan diri ini dapat terwujud bila tiap orang mengendalikan dirinya sebagai purusha. Meminjam istilah Bechofen dalam teorinya tentang evolusi keluarga, bahwa tiap orang, baik laki-laki maupun perempuan harus menjadi purusa, sehingga diketemukan keutuhan klennya dalam mengendalikan keluarga sebagai keluarga inti. Dalam pemikiran tersebut tiap orang dipandang sama dalam kedudukan dan derajatnya sebagai Purusa, di mana maksudnya tiap orang hendaknya menjadikan hakekat dirinya, sadar bahwa jiwa adalah hakekat yang sama dan tidak pernah berbeda, ia adalah wasudewo kutum bakem, bahwa kita adalah bersaudara. Dengan kesadaran tersebut, maka tiap orang akan melihat semua hal sama sebagai jiwa-jiwa percikan Tuhan dan perbedaan itu dimengerti sebagai satu kepribadian terwujud dalam berkarma.

Seperti pekerja dalam sebuah kantor terdapat seorang pimpinan dan masyarakat yang dipimpin. Seorang pemimpin dalam hal ini adalah sebagai purusa, pemimpin dalam pikiran yang positif mempunyai kedewasaan diri, dan mampu mengejewantahkan kedewasaan itu pada tiap insan. Pemimpin dalam karakternya tidak saja menjadikan dirinya puas tanpa mempedulikan perasaan yang dipimpin, ia tidak semena-mena terhadap mereka yang dipimpin, melainkan mengayomi. Dengan demikian mereka yang dipimpin akan menyadari diri sebagai sosok yang profesional, sehingga mampu memotivasi pribadi dalam mewarisi daya kepemimpinan pemimpin, dengan demikian akan terekspresikan jiwa pimpinan dalam kekompakan kerjasama dengan yang dipimpin.

Berpikir positif adalah berpikir yang sama, di mana seorang pimpinan harus mampu berlaku sama dan melihat mereka yang dipimpin sebagai seseorang yang memerlukan bimbingan. Pemimpin hendaknya berusaha membawa suasana kepemimpinannya menjadi sejuk, nyaman dan penuh keterbukaan. Dengan demikian terwujud suasana menyama braya yang kental, seorang bawahan tidak merasa canggung, gugup, dan sejenisnya, demikian juga seorang pemimpin mampu menjadikan dirinya objek atau purusa, sekaligus ayah, dimana ia terkendali dan mampu mengendalikan. Dengan berpikir positif seorang pemimpin akan nampak berbeda dalam pengertian berkarma. Dengan perbedaan ini seorang bawahan akan merasa dirinya diperlukan, dalam suasana demikian bawahan akan bekerja penuh tanggung jawab dan tidak menganggap enteng tugas yang diberikan pimpinan. Sikap yang skeptis juga adalah cerminan dari berpikir positif, sikap skeptis atau naluri keraguan seorang pimpinan akan memberi tambahan warna dalam sikap menyama beraya, sikap ragu akan memberikan pilihan sebagai sebuah pertimbangan bagi yang dipimpin.

Sikap skeptis ini juga akan membentuk prilaku berpikir positif dalam kaderisasi pemimpin. Dengan demikian tiap orang akan mempertimbangkan setiap masalah yang ia temukan, sikap skeptis ini penting bagaimana setiap orang dituntut untuk berpikir positif dan orang lain merasa terlibat dalam pemikiran yang diwujudkan un tuk membuat perhitungan cermat di dalam mengatasi keragu-raguannya itu.

Dalam konsep Tri Pramana misalnya, dengan sikap skeptis tersebut tiap orang akan mengajukan pertanyaan dan menduga-duga disana ada asap pasti ditempat sana terdapat api. Ini semacam cara kerangka berpikir logis di dalam menghasilkan suatu keputusan (kesimpulan). Demikian juga dengan sikap skeptis, maka tiap orang jadi ingin membuktikan apa yang menjadi pemikirannya yang positif coba untuk dibuktikan. Orang yang skeptis akan memadukan kebenaran-kebenaran yang ia temukan dan berusaha untuk menggunakan rujukan sastra sebagai acuannya. Sikap skeptis ini telah menjadikan seseorang lebih dewasa dan berwawasan ke depan.

Sikap skeptis bukanlah sekedar sebuah keraguan melainkan sikap wiweka dalam menentukan pemikiran yang positif. Dengan sikap skeptis tiap orang akan terpacu dalam aktivitas positif menuju berpikir positif dalam wujud menyama braya. Berpikir positif adalah berpikir untuk semua orang dan berpikir dari semua aspek, dalam hal mana tiap orang tidak mempunyai pemahaman yang sama tentang sesuatu hakekat yang di wacanakan. Dengan berpikir positif segala perbedaan akan dapat dimengerti sebagai suatu proses pendewasaan dalam mencari jati diri untuk menemukan kebenaran tertinggi, namun dengan keraguan yang ada mereka berusaha memaknai hidup ini sebagai satu titik dimana ia mulai melangkah berusaha mencari kebenaran itu melalui tahapan-tahapan. Ibarat dua aliran pikiran yang selalu berbeda dan tidak akan pernah sama, dan mulai menemukan makna-makna tertinggi dalam pencarian jati diri yang sejati luluh dalam kondisi menyama braya dengan berpikir positif.

Khusus mengenai perbedaan-berbedaan dalam kegiatan karma namun pada hakekatnya semua insan adalah jiwa yang sama dari Tuhan. Pemikiran demikian mesti diwarisi kaum Hindu, sehingga generasi Hindu sampai pada kehinduannya, dimana dalam Hindu terdapat banyak kepercayaan, cara sembahyang dan bentuk pemujaan namun Hindu luluh sebagai pemikiran yang sinkretis yang merangkum semuanya. Demikian kaum Hindu mesti merangkum semua kehinduannya dengan berpikir positif akan terwujud rasa menyama braya dan melupakan harapan tentang kebaikan dan keburukan karena dalam tatanan inseklopedia Hindu tidak sekedar melihat baik dan buruk akan tetapi mencari keseimbangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar