Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Kantor Pusat: Jalan Pulau Belitung Gg. II No. 3 - Desa Pedungan - Denpasar BALI 80222. Telepon & Faks: (0361) 723765
HP 081 338 629 606 -- 082 146 000 640 Diterbitkan oleh: Yayasan Dharmasastra Manikgeni

Selasa, 10 Juli 2012

PERANG MELAWAN HAWA NAFSU

I GN Nitya Santhiarsa

“Karena itu, O Arjuna, kendalikanlah pancainderamu dan basmilah nafsu yang penuh dosa, perusak segala kebijaksanaan dan kabajikan”
Bhagawadgita III-41
Kama (hawa nafsu) pastilah ada pada setiap orang. Kama inilah menggerakkan orang untuk melakukan atau berbuat sesuatu, yaitu untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masing-masing. Kama merupakan suatu kekuatan atau energi yang membuat orang hidup dinamis, hidup lebih bergairah dan bersemangat. Kama jika dipandang dari aspek kemanusiaan, merupakan hal yang alamiah, manusia sejak lahir sudah dilengkapi dengan kama, kama merupakan bagian integral dari sosok manusia.
Jadi, kama adalah sesuatu yang netral adanya. Kama jika dipandang dari sudut moral, kama ada yang bersifat positif yaitu kama yang terkendali. Kama yang dikuasai oleh dharma, tidak masalah kama itu besar atau kecil, asalkan terkendali oleh kebijaksanaan, maka kama ini tergolong suatu hal yang baik dan benar. Sebaliknya, jika kama menjadi suatu hal yang buruk jika kama tersebut tidak terkendali oleh kebijaksanaan dan kesadaran. Kama yang tidak terkendali inilah yang dimaksud dan menjadi bagian dari Sadripu, enam musuh tersembunyi yang ada pada setiap orang. Lima lainnya adalah kroda (emosi kemarahan), loba (ketamakan), moha (kebingungan), mada (kemabukan) dan matsarya (kedengkian).

Untuk mengatasi atau mengendalikan kama dibutuhkan kekuatan srada dan pengendalian diri yang baik. Hal ini dapat kita kaji dari analogi berikut. Orang yang memiliki cita-cita, tekad dan ambisi yang besar, serta hawa nafsu yang besar, untuk memuaskan dirinya atau agar mampu meraih apa yang dibutuhkan dan diinginkan maka dia harus punya ketahanan tubuh yang prima sekaligus mental yang lebih kuat dibandingkan orang pada umumnya, ditambah lagi punya kemampuan disiplin diri yang baik. Coba bayangkan sebuah mobil yang besar seperti bus atau truk, kendaraan yang besar dan berat ini untuk dapat melaju dengan baik memerlukan daya yang lebih besar dan juga memerlukan alat pengendali atau pengekang yang lebih kuat pula, dibandingkan dengan mobil-mobil yang lebih kecil ukurannya. Analogi yang lain, untuk tekanan yang lebih tinggi pada suatu bejana tertutup maka diperlukan dinding yang lebih kuat agar dapat menahan tekanan tersebut, sehingga alat pun berfungsi dengan baik.

Untuk meningkatkan kama dalam diri sudah tentu lebih mudah bila dibandingkan bagaimana meningkatkan kemampuan pengendalian diri. Kama dalam Sarasamuccaya diibaratkan sebagai api, jika di tambahkan sedikit minyak ke dalamnya, maka dengan cepat api akan membesar, jika api sudah membesar, masalah pun mulai muncul, yakni betapa sulitnya mengendalikan api yang sudah membesar. Fenomena seperti inilah bagaimana setiap orang berperang melawan kama yang ada dalam dirinya. Jika manusia kalah dan dikuasai oleh hawa nafsunya maka dia akan musnah tetapi bila dia mampu mengendalikan kobaran api hawa nafsunya niscaya dia selamat sampai tujuan.

Perang melawan hawa nafsu? Dari percakapan antara Sri Krisna dan Arjuna (Krisnarjuna samwada) yaitu tertulis pada Bhagawadgita sloka III-36,37 dimana Arjuna bertanya kepada Sri Krisna tentang apa penyebab orang-orang berbuat dosa walaupun ditentang oleh hatinuraninya. Hal ini dijawab oleh Sri Krisna, bahwa penyebab orang berbuat dosa adalah karena orang itu dikuasai oleh nafsu (kama) dan amarah (kroda) yang lahir dari sifat rajas guna, keduanya merupakan musuh setiap orang. Adapun tafsir dari sloka ini adalah setiap orang mempunyai kewajiban (swadharma) untuk memerangi musuh-musuh yang ada diri manusia, di antaranya hawa nafsu.

Bagaimana upaya kita untuk memerangi hawa nafsu? Sri Krisna dalam Bhagawadgita telah memberikan cara atau upaya untuk melawan dan mengendalikan hawa nafsu, yaitu pertama, dengan disiplin melakukan kebiasaan yang baik (abhyasa) dan yang kedua berusaha melaksanakan usaha pembebasan diri atau tidak terikat pada keinginan (wairagya).

“Tidak dapat diragukan lagi, O, Arjuna, pikiran itu berubah-ubah, sukar ditaklukkan, tetapi ia bisa dikendalikan dengan membiasakan diri dan ketidakterikatan.” (Bhagawadgita-VI-35).

Pengendalian nafsu dapat dilakukan melalui pengendalian pikiran, pikiran itu seperti disebutkan pada sloka di atas mudah berubah-ubah dan liar, mudah dipengaruhi oleh indera-indera. Dengan pengendalian pikiran, pikiran menjadi lebih tenang dan kesadaran terjaga, dengan demikian pengaruh hawa nafsu dapat diatasi oleh pikiran yang sadar. Kebiasan yang baik itu antara lain dengan rutin menjalankan puja, doa,yoga, dhyana dan japamantra, pada waktu tertentu menjalankan tapabrata seperti puasa, melaksanakan dharmadana dan bertirtayatra mengunjungi tempat suci.

Usaha kedua, yaitu usaha pembebasan diri antara lain dengan cara perenungan diri (refleksi diri) tentang hakikat hidup, menjalankan pola hidup sederhana, dan mengamalkan ajaran bekerja dengan ikhlas seperti yang dianjurkan dalam Bhagawadgita. Perang melawan hawa nafsu sudah dilakukan secara kolektif sejak dahulu oleh umat Hindu, yaitu melalui perayaan rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan. Selama tiga hari menjelang Galungan, umat Hindu mengalami godaan hawa nafsu, jika berhasil mengatasi godaan tersebut, maka umat Hindu bersukacita merayakan kemenangan perang melawan hawa nafsu, di mana hari itu disebut hari kemenangan atau hari Galungan.

Demikianlah, perang melawan hawa nafsu sebenarnya sudah menjadi bagian dari tradisi umat Hindu, namun perlu diingat hawa nafsu itu bukanlah musuh yang mudah dikalahkan, hawa nafsu itu selalu ada, dan tetap menjadi ancaman bagi siapa pun jika tidak dapat dikendalikan. Satu pesan bijak yang perlu diingat kita semua “Sa sukhi yas trsnaya mucyate” yang artinya, dia yang tidak dikuasai hawa nafsunya ialah orang yang beruntung. Om Namo Siva Buddhaya!

(I GN NItya Santhiarsa- Ketua Forum Peduli Dharma)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar