Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Rabu, 19 September 2012

Dewi Sri Dipuja untuk Motif Kesejahteraan

Gede Agus Budi Adnyana

Perubahan adalah sesuatu hal yang pasti, dengan demikian hidup pastilah berubah, demikian juga dengan paradigma yang berangkat dari satu konsep ke konsep yang lainnya. Agama dan prakteknya juga harus diinterpretasikan sesuai dengan perubahan jaman dan perkembangan yang ada. Dharma sastra pun mengikuti perubahan, karena itulah Parasara akan mengambil alih peranan Kautilya Dharma sastra, di jaman Kali ini. sebab memang demikianlah perubahan yang menghendakinya.

Kehidupan agama agraris adalah ketika masyarakatnya sebagian besar menggantungkan penghidupan dalam sisi pertanian. Secara otomatis, maka seluruh bentuk tata cara pertanian, akan mengikuti pola ritual masyarakat kala itu, sehingga salah satu hasilnya adalah pemujaan terhadap Ibu Laksmi atau Dewi Sri.

Secara harfiah, Dewi Sri berarti “Kesuburan, Keselamatan, Rejeki, dan penghidupan”. Oleh masyarakat agraris, maka hal itu diinterpretasikan dengan “padi” makanan pokok masyarakat kala itu dan pekerjaan utama masyarakat kala itu. Jadilah Ibu Sri dipersonifikasikan dengan sebuah pralambang berupa padi yang dibentuk sedemikian rupa, dan dipuja dengan sarana persembahan tepat di tengah sawah. Petani juga membuat pralambang itu dengan cara ngelinggihang, di sebuah plangkiran yang tentu saja di atasnya adalah padi. Jadi itulah kesuburan, keselamatan, rejeki dan keselamatan serta penghidupan bagi masyarakat tradisional yang sebagian besar adalah petani.

Sekarang, dari tradisional menuju pada modern dan kembali pada post modern. Dari agraris kemudian berubah menuju industri, namun dalam perkembangan industri yang maju itu, maka seluruh seluk-beluk pemaknaan tetap dipergunakan tanpa meninggalkan esensi aslinya. Bahasa sederhananya adalah begini, penguasaha atau masyarakat yang hidup dalam perindustrian, tentu akan berbeda paradigma melihat keselamatan, penghidupan dan juga rejeki. Bagi mereka uang adalah keselamatan, mesin adalah penghidupan, dan rejeki adalah saham yang dimenangkan. Atau toko-toko yang berjejal banyaknya.

Maka Dewi Sri pun dipuja dengan konotasi hal yang demikian. Dewi Sri tetap dipuja, sebagaimana ibu pemberi keselamatan dan penghidupan. Kemudian upacara itu pun seakan sebuah formalitas belaka yang hanya akan dijalankan “pang kwala pragat”. Yang penting berjalan. Maka agama industri adalah agama yang tidak berbelit-belit dalam berupacara. Banten persembahan pun dikerjakan bukan lagi dengan tata cara sosial, melinkan individualistik dengan cara membeli banten.

Dalam agama Industri, maka sebuah prinsip ekonomi sangat dikedepankan. Yakni bermodalkan sedikit-dikitnya, namun menghasilkan untung yang besar. Semakin mencari solusi untuk dapat melakukan upacara agama dengan biaya yang sangat minim. Jaman industri sangat mengedepankan sebuah persaingan. Dengan demikian, maka yang harus diperhatikan adalah hemat energi, hemat biaya serta waktu. Dengan tujuan beragama agar jangan memberatkan namun beragama dengan seefisien mungkin, bahkan bila perlu mendapatkan untung besar. Penyelewengan akan hal inilah yang sering membawa pada sebuah anggapan banten diklaim sebagai barang komuditi layaknya barang dagangan lainnya.

Lebih tepatnya, inilah yang cenderung mengarah pada sebuah “agama pasar”. Dalam beragama semacam inilah sebuah pehaman perlu kembali ditingkatkan, agar jangan sampai merusak tatanan agama yang sudah baik. Agama industri dipandang sebagai sebuah solusi yang terlalu merendahkan agama itu sendiri.

Oleh sebab itu, maka sebagian besar golongan cendikiawan tidak sependapat dengan hal ini. Perubahan memang perlu, namun bukan berararti menjadikan agama Hindu sebagai agama pasar. Maka timbullah agama Modern dan Post Modern yang lebih mengarah pada pemahaman tattwa.

Agama Modern dan Postmodern

Seiring dengan perkembangan tentang pemahaman mengenai agamanya, maka ini akan membawa pada pola prilaku masyarakat yang secara nyata akan berdampak pada aktifitas sosial religius mereka. Dengan kata lain, prilaku ini yang secara ekonomis akan berdampak pada sebuah tampilan luar beragama masyarakat.

Agama modern adalah sebuah keyakinan yang berjalan dengan filsafat agama yang benar, namun tetap melakukan aktifitasnya dengan seefisien mungkin. Bukan lagi melakukan penyederhanaan upacara, namun memang mengambil jenis tingkatan nista yang sudah digariskan leluhurnya. Dengan demikian efisien ini akan semakin terarah dan bukan semena-mena.

Adanya bermunculan aliran New Age, yang secara signifikan akan membawa pada sebuah pemahaman tentang tattwa namun dengan kegiatan upacara yang minim. Manusia modern cenderung mencari sebuah jalan spiritualitas yang menjadikan diri mereka merasa nyaman, tentram dan jauh dari ketakutan yang disebabkan oleh teror secara niskala. Berbeda halnya dengan yang terjadi dalam agama primitive.

Laku masyarakat tentang agamanya ini akan membawa pada sebuah pencarian akan agama yang lebih membawa pada sebuah kebutuhan akan ketenangan hidup. Bukan lagi membawa manusia pada sebuah rutinitas yang didasarkan atas ketakutan akan sanksi keyakinan. Namun pelaksanaan agama lebih menekankan pada sebuah pencarian akan ketenangan hidup dan kedamaian hati.

Agama modern senantiasa melakukan kegiatannya hanya berdasarkan kebutuhan, bukan karena sebuah tanggung jawab. Dengan demikian, maka akan ada banyak sekali manusia modern yang beragama berdasarkan kebutuhan hidupnya, bukan karena tuntutan tanggung jawab.

Seseorang butuh akan rejeki, kehidupan dan keselamatan, maka dia akan memuja Dewi Sri sebagaimana mestinya dalam bentuk Samadhi. Bahkan dalam survey yang dilakukan veda’s sangga community (2012) bahwa umat Hindu yang bergerak di bidang industri justru lebih tekun memohon keselamatan dan dimudahkan rejekinya kepada Dewi Sri dengan cara bermeditasi. Mereka memandang pemujaan terhadap Dewi Sri adalah kebutuhan agar keselamatan tetap terjaga dan rejeki mereka dapat terus mengalir (kebutuhan hidup).

Ini akan berbeda dengan pola laku pemujaan Dewi Sri dari jaman agraris, yang sebagian besar ditutupi dengan rasa takut. Takut akan murkanya sang Dewi yang nantinya akan membawa pada musim panceklik. Jarang ada laku agama dengan tata cara meditasi yang dalam dan hening, sebagian besar tenggelam dalam larutnya rentetan upacara yang berjibun jumlahnya.

Lalu apakah nyambutin Sri, dalam tata cara agama agraris dahulu harus ditinggalkan? Jawabannya tidak, tetapi sesuaikan dengan perkembangan jaman. Jika pembaca yang budiman adalah petani, maka lakukan apa yang sudah digariskan layaknya pemujaan Sri dalam lontar widhi sastraparamatattwa, tanpa rasa takut dan lakukan itu sesuai layaknya kebutuhan hidup seperti makan dan minum.

Sedangkan untuk pembaca yang bergerak di bidang industri, apa pun bentuknya, maka jangan meninggalkan pemujaan kepada Dewi Sri. Meskipun tidak menggunakan padi sebagai pralambangnya dan ditempatkan di tempat suci, tetapi, buatlah plangkiran di tempat usaha Anda dengan menempatkan foto dan gambar Dewi Laksmi atau Sri di sana. Kemudian untuk mereka yang bekerja di bidang pemerintahan tidak menggarap sawah dan ladang, maka di tempat penyimpanan beras, setidaknya ada canang dengan dupa, sebagai persembahan kepada Dewi Sri, sebab beras adalah makanan utama kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar